INDUSTRY.co.id - Pelantikan Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri pada 1 Oktober 2026 menarik perhatian saya. Bukan semata karena beliau pernah menjadi Kapolda Banten dan berasal dari Pandeglang, tetapi terutama karena beberapa pendekatan yang pernah dilakukannya di Banten mempunyai hubungan yang sangat erat dengan persoalan investasi dan pembangunan ekonomi.

Setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto, Kapolri Suyudi menyampaikan bahwa pelayanan publik, penegakan hukum yang adil, serta kedekatan polisi dengan masyarakat akan menjadi prioritasnya.

Bagi dunia usaha, pernyataan ini penting.

Selama ini kita sering berbicara mengenai infrastruktur sebagai jalan tol, pelabuhan, bandara, listrik, air, telekomunikasi, dan kawasan industri. Semua itu memang sangat penting. 

Tetapi dari pengalaman panjang saya membangun kawasan industri dan kota, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana:

Keamanan juga merupakan infrastruktur.

Bahkan untuk industri pariwisata, keamanan mungkin merupakan infrastruktur yang pertama.

Investor Membeli Kepastian

Seorang investor tidak semata-mata membeli sebidang tanah. Ia membeli kepastian.

Ia ingin mengetahui apakah hak atas tanahnya terlindungi, apakah pabrik atau hotelnya dapat beroperasi tanpa gangguan, apakah karyawannya aman, apakah perizinannya jelas, dan apakah ia terlindungi dari premanisme, pungutan liar, serta berbagai bentuk tekanan informal.

Demikian juga wisatawan.

Wisatawan tidak akan datang hanya karena sebuah tempat memiliki pantai yang indah. Mereka ingin tahu apakah perjalanan mereka aman, keluarganya aman, hotelnya aman, transportasinya aman, dan bila terjadi keadaan darurat apakah tersedia sistem yang dapat menolong dengan cepat.

Karena itu security creates confidence, confidence creates investment, investment creates jobs, and jobs create prosperity.

Pelajaran dari Banten

Saya tertarik dengan pendekatan Suyudi ketika memimpin Polda Banten.

Salah satunya adalah program Polisi Peduli Pengangguran atau Poliran. Program tersebut berangkat dari pemikiran bahwa pengangguran tidak hanya merupakan persoalan ekonomi, tetapi juga dapat menjadi salah satu faktor pemicu gangguan keamanan.

Program Poliran kemudian dikembangkan melalui pelatihan keterampilan, kerja sama dengan pemerintah dan dunia usaha, pencarian kesempatan kerja, serta pemberdayaan masyarakat. Polda Banten bahkan menandatangani kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Banten dalam upaya menurunkan pengangguran.

Menurut saya filosofi di belakangnya sangat menarik.

Biasanya kita berpikir bahwa polisi menangani kejahatan setelah kejahatan terjadi. Pendekatan seperti Poliran mencoba melihat salah satu akar persoalannya.

Bila seorang pemuda mempunyai keterampilan, pekerjaan, penghasilan dan harapan mengenai masa depannya, kemungkinan ia masuk ke lingkungan kriminal, narkoba ataupun premanisme tentu dapat berkurang.

Dengan kata lain:

Job creation can also become crime prevention.

Pendekatan lainnya adalah ketegasan terhadap premanisme. Dalam Operasi Pekat Maung 2025, Polda Banten menyatakan telah menindak ratusan pelaku premanisme; sumber resmi Polda Banten menyebut 510 pelaku pada operasi tersebut.

Bagi dunia investasi, hal seperti ini mempunyai arti ekonomi yang sangat besar.

Tanjung Lesung sebagai Laboratorium

Di Kabupaten Pandeglang terdapat Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung.

Kami mempunyai cita-cita besar menjadikan Tanjung Lesung sebagai “Nusa Dua-nya Banten” dan dalam jangka panjang menarik sampai satu juta wisatawan asing per tahun.

Letaknya tidak terlalu jauh dari pasar terbesar Indonesia, yaitu Jabodetabek. Infrastruktur akses terus berkembang. Pantainya indah, memiliki potensi wisata bahari, budaya dan alam, serta tersedia kawasan yang cukup luas untuk pembangunan jangka panjang.

Namun jalan tol, hotel dan atraksi saja tidak cukup.

Untuk menjadi destinasi internasional, Tanjung Lesung harus mempunyai world-class sense of security.

