INDUSTRY.co.id - BATU- Jawa Timur, Musik ternyata tidak selalu harus didengar dari panggung. Di Museum Musik Dunia, Jatim Park 3, Batu, Jawa Timur, musik justru mengajak pengunjung berjalan dari satu ruang ke ruang lain, melihat alat musik dari berbagai belahan dunia, mengenal para musisi legendaris, hingga mencoba memainkan sejumlah instrumen yang tersedia.
Museum ini menjadi salah satu destinasi dalam rangkaian Media Trip & Experience Forwaparekraf ke JTP Group, 14–16 September 2026. Pada hari pertama, peserta diajak mengenal lebih dekat Jatim Park 3, termasuk Museum Musik Dunia yang terbagi dalam tiga lantai dengan karakter koleksi berbeda.
Menurut keterangan edukator Museum Musik Dunia, koleksi museum mencapai sekitar 300–400 item yang ditampilkan, sementara sebagian besar koleksi lainnya masih tersimpan di gudang. Secara keseluruhan, jumlah koleksi yang belum ditampilkan masih cukup besar karena keterbatasan ruang.
“Datangnya juga bertahap,” ujar Sony Rosandi saat menjelaskan proses pengumpulan koleksi.
Lantai pertama, perjalanan musik tradisi dunia
Memasuki lantai pertama, suasana langsung membawa pengunjung pada keragaman musik tradisional. Berbagai alat musik dari sejumlah negara dan kawasan ditempatkan berdasarkan wilayah, antara lain India, China, Eropa, Timur Tengah, Afrika, hingga berbagai daerah di Indonesia.
Yang menarik, museum tidak hanya menjadikan instrumen tersebut sebagai benda pajangan. Beberapa alat musik dapat dimainkan langsung oleh pengunjung.
Ada instrumen yang dimainkan dengan cara dipukul, dipetik, ditiup, maupun ditabuh. Pengalaman interaktif semacam ini menjadi bagian dari upaya museum memperkenalkan musik secara lebih dekat, terutama kepada pelajar.
“Tujuannya untuk mengedukasi masyarakat umum,” kata Sony.
Salah satu koleksi yang mendapat perhatian adalah drum set Terry Bozzio, drummer asal Amerika Serikat. Berdasarkan informasi resmi Museum Musik Dunia, koleksi tersebut disebut sebagai satu-satunya di Indonesia dan kedua di Asia.
Selain alat musik dari berbagai negara, lantai ini juga menampilkan instrumen tradisional Indonesia. Namun, koleksi yang dipajang baru sebagian kecil dari keseluruhan koleksi yang dimiliki museum.
Keragaman alat musik Indonesia sendiri ternyata jauh lebih kompleks daripada yang terlihat. Bahkan dalam satu rumpun alat musik seperti gamelan, terdapat perbedaan karakter antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Gamelan dari Malang, misalnya, memiliki karakter yang berbeda dengan gamelan Jawa Tengah. Sejumlah alat musik tradisional dari Jawa Timur juga masih terus diburu dan dikumpulkan.
Proses pencarian koleksi memang tidak sederhana. Museum memperoleh instrumen melalui pembelian, kolektor, serta tim JTP Group yang melakukan pencarian alat musik tradisional dari berbagai daerah dan negara.
“Masih banyak yang belum kami eksplor,” ujar Sony

Dari The Beatles hingga K-Pop
Jika lantai pertama membawa pengunjung pada akar musik tradisional, lantai kedua terasa jauh lebih populer dan modern.
Di sini, musik tidak lagi hanya hadir dalam bentuk instrumen, tetapi juga melalui figur musisi, memorabilia, gitar, poster, serta pengalaman audio. Berbagai genre musik diperkenalkan, mulai dari rock, jazz, pop hingga K-Pop.
Nama-nama besar dunia seperti The Beatles, Elvis Presley, Freddie Mercury, Bob Marley, Eric Clapton, Led Zeppelin, Metallica, Deep Purple, Queen, Michael Jackson, Beyoncé, Whitney Houston, Celine Dion, dan Adele hadir melalui koleksi museum.
