INDUSTRY.co.id, Jakarta-Tidak semua wartawan memulai perjalanan dari ruang redaksi atau bangku pendidikan jurnalistik. Stanislaus Jumar Sudiyana justru mengawali langkahnya sebagai operator telepon di Radio Sonora. 

Seperempat abad kemudian, ia berkesempatan berdiri di lingkungan Istana Kepresidenan, menyaksikan dari dekat dinamika kekuasaan. Sebuah perjalanan panjang yang bukan hanya bicara tentang karier, tetapi juga ketekunan, kemauan belajar, dan keberanian menjaga integritas.

Ada suara-suara yang dahulu hanya singgah melalui sambungan telepon. Ada percakapan yang datang dan pergi, menghubungkan radio dengan dunia di luar ruang siaran. Di balik semua itu, seorang anak muda bernama Stanislaus Jumar Sudiyana menjalani pekerjaannya sebagai operator telepon di Radio Sonora.

Saat itu, mungkin belum terbayang bahwa suatu hari ia akan menjadi bagian dari mereka yang memburu berita, berdiri di tengah kerumunan wartawan, dan melaporkan berbagai peristiwa dari lingkungan Istana Kepresidenan.

Namun, perjalanan hidup tidak selalu mengikuti peta yang telah disiapkan. Ada kesempatan yang datang tanpa diduga, ada proses panjang yang harus dijalani, dan ada ketekunan yang perlahan membuka pintu-pintu baru.

Seperempat abad kemudian, perjalanan itu menemukan bentuknya dalam sebuah buku berjudul Operator Telepon Jadi Wartawan Kepresidenan: 25 Tahun Berkarya di Radio Sonora, terbitan Jembatan Literasi Nusantara.

Buku yang disunting doktor Ilmu Komunikasi Algooth Putranto tersebut bukan semata-mata dokumentasi perjalanan profesi. Ia menjadi semacam catatan perjalanan batin seorang jurnalis yang tumbuh dari pekerjaan sederhana, menapaki berbagai tahapan, hingga memperoleh kesempatan menjalankan tugas peliputan di salah satu pusat kekuasaan negeri ini.

Kisah tersebut dibicarakan dalam diskusi dan bedah buku di Markas Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya, Jakarta, Jumat (30/10/2026) sore.

Pertemuan itu menghadirkan suasana yang lebih dari sekadar seremoni peluncuran buku. Ada penghargaan terhadap perjalanan panjang, percakapan tentang masa depan pers, sekaligus refleksi mengenai sesuatu yang kerap menjadi ujian paling mendasar bagi seorang wartawan: integritas.

Meniti jalan tanpa jalan pintas

Dalam profesi jurnalistik, perjalanan seseorang sering kali dilihat dari tempat ia bertugas, siapa yang pernah diwawancarai, atau peristiwa besar apa yang pernah diliputnya.

Namun, di balik setiap pencapaian selalu ada cerita yang jarang terlihat. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, kesempatan yang harus diperjuangkan, serta proses belajar yang tidak mengenal garis akhir.

Jumar memahami betul bahwa perjalanan dari operator telepon menjadi wartawan tidak berlangsung dalam semalam.

Ia melewati proses, mengumpulkan pengalaman, dan menjalani setiap tahapan dengan kesungguhan. Tidak ada lompatan ajaib yang tiba-tiba mengantarkannya ke ruang peliputan.

Pada halaman 115 bukunya, ia menuliskan kalimat yang menjadi gambaran perjalanan tersebut: "Semua itu saya jalani tanpa jalan pintas."

Kalimat sederhana itu sesungguhnya menyimpan pesan yang cukup dalam. Bahwa keberhasilan bukan hanya soal mendapatkan kesempatan, melainkan juga tentang kesiapan ketika kesempatan itu datang.

Ketua PWI Jaya Kesit Budi Handoyo melihat perjalanan Jumar sebagai gambaran dedikasi seorang wartawan. Ia mengapresiasi sikap Jumar yang tidak memilih medan liputan dan tidak menawar waktu ketika harus menjalankan tugas jurnalistik.

Menurut Kesit, kesiapan semacam itu merupakan bagian penting dari tanggung jawab profesi. Sebab, wartawan tidak selalu bekerja dalam keadaan yang nyaman. Ada tugas yang menuntut kehadiran pada waktu-waktu sulit, ada peristiwa yang harus segera dilaporkan, dan ada kepentingan publik yang tidak bisa menunggu.

