INDUSTRY.co.id - Jakarta – Industri pulp dan kertas Indonesia masih memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya di pasar global. Pemerintah dan pelaku industri pun mulai memperkuat kolaborasi guna meningkatkan produktivitas, investasi, dan daya saing di tengah ketatnya persaingan serta dinamika perdagangan internasional.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Kongres Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) 2026 yang berlangsung pada 3–4 November 2026 di Jakarta. Dalam forum tersebut, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyoroti masih besarnya ruang peningkatan kapasitas industri nasional.
 
Sarmuji mengungkapkan, tingkat utilisasi industri agro pada kuartal I 2026 baru mencapai 60,78%. Padahal, utilisasi tersebut berpeluang ditingkatkan hingga 80% atau lebih apabila berbagai kendala yang dihadapi pelaku usaha dapat diselesaikan.
 
Optimisme industri juga ditopang Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang mencapai 54 pada Oktober 2026, tertinggi dalam 31 bulan terakhir. Sementara itu, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) tercatat sebesar 53,77.
 
"Momentum ekspansi ini harus kita jaga bersama agar industri nasional bisa tumbuh lebih tinggi lagi," ujar Sarmuji saat membuka Kongres APKI 2026 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (3/11/2026).
 
Dari sisi kinerja, industri pulp dan kertas mencatatkan capaian yang cukup menjanjikan. Produksi pulp nasional pada 2025 mencapai 11,69 juta ton dengan kapasitas terpasang 14,48 juta ton per tahun. Adapun produksi kertas mencapai 18,65 juta ton dari kapasitas terpasang 25,37 juta ton per tahun.
 
Nilai ekspor industri pulp dan kertas bahkan mencapai sekitar US$ 8,2 miliar sepanjang 2025. Tren positif berlanjut pada semester I 2026, dengan ekspor pulp sebesar US$ 1,68 miliar dan kertas US$ 2,35 miliar.
 
Industri ini juga memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional dengan menyerap sekitar 290.000 tenaga kerja langsung dan 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung.
 
Ketua Umum APKI Suhendra Wiriadinata mengatakan, posisi Indonesia dalam rantai pasok pulp dan kertas global merupakan kekuatan strategis yang harus terus dipertahankan.
 
Namun, menurutnya, daya saing industri tidak cukup hanya mengandalkan kapasitas produksi. Efisiensi, penguasaan teknologi, inovasi, kualitas sumber daya manusia, serta pengembangan produk bernilai tambah menjadi faktor penting untuk memenangkan persaingan.
 
Suhendra juga menekankan pentingnya kepastian kebijakan, khususnya terkait ketersediaan energi, bahan baku, perdagangan internasional, dan akses pasar.
 
"APKI senantiasa siap menjadi mitra pemerintah. Kemajuan industri membutuhkan kebijakan yang memberikan kepastian, dunia usaha yang terus berinovasi, serta komunikasi terbuka agar tantangan industri dapat diselesaikan bersama," katanya.
 
Ke depan, pemerintah mendorong pengembangan produk hilir seperti kemasan, tisu, hingga serat rayon untuk industri tekstil. Penguatan rantai pasok kertas daur ulang, ekonomi sirkular, dan dekarbonisasi juga menjadi agenda penting.
 
Melalui Kongres APKI 2026, pemerintah dan pelaku industri berharap sektor pulp dan kertas semakin produktif, mampu memperluas pasar ekspor, serta meningkatkan nilai tambah produk nasional di tengah persaingan global.