INDUSTRY.co.id, Jakarta – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) semakin memperkokoh posisinya sebagai bank yang berfokus pada pembiayaan perumahan nasional. Penguatan kinerja keuangan yang dibarengi pengembangan ekosistem perumahan dan perluasan akses hunian terjangkau mengantarkan BTN meraih penghargaan Best Financial Sector – Banking 2026: Excellence in National Mortgage Ecosystem & Affordable Housing Inclusivity dalam ajang Industry Award 2026.
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas peran BTN dalam memperluas akses kepemilikan rumah sekaligus membangun ekosistem pembiayaan perumahan yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari masyarakat sebagai calon pemilik rumah, pengembang, pemasok bahan bangunan, hingga pelaku usaha pendukung sektor properti.
Capaian penghargaan itu sejalan dengan kinerja bisnis BTN yang terus menunjukkan tren positif. Hingga Agustus 2026, BTN membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp2,71 triliun, tumbuh 35,89% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,99 triliun.
Pertumbuhan laba tersebut ditopang ekspansi kredit dan pembiayaan konsolidasian yang mencapai Rp431,60 triliun, meningkat 14,98% YoY. Pada periode yang sama, total aset konsolidasian BTN tumbuh 16,60% menjadi Rp561,84 triliun.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) konsolidasian BTN, termasuk Bank Syariah Nasional (BSN), mencapai Rp446,06 triliun atau tumbuh 11,11% YoY. Di tengah ekspansi bisnis tersebut, BTN juga berhasil menekan beban bunga konsolidasian sebesar 8,21% menjadi Rp11,28 triliun. Penurunan biaya pendanaan ini turut menopang peningkatan profitabilitas perseroan.
Perbaikan kinerja juga terlihat dari kualitas aset. Pada semester I 2026, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) BTN turun menjadi 2,99% dari 3,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perbaikan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa pertumbuhan bisnis berjalan beriringan dengan upaya menjaga kualitas pembiayaan.
Penguatan fundamental itu menjadi modal bagi BTN untuk memperluas perannya di sektor perumahan. Perseroan tidak hanya mengandalkan pembiayaan kepemilikan rumah dari sisi konsumen, tetapi juga memperbesar dukungan terhadap sisi pasokan melalui pembiayaan pengembang dan pelaku usaha yang terlibat dalam rantai pasok perumahan.
Salah satu instrumen yang dikembangkan adalah Kredit Program Perumahan (KPP). Sejak diluncurkan, penyaluran KPP secara kumulatif telah mencapai Rp7,4 triliun, terdiri atas Rp5,4 triliun pembiayaan dari sisi pasokan (supply) dan Rp2 triliun dari sisi permintaan (demand). Skema ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap hunian.
BTN juga terus mendorong pengembangan hunian yang terintegrasi dengan transportasi publik. Salah satunya melalui dukungan terhadap proyek Transit Oriented Development (TOD) Manggarai yang direncanakan menghadirkan 3.784 unit hunian dalam delapan tower. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperluas pilihan tempat tinggal yang lebih terjangkau dan terhubung dengan fasilitas transportasi.
Penguatan ekosistem perumahan menjadi semakin relevan di tengah kebutuhan hunian nasional yang masih besar. Melalui pendekatan tersebut, BTN berupaya menghubungkan pembiayaan perumahan dengan aktivitas ekonomi yang lebih luas, termasuk sektor konstruksi, bahan bangunan, jasa properti, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Penghargaan yang diterima BTN diberikan dalam rangkaian Industry Award 2026 yang diselenggarakan media online INDUSTRY.co.id di Jakarta, Kamis (29/10/2026). Tahun ini, ajang tersebut mengusung tema Driving Sustainable Growth Through Excellence in Governance and Digital Transformation, dengan penekanan pada ketahanan bisnis, tata kelola perusahaan, serta pemanfaatan teknologi untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan.
