INDUSTRY.co.id - Jakarta - Ketika ketidakpastian global masih membayangi, ketangguhan industri menjadi penanda penting arah ekonomi nasional. Dalam konteks itulah media online INDUSTRYcoid kembali menggelar Industry Award 2026 dengan tema “Driving Sustainable Growth Through Excellence in Governance and Digital Transformation”. Sebuah penghargaan yang tidak sekadar merayakan capaian, melainkan memotret daya tahan industri di tengah gejolak.

Nandi Nanti, CEO INDUSTRYcoid sekaligus Ketua Dewan Juri, menggarisbawahi fase resiliensi yang tengah dilalui manufaktur Indonesia.

“PMI manufaktur September 2026 tercatat 52,4, tertinggi dalam tujuh bulan sejak Februari, setelah sempat berada di level 46,9 pada Juni. Ini adalah cerita tentang industri yang comeback,” ujar Nandi di President Lounge Menara Batavia, Kamis (29/10/2026).

Menurut Nandi, cerita comeback itu tidak terjadi secara kebetulan. Ia lahir dari perusahaan yang menempatkan tata kelola sebagai fondasi dan transformasi teknologi sebagai kunci.

“Hanya perusahaan industri yang serius dalam tata kelola dan transformasi digital yang bisa selamat dari badai 46,9 di Juni lalu. Inilah yang kita apresiasi di INDUSTRY AWARD 2026,” tuturnya.

Proses penilaian, kata Nandi, bertumpu pada tiga lapis pendekatan: desk research, media monitoring, dan expert judgement. Dari 200 perusahaan yang ditelaah, seleksi mengerucut menjadi 60 perusahaan, hingga akhirnya menetapkan tiga kategori utama: Special Recognition, lima Tokoh Industri 2026, dan 25 perusahaan industri terbaik.

Tolok ukurnya meliputi performa bisnis, ESG, GCG, dan transformasi teknologi.

“Industri terbaik bukan hanya perusahaan yang untung hari ini, melainkan perusahaan yang mampu bertahan lama dan berkelanjutan. Selamat kepada seluruh pemenang,” kata Nandi.

Sementara itu, Emmy Suryandari, S.T., M.T.M., Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kementerian Perindustrian, yang hadir mewakili Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza, menegaskan peran vital industri pengolahan non-migas sebagai pengungkit utama perekonomian.

Dalam paparannya, Emmy menyampaikan data terkini yang menunjukkan optimisme. Pada triwulan II tahun 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29%, sementara pertumbuhan industri pengolahan non-migas tumbuh lebih tinggi, yaitu 5,32%. Sektor ini memberikan kontribusi 16,83% terhadap PDB Nasional, menyerap hampir 20 juta tenaga kerja, dan berkontribusi 80,39% terhadap total ekspor nasional periode Januari hingga Agustus 2026.

“Artinya apa yang diekspor ini memang sesuatu yang sudah mengalami proses di dalam negeri, sudah ada value added yang diberikan. Ini yang harus kita jaga. Kami di Kementerian Perindustrian tidak bisa bekerja sendiri, pasti butuh support dari stakeholder lain, pemerintah daerah, dan asosiasi,” ujar Emmy.

Emmy juga menyoroti dua indikator utama kepercayaan industri. Selain PMI yang sudah di atas 50, Kemenperin juga memiliki Indeks Kepercayaan Industri (IKI) sejak 2020. Pada September 2026, IKI masih berada di fase ekspansi dengan nilai 53,61%.

“Kalau sudah di atas 50 artinya dalam kondisi yang cukup baik. Tugas kita adalah bagaimana memaintain angka ini bisa berjalan dengan bagus,” katanya.

Terkait tantangan, Emmy menyebut tiga hal yang perlu diwaspadai. Pertama, ketersediaan bahan baku dari sisi jumlah, kualitas, dan harga. Kedua, fenomena trade diversion atau pengalihan arus perdagangan akibat perubahan kebijakan tarif di berbagai negara yang berpotensi meningkatkan tekanan persaingan di dalam negeri. Ketiga, perlindungan pasar domestik.

