INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mendukung langkah Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji yang mendorong pemberian insentif nonfiskal bagi kendaraan berteknologi hybrid, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), dan range extended electric vehicle (REEV).

Ketua Umum GAIKINDO Putu Juli Ardika menegaskan dukungan tersebut penting untuk menjaga keberlanjutan industri otomotif nasional.

"Kita mengikuti arahan Kementerian Perindustrian dan kita berharap bahwa itu bisa mendorong pertumbuhan industri kendaraan bermotor. Di samping itu, ekosistemnya juga akan terjaga dan berkembang," ujar Putu usai pertemuan dengan Menperin Sarmuji di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Putu menjelaskan, teknologi hybrid, PHEV, dan REEV memiliki keunggulan karena masih memanfaatkan komponen kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE), sehingga adaptasi industri komponen nasional lebih mudah.

Dari sisi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), GAIKINDO telah melakukan survei dan melaporkan kepada Kemenperin bahwa sebagian besar kendaraan yang diproduksi di dalam negeri mampu memenuhi ketentuan TKDN sebesar 60 persen.

Menanggapi dukungan tersebut, Menperin Sarmuji menegaskan pemberian insentif tidak harus selalu berupa keringanan pajak, tetapi juga kemudahan yang dirasakan langsung masyarakat.

"Nonfiskal itu misalkan administrasi, di kota-kota bisa dipakai, ganjil genap tidak terkena, ada parkir khusus. Mungkin juga kalau yang masih perlu charger, ada fasilitas charger dan sebagainya," ujar Sarmuji.

Menperin menambahkan, selama ini kendaraan listrik berbasis baterai penuh (BEV) telah memperoleh insentif memadai, termasuk bebas ganjil genap, sementara hybrid, PHEV, dan REEV belum memiliki skema khusus.

"Kalau full battery selama ini sudah ada insentif yang memadai, baik berkaitan dengan administrasi maupun ganjil genap. Sementara yang plug-in hybrid dan REEV itu akan dirumuskan penambahan insentifnya," ungkapnya.

Menurut Sarmuji, pengembangan hybrid dan REEV sangat strategis untuk penghematan BBM bersubsidi dan penurunan emisi.

"Menurut saya ini sesuatu yang sangat strategis karena dengan memproduksi dan kemudian memasarkan secara lebih masif dua jenis kendaraan itu, akan berdampak pada penghematan BBM kita, khususnya BBM bersubsidi. Di samping juga pasti akan berakibat pada menurunnya emisi," tuturnya.

Sarmuji juga menekankan industri hybrid dan REEV masih memakai mesin ICE sehingga transisi industri komponen lebih mudah.

"Kalau yang plug-in maupun hybrid biasa maupun REEV itu masih memakai baterai, tetapi juga masih memakai mesin ICE. Jadi, komponen-komponen yang sekarang diproduksi tidak perlu berubah secara total. Menyesuaikan dirinya masih lebih mudah," kata Sarmuji.

Kemenperin menargetkan pembahasan insentif dipercepat tahun ini.

"Insentif akan kita dorong secepatnya. Mumpung ada momentum harga BBM lagi naik, ini momentum untuk memperkuat industri berbasis baterai, tetapi dengan berbagai jenis tadi. Ini target diusahakan tahun ini," ujarnya.