INDUSTRY.co.id - JAKARTA – PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) atau Proline membukukan pendapatan sebesar Rp21,5 miliar sepanjang Januari-September 2026. Realisasi tersebut turun 60,91% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp55 miliar.
Manajemen PRDL menyatakan, penurunan pendapatan terutama dipengaruhi oleh penyesuaian pola pembelian pelanggan serta transisi kebutuhan pada sejumlah kategori produk. Meski demikian, perseroan menilai kondisi tersebut bersifat sementara dan tidak mengubah prospek bisnis dalam jangka panjang.
"Sejalan dengan perkembangan kebutuhan diagnostik, perseroan terus memperluas portofolio produk dan customer base untuk mendukung sumber pertumbuhan yang semakin beragam," ujar manajemen dalam keterangan resmi, Kamis (29/10/2026).
Berdasarkan komposisi pendapatan, segmen Kimia Klinik masih menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp11,6 miliar atau setara 53,9% dari total pendapatan hingga September 2026.
Sementara itu, segmen Instrumen mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 29,5% secara tahunan menjadi Rp7,6 miliar. Kontribusinya terhadap total pendapatan meningkat menjadi 35,2%, dibandingkan hanya 10,6% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan kontribusi segmen Instrumen tersebut menunjukkan adanya diversifikasi sumber pendapatan Proline, sehingga ketergantungan terhadap bisnis reagen dapat semakin berkurang.
Adapun segmen Hematologi membukukan pendapatan sebesar Rp2 miliar, diikuti Jasa sebesar Rp307 juta serta Imunologi dan Biomolekuler sebesar Rp11 juta.
Dari sisi pelanggan, PRDL melayani dua kelompok utama, yakni pemerintah dan swasta. Perseroan berencana memperluas penetrasi pada kedua segmen tersebut, terutama dengan meningkatkan kontribusi rumah sakit dan laboratorium swasta, sekaligus mempertahankan partisipasi dalam berbagai peluang di sektor kesehatan nasional.
Di tengah penurunan pendapatan, tekanan juga terlihat pada profitabilitas perseroan. Laba kotor PRDL sepanjang Januari-September 2026 tercatat sebesar Rp6,6 miliar dengan gross profit margin (GPM) sebesar 30,6%. Angka tersebut turun dibandingkan GPM pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 66,7%.
Manajemen menjelaskan, penurunan margin dipengaruhi oleh biaya overhead manufaktur dan depresiasi fasilitas produksi baru yang belum terserap secara optimal akibat volume produksi yang masih terbatas.
Sebagai informasi, sejak semester I-2025, PRDL telah mengoperasikan fasilitas produksi baru dengan kapasitas hingga empat kali lebih besar dibandingkan fasilitas sebelumnya. Investasi tersebut diharapkan dapat memberikan ruang bagi perseroan untuk mengantisipasi peningkatan permintaan tanpa membutuhkan tambahan kapasitas produksi yang signifikan.
"Seiring pertumbuhan volume, utilisasi yang lebih tinggi juga diharapkan dapat meningkatkan penyerapan biaya tetap dan operating leverage perseroan," kata manajemen.
Dari sisi operasional, PRDL membukukan rugi EBITDA (LBITDA) sebesar Rp4,3 miliar sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Namun, tekanan tersebut sebagian besar terjadi pada semester pertama. Pada kuartal III-2026, LBITDA berhasil ditekan menjadi Rp43 juta.
Selain itu, beban usaha pada kuartal III-2026 tercatat sebesar Rp3,3 miliar atau turun 43% secara tahunan. Penurunan tersebut terjadi setelah biaya terkait program Employee Stock Allocation (ESA) terealisasi pada semester I-2026.
"Ke depan, perseroan akan berfokus pada peningkatan volume dan utilisasi fasilitas produksi. Peningkatan utilisasi diharapkan dapat memperkuat penyerapan biaya tetap, meningkatkan operating leverage, dan mendukung profitabilitas secara bertahap," ujar manajemen.
Dari sisi neraca, posisi kas dan setara kas PRDL per 30 September 2026 tercatat sebesar Rp21,8 miliar, meningkat dibandingkan Rp10,8 miliar pada akhir 2025.
Perseroan juga terus melakukan pengurangan kewajiban keuangan. Sepanjang Januari-September 2026, PRDL telah melakukan pembayaran utang bank sebesar Rp35,8 miliar.
Dengan langkah tersebut, total utang berbunga perseroan pada akhir September 2026 turun 35,7% menjadi Rp60,6 miliar, dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp94,3 miliar.
Ke depan, peningkatan volume penjualan dan optimalisasi utilisasi fasilitas produksi menjadi faktor penting bagi PRDL untuk memperbaiki margin, menekan beban tetap per unit produksi, serta memulihkan profitabilitas.