Sementara itu, Direktur Radio Sonora Viliny Lesmana menyampaikan selamat atas penerbitan buku tersebut. Ia menyebut Jumar sebagai sosok yang memiliki "paket lengkap seorang jurnalis" dan dapat diandalkan.

Apresiasi itu sekaligus menjadi gambaran hubungan panjang antara seorang pekerja media dengan institusi yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya selama seperempat abad.

Dekat dengan kekuasaan, tetap menjaga jarak

Salah satu bab penting dalam perjalanan Jumar adalah pengalamannya meliput Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada periode 2012–2014.

Meliput dari lingkungan Istana Kepresidenan tentu menjadi pengalaman tersendiri. Di sana, wartawan berhadapan dengan pusat pengambilan keputusan, mengikuti dinamika pemerintahan, serta menyaksikan langsung berbagai peristiwa yang menjadi perhatian masyarakat.

Namun, berada dekat dengan kekuasaan juga menghadirkan tanggung jawab yang tidak ringan.

Wartawan harus mampu membedakan akses dengan kedekatan pribadi. Kesempatan memperoleh informasi tidak boleh membuatnya kehilangan jarak kritis. Sebab, tugas utama seorang jurnalis bukan menjadi bagian dari kekuasaan, melainkan menyampaikan informasi kepada publik secara independen.

Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Jaya Bagus Sudarmanto menekankan bahwa perjalanan panjang seorang wartawan tidak semestinya hanya diukur dari pengalaman, jabatan, ataupun kesempatan meliput tokoh penting.

Lebih dari itu, seorang jurnalis harus mampu mempertahankan prinsip dan independensi di tengah berbagai tantangan profesi.

Pandangan tersebut menemukan contoh konkret dalam salah satu pengalaman Jumar ketika menolak pemberian amplop dari seorang narasumber polisi.

Alasannya sederhana, tetapi tegas.

"Biar saya tetap bisa bicara leluasa di udara," tulis Jumar pada halaman 12.

Di balik kalimat itu terdapat pemahaman bahwa independensi tidak cukup hanya diucapkan dalam forum diskusi atau dicantumkan dalam kode etik. Ia harus diwujudkan melalui keputusan-keputusan nyata, termasuk ketika berhadapan dengan tawaran yang tampak sepele.

Sebab, sekali seorang wartawan merasa berutang budi kepada narasumber, kebebasannya untuk bertanya dan menyampaikan informasi bisa terganggu.

Menolak amplop mungkin tampak sebagai tindakan kecil. Namun, bagi profesi yang bertumpu pada kepercayaan publik, keputusan semacam itulah yang ikut menentukan kehormatan seorang jurnalis.

Menulis agar pengalaman tidak hilang ditelan waktu

Wartawan senior Mayong Suryo Laksono memandang penerbitan buku sebagai salah satu pencapaian penting dalam perjalanan seorang jurnalis.

Mayong mengenal Jumar sejak dirinya masih mengabdi di majalah Intisari, bagian dari Kompas Gramedia.

Menurut Mayong, pengalaman panjang seorang wartawan akan memiliki nilai lebih ketika tidak berhenti sebagai ingatan pribadi, tetapi dituangkan menjadi karya yang dapat dibaca dan diwariskan.

"Puncak karya seorang wartawan atau jurnalis adalah ketika mampu melahirkan karya berupa buku," ujar Mayong, yang pernah menjadi anggota Komisi Penyiaran Indonesia dan Dewan Pengawas Antara.

Pernyataan itu mengingatkan bahwa wartawan sesungguhnya memiliki kekayaan pengalaman yang luar biasa. Setiap hari mereka berjumpa dengan manusia dari berbagai latar belakang, menyaksikan perubahan sosial, mengikuti dinamika politik, dan merekam peristiwa yang kelak menjadi bagian dari sejarah.

Sayangnya, tidak semua pengalaman tersebut sempat didokumentasikan.

Berita datang silih berganti. Hari ini sebuah peristiwa menjadi perhatian utama, esok hari berganti dengan peristiwa lain. Sementara pengalaman dan pelajaran di baliknya sering kali tertinggal sebagai ingatan yang perlahan memudar.

Di sinilah buku menemukan maknanya.

Ia menjadi ruang untuk menyimpan pengalaman, merawat ingatan, sekaligus menyampaikan pengetahuan kepada mereka yang belum pernah mengalami perjalanan serupa.

Buku Jumar menjadi contoh bahwa seorang wartawan tidak harus berhenti berkarya ketika berita telah selesai ditulis. Pengalaman yang dikumpulkan selama bertahun-tahun masih dapat dihidupkan kembali melalui tulisan yang lebih panjang dan mendalam.