“Pasar domestik kita cukup besar, 285 juta penduduk. Sebesar 78% saat ini sudah dipenuhi oleh industri dalam negeri. Akan tetapi produk-produk yang bisa diproduksi di dalam negeri ternyata tergerus pasarnya oleh produk sejenis dari impor. Sehingga perlindungan pasar dalam negeri menjadi faktor yang sangat penting,” jelasnya.

Pada bagian transformasi digital, Emmy menekankan bahwa digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan gaya hidup industri.

“Transformasi digital sudah menjadi kebutuhan, sudah menjadi lifestyle. Mau atau tidak mau industri membutuhkan untuk memanfaatkan teknologi, karena akan memudahkan proses operasional dan tracking,” ujar Emmy.

Namun ia juga mengingatkan adanya tantangan berupa kesenjangan kompetensi digital, risiko keamanan siber, dan kesiapan organisasi.

Emmy kemudian memaparkan capaian program Making Indonesia 4.0. Hingga kini, sebanyak 13.549 industri telah melakukan penilaian INDI 4.0, terdapat 204 manager transformasi yang tersertifikasi BNSP, serta 29 perusahaan percontohan National Lighthouse 4.0.

Dari 29 National Lighthouse tersebut, manfaat digitalisasi terbukti signifikan.

“Kalau ditanya industri apa nomor satu? Profit. Nomor dua? Profit lagi. Nomor tiga? Profit lagi. Jadi apapun yang dilakukan industri harus bisa dikuantifikasi pertambahan profitnya,” kata Emmy disambut tawa hadirin.

“Dari sisi operasional, kecepatan untuk masuk ke pasar meningkat hingga 60%. Dari sisi bisnis, produktivitas naik karena efisiensi hingga 110%. Kinerja finansial meningkat hingga 200% dan customer satisfaction meningkat hingga 60-70%,” paparnya.

Karena itu, Emmy menegaskan digitalisasi harus dipandang sebagai investasi, bukan beban biaya.

“Perusahaan-perusahaan yang mendapatkan penghargaan siang ini pasti setuju bahwa transformasi digital itu bukan hanya sekedar kita beli teknologi, kita pasang. Ini adalah investasi. Jadi bukan cost center, tapi profit center. Investasi ini akan meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, dan mendorong pertumbuhan industri yang berkelanjutan,” tegasnya.

Sebagai penutup, Emmy menekankan pentingnya kolaborasi.

“Pertumbuhan industri yang berkelanjutan harus dibangun dengan tata kelola yang baik. Tata kelola yang baik akan memastikan setiap langkah dijalankan secara transparan, akuntabel dan bertanggung jawab. Sementara paralel, transformasi digital menjadi penggerak peningkatan produktivitas, efisiensi, inovasi dan daya saing. Melalui kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha, keunggulan tata kelola dan pemanfaatan teknologi bukan sekadar strategi, tetapi menjadi fondasi pertumbuhan industri Indonesia yang tangguh, inklusif dan berkelanjutan,” tutup Emmy.

Berikut daftar pemenang INDUSTRY AWARD 2026 yang digelar di President Lounge Menara Batavia, Kamis 29 Oktober 2026:

I. PENGHARGAAN KHUSUS – SPECIAL RECOGNITION

1. Bapak S.D. Darmono – Founder Jababeka Group – Lifetime Achievement Award – National Industrial Estate Figure of All Time

II. PENGHARGAAN TOKOH INDUSTRI 2026 – INDUSTRIALIST OF THE YEAR

  1. Bapak Achmad Ma'ruf Maulana – Chairman HKI – Most Outstanding Leader in Industrial Estate Development & Investment Competitiveness
  2. Bapak Putu Juli Ardika – Chairman GAIKINDO – Most Outstanding Leader in Automotive Industry Transformation & Sustainable Mobility
  3. Bapak Adhi S. Lukman – Chairman GAPMMI – Most Outstanding Leader in Food & Beverage Industry Empowerment
  4. Bapak Abdul Sobur – Chairman HIMKI – Most Outstanding Leader in Furniture Industry Empowerment
  5. Bapak Edy Suyanto – Chairman ASAKI – Most Outstanding Leader in Ceramics Industry Empowerment