Data pemerintah menunjukkan KEK Tanjung Lesung telah menjadi sumber lapangan kerja yang nyata; pada 2024 tercatat realisasi tenaga kerja lebih dari 2.200 orang di kawasan tersebut.

Bayangkan apabila kawasan ini berkembang menjadi destinasi dengan satu juta wisatawan asing setiap tahun. Akan muncul puluhan ribu peluang kerja langsung maupun tidak langsung: hotel, restoran, transportasi, marina, olahraga air, golf, retail, event, pertanian pemasok hotel, ekonomi kreatif sampai UMKM masyarakat sekitar.

Inilah hubungan antara security, tourism and employment.

Tourism & Investment Security

Karena itu saya melihat sebuah kemungkinan yang menarik.

Mengapa Tanjung Lesung tidak dijadikan salah satu pilot project Tourism & Investment Security? 

Bukan dengan menambah sebanyak mungkin polisi, melainkan dengan membangun sebuah ekosistem keamanan modern.

Polisi pariwisata dapat dilatih untuk membantu wisatawan domestik dan internasional. Sistem emergency response harus terhubung dengan hotel, rumah sakit, pengelola kawasan dan aparat setempat. Pengamanan investasi harus memastikan tidak ada ruang bagi premanisme maupun pungutan liar. Community policing harus merangkul desa dan masyarakat di sekitar destinasi. Pada saat yang sama, program seperti Poliran dapat dihubungkan dengan pelatihan tenaga kerja untuk hotel, restoran, konstruksi, hospitality dan UMKM.

Dengan demikian polisi, pemerintah daerah, pengusaha dan masyarakat tidak bekerja sendiri-sendiri.

Kita menciptakan sebuah lingkaran positif:

More jobs → less unemployment → better security → more investment → more tourists → more jobs.

Model seperti ini nantinya tidak hanya berguna bagi Tanjung Lesung. Bila berhasil, pendekatannya dapat diterapkan di berbagai kawasan wisata Indonesia.

Polisi dan Pertumbuhan Ekonomi

Ada satu perubahan cara berpikir yang menurut saya penting.

Tugas menjaga keamanan memang merupakan tugas utama kepolisian. Tetapi keamanan yang baik menghasilkan dampak ekonomi yang luar biasa.

Negara yang aman memperoleh investasi lebih besar. Kota yang aman menarik lebih banyak pengusaha. Destinasi yang aman dikunjungi lebih banyak wisatawan. Masyarakat yang percaya kepada aparat akan lebih mudah bekerja sama menjaga lingkungannya.

Karena itu keamanan tidak berdiri terpisah dari pembangunan ekonomi.

Saya bahkan berpendapat bahwa dalam persaingan menarik investasi dunia saat ini, law and order merupakan bagian dari national competitiveness.

Indonesia sedang berusaha meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menciptakan jutaan lapangan pekerjaan baru. Pemerintah tidak dapat melakukannya sendiri. Dunia usaha juga tidak dapat melakukannya sendiri.

Kita membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, pengusaha, perguruan tinggi dan masyarakat.

Harapan dari Pandeglang untuk Indonesia

Tentu terlalu dini menilai kepemimpinan Kapolri yang baru.

Harapan publik sebaiknya juga tidak berubah menjadi kultus individu. Yang dibutuhkan Indonesia adalah pembangunan institusi yang kuat, profesional dan dipercaya masyarakat.

Namun rekam jejak seseorang dapat menunjukkan cara berpikirnya.

Program mendekatkan polisi kepada masyarakat, kepedulian terhadap pengangguran, serta ketegasan terhadap premanisme menunjukkan sebuah pemahaman bahwa keamanan tidak dapat hanya dibangun melalui penindakan.

Keamanan tumbuh apabila masyarakat mempunyai kepercayaan, kesempatan dan masa depan.

Sebagai seseorang yang telah lama berkecimpung dalam pembangunan kawasan, saya melihat peluang besar apabila prinsip tersebut dikembangkan lebih jauh.

Dan mungkin Pandeglang — tempat kelahiran Kapolri baru sekaligus lokasi Tanjung Lesung — dapat menjadi salah satu tempat untuk menunjukkan model itu kepada Indonesia.

Keamanan menciptakan kepercayaan.

Kepercayaan menciptakan investasi.

Investasi menciptakan pekerjaan.

Dan pekerjaan menciptakan kesejahteraan.

Jika kita dapat menyatukan keempatnya, maka keamanan tidak lagi hanya dipandang sebagai biaya.

Keamanan adalah investasi bagi pertumbuhan Indonesia.