INDUSTRY.co.id - BATU, Seperempat abad bukan sekadar penanda usia. Bagi Jawa Timur Park Group, 25 tahun menjadi perjalanan panjang untuk membangun wajah pariwisata yang tidak hanya menawarkan kebahagiaan, tetapi juga pengetahuan, konservasi, inovasi, pelayanan, dan satu hal yang semakin penting bagi wisatawan: rasa aman.
Perjalanan itu bermula dari Jatim Park 1 pada 2001. Dari sebuah taman rekreasi di Kota Batu, Jawa Timur Park Group kemudian berkembang menjadi salah satu pengelola destinasi wisata dengan jaringan yang luas. Lebih dari 20 theme park, empat museum, dan enam hotel kini menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Ekspansi tidak berhenti di Kota Batu. Destinasi yang dikelola juga hadir di berbagai daerah, antara lain Wisata Bahari Lamongan, Banyuwangi Park, hingga Krakatau Park di Lampung.
Perkembangan itu menunjukkan bahwa industri pariwisata tidak hanya bertumpu pada kemampuan menghadirkan atraksi, tetapi juga pada bagaimana sebuah destinasi terus beradaptasi dengan perubahan zaman dan kebutuhan pengunjung.
Di balik perjalanan tersebut, terdapat tiga unsur yang terus dipertemukan: rekreasi, edukasi, dan keselamatan.
Sejak awal berdiri, konsep rekreasi Jatim Park memang tidak semata-mata diarahkan sebagai tempat hiburan. Direktur Jatim Park Group, Rio Imam Sendjojo, mengatakan unsur edukasi telah menjadi bagian dari konsep pengembangan sejak Jatim Park 1 mulai dibangun.
“Mulai awal, kami sangat mengedepankan kreasi education and entertainment,” kata Rio.
Konsep edutainment itu kemudian berkembang. Wahana dan destinasi tidak hanya dirancang untuk memberikan pengalaman rekreasi, tetapi juga memperkenalkan pengetahuan, budaya, teknologi, serta konservasi kepada pengunjung.
Jatim Park 2, misalnya, memadukan pengalaman rekreasi dengan pengenalan satwa dan konservasi. Dino Park membawa pengunjung menjelajahi dunia prasejarah. Museum Musik Dunia, Museum Angkut, hingga Milenial Glow Garden menghadirkan pendekatan berbeda melalui tema musik, transportasi, teknologi, dan pengalaman visual.
Pengembangan konsep tersebut terus berlanjut. Memasuki usia 25 tahun, Jatim Park Group menyiapkan sejumlah fasilitas dan atraksi baru, termasuk Mega Science Center dan Budaya yang memuat pembelajaran tentang kimia, fisika, biologi, matematika, budaya, hingga teknologi robotika.
Ada pula rencana pengembangan akuarium bawah air serta fasilitas sport tourism melalui Sport Center di Jatim Park 3.
“Ke depan kami juga ingin konsen di sport tourism. Kami yakin sport tourism ini bisa menjadi bagian dari upaya membangun jiwa dan badan yang sehat,” ujar Rio.
Kreativitas pun menjadi bagian dari cara destinasi beradaptasi dengan generasi baru. Kolaborasi seni kontemporer bersama ilustrator lokal seperti Muklay menjadi salah satu upaya menghadirkan pendekatan visual yang lebih dekat dengan selera generasi muda.
Namun, semakin besar sebuah destinasi, semakin kompleks pula tanggung jawab yang menyertainya. Di antara berbagai atraksi dan inovasi, aspek keselamatan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pengalaman wisata.
Persoalan tersebut mengemuka dalam talk show pariwisata bertajuk “Ngobrolin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif” atau Ngoprek yang digelar di lingkungan Jawa Timur Park Group, Kota Batu, sebagai bagian dari rangkaian perayaan 25 tahun Jatim Park.
Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Krisis, Fadjar Hutomo, mengatakan keselamatan pariwisata tidak dapat dipandang sebatas persoalan keamanan wahana atau fasilitas yang berada di dalam objek wisata.
Menurut dia, keselamatan memiliki cakupan yang jauh lebih luas karena persepsi wisatawan terhadap keamanan sebuah destinasi dapat dipengaruhi oleh berbagai kejadian di luar kawasan wisata.
“Kecelakaan transportasi, walaupun tidak terkait langsung dengan tempat wisata, sangat berpengaruh. Pariwisata itu adalah tentang persepsi,” kata Fadjar.
Sebuah kecelakaan bus, kapal, tindak kriminalitas, hingga bencana alam dapat memengaruhi persepsi terhadap keamanan suatu wilayah. Karena itu, keselamatan pariwisata pada akhirnya menjadi persoalan lintas sektor yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
“Kita selalu mengatakan bahwa tourism is not only about beauty, but also safety,” ujarnya.
Risiko yang dihadapi pun beragam, mulai dari kecelakaan transportasi, wisatawan tenggelam, kecelakaan di kawasan wisata, hingga ancaman bencana seperti erupsi gunung api, gempa bumi, dan tsunami.