Figur lilin sejumlah musisi juga menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung dapat berfoto bersama figur musisi favorit mereka, termasuk koleksi yang berkaitan dengan The Beatles, Elvis Presley, Freddie Mercury, serta musisi lainnya.
Untuk penggemar musik Korea, tersedia pula zona K-Pop yang menampilkan poster dan figur sejumlah artis, termasuk BTS dan PSY.
Sementara itu, musisi Indonesia mendapat ruang tersendiri. Salah satu bagian yang menarik adalah koleksi yang berkaitan dengan Gesang, pencipta lagu legendaris Bengawan Solo dan Jembatan Merah.
Bukan hanya foto atau memorabilia, sejumlah barang pribadi Gesang juga ditampilkan, mulai dari pakaian, topi, blangkon, seruling, tongkat, hingga penghargaan yang pernah diterimanya.
Menurut penjelasan edukator, sejumlah properti tersebut diwariskan melalui anak angkat Gesang. Koleksi tersebut menjadi bagian penting karena memperlihatkan bahwa sejarah musik tidak hanya tersimpan dalam rekaman lagu, tetapi juga melalui benda-benda yang pernah digunakan oleh sang musisi.
Museum juga menghadirkan sejumlah memorabilia musisi Indonesia lainnya, termasuk pakaian dan barang yang berkaitan dengan figur-figur musik populer Tanah Air.
Tiga lantai, tiga pengalaman
Perjalanan kemudian berlanjut ke lantai ketiga yang memiliki karakter berbeda. Lantai ini berfokus pada musik pop klasik dan piano klasik, termasuk instrumen-instrumen bersejarah yang berasal dari rentang masa yang panjang.
Salah satu daya tariknya adalah koleksi piano klasik yang berasal dari Eropa. Beberapa instrumen bahkan berusia lebih dari satu abad.
Ada pula koleksi instrumen mekanis seperti polyphon, yang memperlihatkan bagaimana teknologi reproduksi musik berkembang sebelum era rekaman digital seperti sekarang.
Kehadiran koleksi-koleksi tersebut membuat Museum Musik Dunia bukan hanya tempat untuk melihat alat musik, tetapi juga ruang untuk memahami perjalanan teknologi dan budaya musik dari masa ke masa.
Dari instrumen tradisional yang dimainkan dengan tangan, piano klasik, piringan hitam, hingga gitar dan memorabilia musisi modern, semuanya berada dalam satu rangkaian perjalanan.
Museum sebagai ruang belajar
Bagi pengelola, keberadaan museum tidak berhenti pada fungsi rekreasi. Sekolah menjadi salah satu target utama pengunjung karena museum dapat menjadi ruang pembelajaran alternatif.
Sejumlah sekolah musik dan institusi pendidikan juga disebut pernah berkunjung, termasuk untuk kepentingan pembelajaran maupun penelitian.
Anak-anak yang datang pun tidak selalu hanya diajak melihat koleksi. Mereka dapat mencoba sejumlah alat musik yang memang disediakan untuk dimainkan.
“Di sini mereka belajar, meskipun sekadar memukul atau memainkan alat musik,” kata edukator.
Gagasan tersebut menjadi penting karena musik diperkenalkan bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sebagai bagian dari kebudayaan. Anak-anak dapat mengenal dari mana sebuah alat musik berasal, bagaimana cara memainkannya, dan bagaimana musik berkembang dari tradisi menuju bentuk modern.
Museum Musik Dunia sendiri hadir bersamaan dengan pengembangan Jatim Park 3. Di kawasan yang sama, pengunjung juga dapat menemukan berbagai wahana lain, seperti Dino Park, The Legend Star Park, dan Millennial Glow Garden.
Dalam rangkaian kawasan wisata tersebut, Museum Musik Dunia mengambil ceruk yang berbeda: menggabungkan rekreasi dengan sejarah, koleksi, dan pengalaman bermusik.
Pada akhirnya, tiga lantai museum ini menawarkan satu perjalanan panjang dari alat musik tradisional