CEO INDUSTRY.co.id sekaligus Ketua Dewan Juri Industry Award 2026, Nandi Nanti, mengatakan PMI manufaktur Indonesia pada September 2026 mencapai 52,4. Angka tersebut menjadi level tertinggi dalam tujuh bulan sejak Februari, setelah sempat berada di zona kontraksi pada level 46,9 pada Juni 2026.
Menurut Nandi, pemulihan industri tidak terlepas dari kemampuan perusahaan menjaga fundamental bisnis, memperkuat tata kelola, dan menjalankan transformasi teknologi. Proses penilaian penghargaan dilakukan melalui desk research, media monitoring, dan expert judgement. Dari 200 perusahaan yang ditelaah, seleksi mengerucut menjadi 60 perusahaan dengan penilaian mencakup performa bisnis, aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), good corporate governance (GCG), serta transformasi teknologi.
Sementara itu, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kementerian Perindustrian, Emmy Suryandari, yang hadir mewakili Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza, menyampaikan bahwa ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% pada kuartal II 2026. Industri pengolahan nonmigas bahkan tumbuh 5,32% dan memberikan kontribusi 16,83% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.
Sektor industri pengolahan nonmigas juga menyerap hampir 20 juta tenaga kerja serta menyumbang 80,39% terhadap total ekspor nasional selama Januari hingga Agustus 2026. Menurut Emmy, capaian tersebut menunjukkan pentingnya menjaga daya saing industri dalam negeri melalui dukungan berbagai pemangku kepentingan, termasuk sektor jasa keuangan.
Di tengah pemulihan ekonomi dan industri, perbankan memiliki peran strategis dalam menyediakan pembiayaan bagi sektor produktif. Bagi BTN, penguatan pembiayaan perumahan tidak hanya berkaitan dengan penyaluran kredit kepada konsumen, tetapi juga mendukung aktivitas ekonomi di sepanjang rantai pasok industri properti.
Selain memperkuat pembiayaan, BTN juga terus mengembangkan layanan digital untuk meningkatkan kemudahan transaksi dan efisiensi operasional. Hingga semester I 2026, aplikasi Bale by BTN telah digunakan lebih dari 4,3 juta pengguna. Jumlah transaksi dan nilai transaksi melalui platform tersebut masing-masing tumbuh 41,6% dan 55,3% secara tahunan.
Transformasi digital menjadi salah satu aspek penting dalam penilaian Industry Award 2026. Emmy menegaskan, pemanfaatan teknologi perlu diarahkan untuk menghasilkan peningkatan produktivitas, efisiensi, dan profitabilitas yang terukur, bukan sekadar menjadi tambahan biaya operasional.
Dalam program Making Indonesia 4.0, misalnya, perusahaan percontohan National Lighthouse 4.0 mencatat peningkatan kecepatan masuk ke pasar hingga 60%, produktivitas hingga 110%, serta kinerja finansial hingga 200%. Kepuasan pelanggan juga meningkat sekitar 60%-70%.
Bagi BTN, pengembangan layanan digital dan ekosistem perumahan menjadi bagian dari strategi memperkuat bisnis di luar pembiayaan KPR semata. Perseroan berupaya menghadirkan layanan keuangan yang terintegrasi bagi nasabah dan pelaku usaha di sektor perumahan, mulai dari pembiayaan, transaksi, hingga dukungan terhadap aktivitas bisnis.
Dengan pertumbuhan laba, ekspansi kredit dan pembiayaan, serta perbaikan kualitas aset, BTN memiliki ruang untuk memperkuat kontribusinya dalam mendukung program perumahan nasional. Penghargaan Industry Award 2026 sekaligus menegaskan relevansi strategi perseroan dalam membangun ekosistem pembiayaan perumahan yang lebih inklusif.
Ke depan, tantangan BTN adalah menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap memperhatikan kualitas kredit, efisiensi pendanaan, dan keberlanjutan ekspansi. Di tengah kebutuhan hunian yang masih besar dan pemulihan industri nasional, kemampuan BTN mengintegrasikan pembiayaan, pengembangan ekosistem, serta inovasi digital akan menjadi faktor penting untuk mempertahankan daya saing dan memperluas akses masyarakat terhadap rumah layak huni.