INDUSTRY.co.id, Flores-Pemerintah menargetkan Jalan Lintas Utara Flores yang menghubungkan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, hingga Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), dapat dituntaskan paling lambat akhir 2028.
Jalur sepanjang 472,48 kilometer tersebut diproyeksikan menjadi salah satu akses penting untuk memperkuat konektivitas antarwilayah di Pulau Flores.
Kehadirannya diharapkan memperlancar mobilitas masyarakat, distribusi barang, serta membuka akses ekonomi dan pariwisata di wilayah pesisir utara Flores.
Namun, pekerjaan yang harus diselesaikan pemerintah masih cukup besar. Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum (PU), dari total panjang jalan tersebut, 385,07 kilometer telah beraspal. Sementara itu, sekitar 87,41 kilometer lainnya belum beraspal.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo meninjau langsung jalur tersebut pada Jumat (23/10/2026). Peninjauan dilakukan untuk memastikan percepatan penanganan jalan sesuai arahan Presiden.
"Dari pagi sampai sore ini, saya ke Labuan Bajo, kemudian berkeliling dari Bajo sampai ke Maumere untuk menindaklanjuti arahan Bapak Presiden terkait penuntasan Jalan Lintas Utara Flores," ujar Dody dalam keterangan tertulis Kementerian PU.
Dody mengatakan, pemerintah menargetkan jalan tersebut selesai dan dapat difungsikan sesuai standar jalan nasional pada 2028.
"Targetnya tetap agar 2028 selesai dan fungsional sesuai dengan standar jalan nasional kita lebar 6-7 meter," katanya.
Masih ada 87 kilometer belum beraspal
Berdasarkan data Kementerian PU, ruas yang belum beraspal terdiri dari tiga kondisi berbeda.
Pertama, sepanjang 33,12 kilometer berada di kawasan hutan. Kedua, sekitar 43,51 kilometer masih berupa jalan tanah. Ketiga, sepanjang 10,78 kilometer berupa jalan beragregat.
Penanganan jalan dibagi menjadi tiga segmen, yakni Labuan Bajo-Pelabuhan Bari sepanjang 83,52 kilometer, Pelabuhan Bari-Kedindi sepanjang 57,77 kilometer, serta Wae Gongger-Maumere sepanjang 331,19 kilometer.
Pada segmen Labuan Bajo-Pelabuhan Bari, terdapat 60,64 kilometer jalan yang belum beraspal. Adapun pada segmen Pelabuhan Bari-Kedindi, masih terdapat 26,77 kilometer yang membutuhkan penanganan serupa.
Sementara itu, ruas Wae Gongger-Maumere telah beraspal, tetapi masih membutuhkan peningkatan kualitas dan pelebaran jalan.
Selain pengaspalan, pemerintah juga merencanakan pelebaran jalan yang saat ini sebagian masih memiliki lebar sekitar 4-6 meter. Jalan akan ditingkatkan dengan lebar sekitar 6-7 meter dan dilengkapi bahu jalan yang diperkeras.
Peningkatan tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko kecelakaan, terutama ketika kendaraan berukuran besar berpapasan di ruas jalan yang sempit.
Tantangan Kawasan Hutan dan Anggaran
Salah satu tantangan dalam penyelesaian Jalan Lintas Utara Flores adalah keberadaan ruas sepanjang 33,12 kilometer yang berada di kawasan hutan.
Kementerian PU menyatakan akan berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan untuk mempercepat proses persetujuan penggunaan kawasan hutan tersebut.
Selain persoalan teknis dan perizinan, dukungan anggaran juga menjadi faktor penting agar seluruh pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target.
Ketua Komisi V DPR RI Lasarus sebelumnya menyampaikan bahwa rencana pembangunan jalan lintas utara Flores diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp 2,5 triliun.
Dalam kunjungan kerja Komisi V DPR RI di Labuan Bajo pada 9 Oktober 2026, Lasarus menyebut alternatif pembiayaan yang sedang dipertimbangkan antara lain melalui Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau pinjaman luar negeri.
Menurut dia, kepastian pembiayaan diperlukan agar rencana pembangunan dapat ditindaklanjuti setelah tahapan studi selesai.
Penting untuk konektivitas dan penanganan bencana
Gubernur NTT Melki Laka Lena sebelumnya mengusulkan penuntasan jalur utara Flores kepada Presiden Prabowo Subianto saat kunjungan ke Kabupaten Nagekeo pada 26 Agustus 2026.
Jalur tersebut dinilai memiliki arti penting, bukan hanya untuk kepentingan ekonomi, tetapi juga dalam penanganan bencana.
Melki mengatakan, berdasarkan pengalaman bencana sebelumnya, jalur utara Flores dapat menjadi akses penting untuk pergerakan bantuan ketika jalur utama mengalami gangguan.
Dengan adanya jalur alternatif yang lebih memadai, distribusi logistik dan mobilisasi masyarakat diharapkan tidak sepenuhnya bergantung pada satu koridor transportasi.
Penuntasan jalan tersebut juga diharapkan memberikan manfaat bagi sektor pertanian dan pariwisata. Akses yang lebih baik dapat membantu petani mengangkut hasil produksi menuju pasar serta memudahkan wisatawan menjangkau berbagai destinasi di Flores.
Meski demikian, target penyelesaian pada akhir 2028 masih bergantung pada percepatan pekerjaan fisik, penyelesaian persoalan kawasan hutan, serta kepastian dukungan pembiayaan.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, Jalan Lintas Utara Flores diharapkan menjadi penghubung penting antara wilayah barat dan timur Pulau Flores.