INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan bahwa penerapan teknologi rendah karbon menjadi langkah strategis untuk mempercepat dekarbonisasi sektor industri sekaligus meningkatkan daya saing nasional.

Salah satu upaya yang dikembangkan adalah pemanfaatan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU), di mana emisi karbon dioksida (CO2) dari proses industri diolah kembali menjadi produk bernilai ekonomi.

“Salah satu kunci keberhasilan dekarbonisasi pada sektor industri adalah kemampuan untuk mengembangkan dan menerapkan teknologi hijau yang sesuai dengan kebutuhan, serta karakteristik proses produksi industri nasional,” ujar Menperin.

Pernyataan tersebut disampaikan saat Menperin bersama jajaran meninjau proyek percontohan (pilot project) pengurangan emisi melalui teknologi CCU di PT Petrokimia Gresik, Jumat (16/10/2026).

Teknologi ini menjadi bagian dari upaya mendukung pencapaian target Net Zero Emission (NZE) sektor industri pada 2050 dan NZE nasional pada 2060.

“Pilot project CCU perlu kita perluas karena terbukti menghasilkan manfaat, pertama yaitu terjadi penurunan emisi karena dekarbonisasi, dan kedua menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi. Teknologi CCU telah menghasilkan produk soda ash dengan jumlah yang lumayan,” tambah Menperin.

Proyek percontohan CCU memanfaatkan karbon yang ditangkap dan diolah kembali menjadi produk samping berupa soda ash dan natrium bicarbonate. Berdasarkan hasil pengujian oleh empat pihak, yaitu BBSPJIKFK, BSPJI Surabaya, Petrokimia Gresik, dan Sucofindo, kandungan soda ash telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dengan kandungan natrium karbonat (Na2CO3) pada kisaran 99 persen.

Menperin menilai, hasil pengembangan tersebut menunjukkan potensi pemanfaatan emisi karbon sebagai bahan baku alternatif. Saat ini Indonesia masih menjadi net importir soda ash.

“Melalui CCU, CO2 dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif penghasil produk industri, mengurangi ketergantungan impor soda ash, sekaligus memacu diversifikasi produk,” tambahnya.

Di sisi kebijakan, Kemenperin terus mempercepat dekarbonisasi melalui pengendalian emisi dari tiga sumber utama, yaitu penggunaan energi, Industrial Processes and Product Use (IPPU), serta limbah.

Upaya tersebut mencakup penetapan sembilan subsektor industri prioritas dekarbonisasi, yakni semen, pupuk, logam, pulp dan kertas, tekstil, kimia, keramik dan kaca, makanan dan minuman, serta alat angkut. Empat subsektor pertama menjadi prioritas perdagangan emisi tahap pertama 2028–2035.

“Teknologi ini akan kami evaluasi secara berkelanjutan agar dapat diterapkan dalam skala industri, bukan sekadar pilot project. Manfaatnya tidak hanya dirasakan dalam proses produksi, tetapi juga oleh masyarakat secara umum,” ungkap Menperin.

Menperin berharap proyek di Petrokimia Gresik dapat menjadi model pengembangan teknologi pengendalian emisi di sektor industri lainnya.

“Kami akan menyusun roadmap penerapan teknologi hijau. Jika terbukti efektif dan tidak membebani industri, ke depan penerapannya dapat diwajibkan. Teknologi ini juga berpotensi diterapkan pada PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap), sehingga dapat mendukung pengendalian emisi sekaligus memperpanjang umur operasional PLTU,” ujar Menperin.