III. PENGHARGAAN PERUSAHAAN INDUSTRI

A. BEST INDUSTRIAL ESTATE

  1. PT Jababeka Tbk – Most Outstanding Integrated Industrial Township & World-Class Ecosystem

B. BEST FINANCIAL SECTOR – BANKING

  1. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk – Excellence in National Mortgage Ecosystem & Affordable Housing Inclusivity
  2. PT Bank Syariah Nasional (BSN) – Excellence in Sharia Economic Empowerment & Financial Inclusivity

C. BEST HEALTHCARE

  1. PT Pyridam Farma Tbk – Best Pharmaceutical CDMO & Global Expansion Leader

D. BEST INSURANCE & NON-BANK FINANCIAL SERVICE

  1. Pegadaian – Excellence in Gold Ecosystem Integration & Sustainable Bullion Services
  2. PT Asuransi Ciputra Indonesia (Ciputra Life) – Excellence in Protection Innovation & Insurance Digital Transformation
  3. PT Mandiri Utama Finance – Excellence in Multi Finance & Inclusive Financing

E. BEST AUTOMOTIVE & MOBILITY

  1. PT Chery Sales Indonesia – Excellence in New Energy Vehicle & Hybrid Technology Innovation
  2. PT Jantra Grupo Indonesia Tbk – Excellence in Automotive Undercarriage Service Innovation
  3. PT Blue Bird Tbk – Excellence in Sustainable Mobility & Fleet Electrification

F. BEST MANUFACTURING & TECHNOLOGY

  1. PT Arwana Citramulia Tbk – Best Green Industrial Manufacturing Company of The Year
  2. PT Munja Utama Indonesia – Excellence in Advanced Technology Innovation & Global Manufacturing
  3. PT LG Electronics Indonesia – Excellence in Smart Inverter Technology & Consumer Trust Leadership
  4. PT Daikin Airconditioning Indonesia – Excellence in Sustainable Air Solutions & Smart HVAC Innovation
  5. ASUS Business Indonesia – Excellence in Enterprise AI PC Innovation & Commercial Growth

G. BEST CONSUMER GOODS & AGRICULTURE

  1. PT Indofood Sukses Makmur Tbk – Most Outstanding Company in F&B Industry Leadership & Sustainable InnovINACO
  2. PT Niramas Utama Tbk (INACO) – Excellence in FMCG Technology Innovation & Market Expansion
  3. PT Bentoel Internasional Investama Tbk – Excellence in Sustainable Agriculture & Local Community Empowerment
  4. PT Mustika Ratu Tbk – Most Trusted Pioneer in Natural Beauty & Cultural Heritage Preservation

H. BEST INFRASTRUCTURE & ENERGY

  1. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) – Excellence in Natural Gas Transition & Carbon Emission Reduction
  2. Joe Green Group – Most Outstanding Leader in Green Building Innovation
  3. PT Jababeka Infrastruktur – Best Infrastructure Company for Eco-Industrial Estate Development

I. BEST HOSPITALITY, TOURISM & EXHIBITION

  1. PT Banten West Java (BWJ) – Excellence in Tourism Special Economic Zone Development
  2. Jababeka Golf & Country Club – Excellence in Integrated Golf Tourism, Sports Hospitality & Sustainable Estate
  3. PT Kristamedia Pratama – Most Dynamic Exhibition Organizer & SME Empowerment

J. BEST PROPERTY

  1. PT Graha Buana Cikarang (Jababeka Residence) - The Most Progressive Mega Township Development for Sustainable industry and Living 2026