INDUSTRY.co.id - JAKARTA – PT Pupuk Indonesia (Persero) mempercepat hilirisasi industri kimia melalui pembangunan pabrik Soda Ash dan Amonium Klorida di Petrokimia Gresik, Jawa Timur. Proyek ini ditargetkan menjadi salah satu motor substitusi impor bahan baku industri sekaligus memperkuat integrasi rantai pasok pupuk nasional.

Pengembangan pabrik tersebut ditandai dengan penandatanganan kontrak Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) antara PT Petrokimia Gresik dan PT Rekayasa Industri (Rekind). Pabrik ini menjadi proyek Soda Ash kedua di lingkungan Pupuk Indonesia Group setelah sebelumnya pengembangan fasilitas serupa dilakukan melalui Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim).

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan, hilirisasi menjadi strategi penting untuk mengurangi ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi di dalam negeri.

“Melalui hilirisasi, kita memperluas kemampuan Indonesia menghasilkan bahan baku industri, mengurangi ketergantungan impor, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri,” ujar Rahmad dalam keterangan tertulis, Sabtu (31/10/2026).

Urgensi proyek ini tercermin dari besarnya ketergantungan Indonesia terhadap impor Soda Ash. Sepanjang 2025, kebutuhan nasional terhadap bahan kimia tersebut masih sepenuhnya dipenuhi dari luar negeri, dengan volume mencapai sekitar 1,05 juta ton senilai US$225 juta.

Pabrik Soda Ash Petrokimia Gresik dirancang memiliki kapasitas produksi 300.000 ton per tahun. Dengan kapasitas tersebut, fasilitas ini berpotensi menggantikan sekitar 29% volume impor nasional dan menghemat devisa hingga Rp1,4 triliun per tahun.

Selain Soda Ash, proyek ini juga akan memproduksi Amonium Klorida dengan kapasitas 300.000 ton per tahun. Produk tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk NPK sehingga membuka peluang integrasi lebih dalam antara industri kimia dan sektor pupuk.

Langkah ini sekaligus memperkuat strategi diversifikasi bisnis Pupuk Indonesia di tengah tuntutan peningkatan efisiensi industri dan penguatan ketahanan bahan baku nasional.

“Pupuk Indonesia mengemban dua mandat strategis yang saling memperkuat, yaitu menjaga ketahanan pangan dan membangun kedaulatan industri nasional. Kedua mandat ini menjadi arah bagi setiap investasi, inovasi, dan langkah transformasi yang kita jalankan,” kata Rahmad.

Di luar target substitusi impor, proyek Soda Ash dan Amonium Klorida Petrokimia Gresik juga diarahkan menjadi bagian dari transformasi industri rendah karbon. Pabrik ini dirancang memanfaatkan sekitar 174.000 ton karbon dioksida (CO2) per tahun yang dihasilkan dari proses produksi pupuk.

Pemanfaatan CO2 sebagai bahan baku Soda Ash menjadi upaya mengubah emisi industri menjadi produk bernilai ekonomi. Strategi tersebut juga sejalan dengan agenda dekarbonisasi Pupuk Indonesia menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060.

Rahmad mengatakan, penerapan teknologi rendah karbon tidak hanya ditujukan untuk menekan emisi, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru melalui inovasi industri.

“Melalui Proyek Soda Ash dan Amonium Klorida ini, kami ingin menunjukkan bahwa inovasi dapat dikembangkan menjadi kemampuan industri, dan bahwa teknologi rendah karbon dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata,” ujarnya.

Petrokimia Gresik sebelumnya telah menguji teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) melalui fasilitas pilot plant. Hasil pengujian menunjukkan efisiensi penangkapan CO2 mencapai 91,48% hingga 97,79%, memperlihatkan potensi pemanfaatan karbon dari proses industri sebagai bahan baku produk kimia.

Pupuk Indonesia menempatkan proyek ini sebagai bagian dari agenda industrialisasi melalui pembangunan dan revitalisasi delapan pabrik dalam lima tahun ke depan. Strategi tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas produksi, memperluas hilirisasi, serta meningkatkan daya saing industri nasional.

Selain Petrokimia Gresik, Pupuk Indonesia juga mengembangkan pabrik Soda Ash melalui Pupuk Kaltim di Bontang, Kalimantan Timur. Kedua fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi gabungan mencapai 600.000 ton per tahun atau setara sekitar 60% volume impor Soda Ash nasional.

Jika kedua pabrik beroperasi penuh, Pupuk Indonesia memperkirakan penghematan devisa dapat mencapai sekitar Rp2 triliun per tahun. Dengan demikian, proyek ini berpotensi menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat industri kimia domestik sekaligus mengurangi tekanan impor bahan baku.

“Momentum ini menjadi kesempatan bagi Pupuk Indonesia Group untuk menunjukkan bahwa industri pupuk mampu menjadi penggerak transformasi industri nasional melalui penguatan pasokan bagi pertanian, perluasan hilirisasi, dan pengembangan industri rendah karbon yang berdaya saing,” tutur Rahmad.