Ilmu sebagai bekal, perubahan sebagai keniscayaan

Ada satu pesan ayah Jumar yang menjadi bagian penting dalam buku tersebut.

"Kamu boleh miskin harta, tapi tidak boleh miskin ilmu," demikian nasihat yang dikutip pada halaman 113.

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi memiliki daya hidup yang panjang. Pengetahuan bukan sekadar bekal untuk memperoleh pekerjaan atau mengejar kedudukan. Ia merupakan modal untuk memahami dunia yang terus berubah.

Dalam jurnalistik, kemauan belajar menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Wartawan harus terus memperbarui wawasan, memahami perkembangan teknologi, dan menyesuaikan diri dengan perubahan cara masyarakat mengakses informasi.

Jumar juga merekam refleksinya mengenai masa depan radio di tengah perkembangan teknologi digital.

"Radio tidak mati. Ia hanya berubah bentuk, dan dalam perubahan itu, radio menemukan relevansi baru," tulisnya pada halaman 120.

Pandangan itu mencerminkan perjalanan industri penyiaran yang terus beradaptasi. Ketika masyarakat semakin akrab dengan media digital dan berbagai platform informasi, radio memang menghadapi tantangan besar.

Namun, perubahan teknologi tidak serta-merta menghapus kebutuhan publik terhadap informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya.

Radio tetap memiliki kekuatan melalui kedekatan dengan pendengar, karakter suara, dan kemampuannya menghadirkan informasi secara langsung.

Yang berubah adalah cara menjangkau masyarakat. Yang harus tetap dijaga adalah kualitas informasi dan kepercayaan publik.

Sebagai orang yang telah menghabiskan seperempat abad bersama Radio Sonora, Jumar menjadi bagian dari perjalanan perubahan tersebut.

Warisan seorang wartawan

Diskusi buku di PWI Jaya berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Hadir Ketua PWI Jaya Kesit Budi Handoyo, Direktur Radio Sonora Viliny Lesmana, Mayong Suryo Laksono, Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Jaya Bagus Sudarmanto, serta sejumlah sahabat dari kalangan jurnalistik dan akademisi, di antaranya Tb. Adhi dan Arman Suparman.

Percakapan yang berkembang tidak hanya membahas isi buku, tetapi juga menyentuh pentingnya membangun tradisi menulis di kalangan wartawan.

Pesannya jelas: setiap wartawan memiliki cerita yang layak dituliskan. Tidak perlu menunggu menjadi tokoh besar, menduduki jabatan penting, atau mencapai popularitas tertentu.

Sebab, nilai sebuah pengalaman tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar peristiwa yang diliput. Terkadang, justru dari perjalanan yang sederhana lahir pelajaran paling berharga.

Jumar sendiri menuliskan sebuah refleksi pada halaman 13 bukunya: "... kalau kita jujur dan konsisten, perlahan kita akan dihormati dan diingat."

Kalimat itu seolah menjadi benang merah dari seluruh perjalanan yang ia ceritakan.

Penghormatan terhadap seorang wartawan bukan semata-mata lahir dari jabatan, popularitas, atau kedekatannya dengan tokoh-tokoh penting. Lebih dari itu, penghormatan tumbuh dari konsistensi menjaga prinsip, keberanian menjalankan tanggung jawab, dan kesetiaan pada kepentingan publik.

Dari operator telepon hingga reporter Istana, Jumar telah menempuh perjalanan yang tidak dibangun dalam satu malam. Ada ketekunan, kesempatan, pendidikan, dan pengalaman yang membentuk dirinya.

Istana mungkin menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan kariernya. Namun, pencapaian yang lebih bermakna justru terletak pada bagaimana ia berusaha menjaga integritas ketika berada dekat dengan pusat kekuasaan.

Buku ini pun menjadi lebih dari sekadar penanda seperempat abad pengabdian. Ia adalah upaya merawat ingatan, membagikan pengalaman, dan meninggalkan jejak bagi generasi wartawan berikutnya.

Pada akhirnya, berita mungkin hanya bertahan sehari di halaman depan. Nama-nama narasumber bisa berganti, peristiwa datang dan pergi, dan ruang redaksi terus bergerak mengikuti zaman.

Tetapi, nilai kejujuran dan integritas tidak seharusnya ikut berlalu.

Sebab, seorang wartawan boleh berganti tugas, berpindah ruang liputan, bahkan meninggalkan profesinya. Namun, suara nurani yang dijaganya sepanjang perjalanan itulah yang akan menentukan bagaimana ia dikenang.