INDUSTRY.co.id - Yogyakarta – Potensi pasar produk bambu dunia diproyeksikan mencapai 118,3 miliar dollar AS pada 2034 atau setara sekitar Rp 1.900 triliun. Namun, Indonesia baru menguasai 0,9 persen pangsa ekspor bambu global, jauh tertinggal dari China yang mendominasi pasar dengan pangsa 74,8 persen.
Peluang tersebut mendorong Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat ekosistem industri bambu nasional melalui program Akademi Komunitas Bambu (AKB) 2026 di Balai Diklat Industri Yogyakarta, 18–31 Oktober 2026.
Menteri Perindustrian (Menperin), Muhammad Sarmuji menegaskan, penguatan industri bambu perlu dimulai dari sektor hulu, terutama untuk menjamin ketersediaan bahan baku berkualitas yang memenuhi standar industri.
Pasalnya, kebutuhan bambu dunia terus berkembang, mulai dari furnitur, bahan konstruksi, pulp dan kertas, hingga tekstil. Nilai pasar produk berbasis bambu diperkirakan meningkat dari 74 miliar dollar AS pada 2024 menjadi 118,3 miliar dollar AS pada 2034, dengan pertumbuhan rata-rata 4,8 persen per tahun.
Melalui AKB 2026, Kemenperin menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang mampu mengelola pusat logistik bambu, mulai dari pengumpulan, pengeringan, pengawetan, hingga distribusi bahan baku siap pakai.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika mengatakan, keterbatasan kelembagaan penyedia bahan baku berkualitas menjadi salah satu tantangan pengembangan industri bambu nasional.
“Bambu merupakan komoditas strategis yang tumbuh melimpah di Nusantara, namun potensinya baru dapat dioptimalkan apabila didukung oleh SDM yang andal dalam mengelola rantai pasoknya,” ujar Putu.
Sebanyak 25 peserta calon Master Bambu dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, dan Sumatera Barat mengikuti pelatihan tersebut. Mereka dibekali keterampilan teknis dan manajerial untuk mendukung pembentukan Pusat Logistik Industri Bambu di berbagai daerah.
Selain memperluas pasar ekspor, Kemenperin melihat peluang pemanfaatan bambu untuk mendukung program pembangunan 3 juta rumah per tahun.
Salah satu inovasi yang dikembangkan ialah Cement-Bamboo Frame Technology (CBFT), teknologi konstruksi berbasis bambu yang berpotensi digunakan untuk pembangunan rumah sederhana tipe 36.
Teknologi ini memiliki keunggulan berupa bobot yang relatif ringan sehingga dapat dirakit tanpa alat berat. Penggunaan bahan baku lokal juga berpeluang meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam industri konstruksi modular.
Namun, penerapannya masih menghadapi kendala berupa keterbatasan pasokan bambu berkualitas dan terstandar secara berkelanjutan.
Karena itu, pengembangan pusat logistik bambu diharapkan menjadi fondasi bagi industri bambu nasional agar mampu memenuhi kebutuhan konstruksi, memperkuat industri berbasis sumber daya lokal, sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.