INDUSTRY.co.id - JAKARTA - PT Bio Farma (Persero) kembali meraih penghargaan Primaniyarta untuk ke-12 kalinya. Penghargaan tersebut menegaskan daya saing ekspor produk kesehatan Indonesia di pasar global.

Capaian ekspor Bio Farma tercatat lebih dari Rp 10 triliun secara kumulatif pada periode 2021-2025. Produk vaksinnya bahkan telah digunakan di lebih dari 150 negara di Asia, Afrika, Timur Tengah, Eropa, hingga Amerika melalui jalur pengadaan institusional dan kemitraan bilateral.

Sejak pertama kali memasuki pasar internasional pada 1997, Bio Farma tercatat telah mengekspor lebih dari 90 miliar dosis vaksin untuk mendukung program imunisasi global.

Saat ini, Bio Farma memiliki kapasitas produksi 3,1 miliar dosis per tahun dengan 20 produk yang telah memperoleh prakualifikasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Portofolio ekspornya meliputi vaksin bakterial dan viral, termasuk vaksin polio dan campak, serta bahan aktif vaksin (vaccine drug substances).

Manfaatkan FTA untuk Perluas Pasar

Pada tahun ini, Bio Farma meraih Primaniyarta dalam Kategori Eksportir Pemanfaat FTA (Free Trade Agreement). Kategori ini diberikan kepada eksportir yang konsisten memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas untuk meningkatkan ekspor.

Direktur Komersial Bio Farma, Fitri Puspadewi, mengatakan penghargaan tersebut menjadi motivasi untuk memperkuat daya saing.

"Penghargaan ini menjadi motivasi bagi Bio Farma untuk terus memperkuat daya saing produk di pasar internasional. Melalui optimalisasi pemanfaatan Free Trade Agreement (FTA), kami berupaya membuka peluang pasar yang lebih luas," ujar Fitri.

Ia menambahkan, Bio Farma berharap produk kesehatan Indonesia tidak hanya bersaing, tetapi juga berkontribusi nyata memperkuat ketahanan kesehatan dunia.

Dorong Vaksin Dalam Negeri: Bio-TCV dan Bio-RV

Sejalan dengan ekspansi global, Bio Farma juga memperkuat kemandirian vaksin nasional melalui dua produk baru.

Pertama, Bio-TCV, vaksin tifoid konjugat produksi dalam negeri yang telah mendapat persetujuan dari BPOM. Pengembangannya mencakup kerja sama riset, transfer teknologi, hingga uji klinis.

Kedua, Bio-RV, vaksin rotavirus neonatal hasil kolaborasi dengan Murdoch Children's Research Institute (MCRI) Australia. Vaksin ini resmi memperoleh Nomor Izin Edar dari BPOM pada 2 September 2026. Pengembangannya melibatkan akademisi nasional dan mitra global untuk mengurangi ketergantungan impor.

Penghargaan Primaniyarta diserahkan dalam rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41. Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam acara tersebut menargetkan transaksi TEI tahun ini mencapai 17,5 miliar dollar AS, naik dari tahun sebelumnya 16,5 miliar dollar AS.

Sebagai BUMN life science yang tergabung dalam ekosistem Danantara Indonesia, Bio Farma menegaskan komitmennya untuk memperkuat daya saing global sekaligus mendukung kemandirian kesehatan nasional.