Penanganannya tidak mungkin dibebankan kepada satu institusi. Regulasi, pengawasan, pelaku usaha, sumber daya manusia, pemerintah, masyarakat, hingga media memiliki peran masing-masing dalam membangun ekosistem keselamatan pariwisata.
Keselamatan juga berkaitan dengan kesadaran wisatawan. Tidak seluruh risiko muncul akibat kerusakan fasilitas atau kelalaian pengelola. Dalam sejumlah kondisi, risiko dapat terjadi ketika pengunjung tidak mengikuti prosedur keselamatan yang telah ditetapkan.
“Kadang-kadang disuruh pakai pelampung, tapi wisatawannya menolak. Jadi ini juga menjadi bagian dari safety awareness,” kata Fadjar.
Karena itu, edukasi mengenai keselamatan menjadi penting, termasuk penyampaian aturan sejak wisatawan membeli tiket hingga berada di kawasan wahana. Standar operasional, kompetensi sumber daya manusia, sertifikasi, serta penerapan keselamatan dan kesehatan kerja atau K3 menjadi bagian dari proses tersebut.
Bagi Jatim Park Group, perhatian terhadap keselamatan juga diterapkan dalam pengelolaan operasional sehari-hari. Suryo Widodo, selaku Direktur JTP 3 mengatakan perusahaan memberikan pelatihan kepada karyawan serta melakukan sertifikasi yang berkaitan dengan kelayakan fasilitas dan wahana.
“Kami sangat konsen terhadap K3, baik untuk internal maupun eksternal,” katanya.
Pemeriksaan pun dilakukan sebelum wahana beroperasi. Public Relations Jatim Park Group, Titik S. Ariyanto, mengatakan pemeriksaan harian menjadi bagian dari prosedur untuk memastikan kesiapan wahana.
“Di wahana permainan, ada daily inspection sebelum beroperasi,” ujar Titik.
Informasi mengenai pemeliharaan atau wahana yang sedang menjalani perbaikan juga disampaikan melalui media sosial. Bagi pengelola, keterbukaan informasi menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan pengunjung.
Sebab, keselamatan pada era digital tidak berhenti pada aspek teknis.
Ketika sebuah insiden terjadi, persoalan dapat bergerak dengan cepat dari lokasi kejadian menuju layar ponsel. Informasi, potongan video, komentar, dan spekulasi dapat menyebar dalam hitungan menit. Karena itu, kemampuan berkomunikasi saat krisis menjadi bagian lain dari pengelolaan keselamatan destinasi.
“Krisis komunikasi di sosial media itu sangat luar biasa,” ujar Titik.
Tim komunikasi Jatim Park Group melakukan pemantauan terhadap komentar dan unggahan di media sosial serta menggunakan sistem early warning untuk mendeteksi informasi negatif yang berpotensi berkembang menjadi krisis.
Ketika sebuah informasi muncul, proses berikutnya adalah verifikasi. Fakta dikumpulkan sebelum pengelola menentukan bentuk komunikasi yang diperlukan.
Titik mencontohkan sebuah insiden ketika seorang siswa SMP terjatuh dari salah satu wahana Jatim Park. Informasi mengenai kejadian tersebut harus segera diverifikasi dan disampaikan kepada publik.
“Kurang dari 1 x 24 jam saya harus segera membuat klarifikasi,” katanya.
Hal serupa dilakukan ketika informasi mengenai kondisi seekor singa di Jatim Park 2 menjadi perhatian di media sosial. Dalam situasi semacam itu, transparansi dipandang penting agar informasi yang beredar tetap memiliki dasar fakta.
Di sinilah rekreasi, edukasi, dan keselamatan akhirnya bertemu.
Sebuah destinasi wisata tidak cukup hanya menghadirkan wahana baru. Di belakang setiap atraksi terdapat kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang kompeten, fasilitas yang terawat, prosedur keselamatan, komunikasi yang terbuka, serta edukasi kepada pengunjung.
Perjalanan 25 tahun Jatim Park Group memperlihatkan perubahan tersebut. Dari sebuah taman rekreasi, pengembangan kemudian bergerak menuju ekosistem yang mempertemukan hiburan dengan ilmu pengetahuan, konservasi, budaya, teknologi, olahraga, pelayanan, dan keselamatan.
Usia seperempat abad pun tidak lagi sekadar berbicara mengenai berapa banyak destinasi yang telah dibangun. Ia juga berbicara tentang bagaimana industri pariwisata beradaptasi dengan tuntutan wisatawan yang terus berubah.
Sebab pada akhirnya, kenangan wisatawan tidak hanya dibentuk oleh foto, wahana, atau pemandangan yang mereka temui. Ada pengalaman yang lebih mendasar dan sering kali tidak terlihat: keyakinan bahwa selama berada di sebuah destinasi, mereka mendapatkan pengalaman yang dikelola dengan aman, informatif, dan bertanggung jawab.
Dan bagi pariwisata yang ingin terus tumbuh, rasa aman bukanlah pelengkap pengalaman wisata. Ia adalah bagian dari pengalaman itu sendiri.