INDUSTRY.co.id - BATU, Hari kedua Media Trip & Experience Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) berlanjut ke sejumlah destinasi di Jatim Park Group, salah satunya Museum Angkut di Kota Batu, Jawa Timur.

Museum yang berada di kawasan Jatim Park Group tersebut menawarkan pengalaman wisata yang memadukan edukasi dan hiburan. Pengunjung tidak hanya diajak mengenal sejarah perkembangan transportasi, tetapi juga menikmati beragam pertunjukan yang digelar secara berkala.

Guest Relation Officer (GRO) Museum Angkut, Fiki Andrian, mengatakan Museum Angkut resmi berdiri pada 9 Maret 2014 dan diresmikan oleh Menteri Pariwisata saat itu, Arief Yahya.

"Museum Angkut berdiri 9 Maret 2014,” kata Fiki.

Museum Angkut berdiri di lahan hampir empat hektare dan terbagi dalam sejumlah zona tematik yang merepresentasikan berbagai negara maupun suasana, antara lain Zona Edukasi, Pecinan, Inggris, Gangster, Prancis, Buckingham, hingga Hollywood.

Koleksi yang ditampilkan juga cukup beragam. Museum ini memiliki lebih dari 300 koleksi kendaraan yang mencakup transportasi darat, laut, dan udara.

Salah satu koleksi tertua adalah Buick Model 10 buatan Amerika Serikat tahun 1910. Sementara itu, salah satu koleksi yang lebih baru adalah Toyota Yaris yang telah dimodifikasi menjadi kendaraan cabrio dan diberi nama Toyota Yaris Legian.

Menurut Fiki, sebagian besar kendaraan yang dipamerkan masih dalam kondisi berfungsi. Museum bahkan berupaya mempertahankan karakter asli kendaraan, termasuk bagian yang menunjukkan usia kendaraan.

 “Sekitar 80 sampai 90 persen masih berfungsi dengan sangat baik,” ujarnya.

Perawatan dilakukan secara berkala dengan sistem rolling karena tidak seluruh kendaraan selalu dioperasikan. Beberapa kendaraan juga membutuhkan suku cadang khusus yang terkadang harus dipesan dari luar negeri dan membutuhkan waktu cukup lama.

Selain koleksi kendaraan, daya tarik Museum Angkut diperkuat dengan berbagai pertunjukan. Di antaranya pertunjukan drifting pada sore hari, parade kendaraan, serta pertunjukan malam Girls and Gasolin.

Konsep tersebut menjadi bagian dari strategi Museum Angkut dalam menarik pengunjung dari berbagai kelompok usia.

Fiki menjelaskan, Museum Angkut mengusung konsep edutainment, yakni perpaduan edukasi dan entertainment.

“Kita bukan cuma mengedukasi masyarakat tentang kendaraan, tapi supaya tidak bosan, kita kasih show,” katanya.

Dari sisi kunjungan, Museum Angkut juga mencatat tingginya minat wisatawan. Pada hari biasa, jumlah pengunjung disebut dapat mencapai sedikitnya 600 orang, sedangkan pada akhir pekan jumlahnya bisa mencapai ribuan pengunjung.

Wisatawan domestik masih menjadi pasar utama. Namun, wisatawan mancanegara juga menjadi segmen yang terus dikembangkan. Malaysia, Singapura, dan China disebut menjadi sejumlah negara asal wisatawan asing yang cukup banyak berkunjung.

Untuk menarik wisatawan asing, Museum Angkut memberikan potongan harga khusus sebesar 20 persen.

Museum Angkut juga memiliki keterkaitan kuat dengan destinasi lain di Jatim Park Group. Salah satu paket yang banyak digunakan adalah kunjungan ke Jatim Park 1 yang dilanjutkan dengan Museum Angkut, terutama bagi rombongan study tour.

Segmen komunitas otomotif pun menjadi pasar potensial. Hampir setiap hari Museum Angkut menerima kunjungan komunitas otomotif dari berbagai daerah.

 “Respon komunitas otomotif bagus banget,” tutur Fiki.

Koleksi Museum Angkut tidak seluruhnya berasal dari pembelian. Sejumlah kendaraan dan alat transportasi diperoleh melalui hibah, termasuk helikopter yang disebut berasal dari Skadron Center di Bali. Di sisi lain, sejumlah koleksi lainnya diperoleh melalui pembelian.

Museum juga memiliki koleksi kendaraan dan transportasi yang memiliki nilai sejarah tersendiri. Salah satunya Ford GT40 MK1 yang pernah menjadi juara di ajang balap ketahanan Le Mans.

Kehadiran koleksi tersebut membuat Museum Angkut tidak hanya menjadi tempat rekreasi keluarga, tetapi juga menjadi salah satu tujuan bagi pencinta otomotif dan sejarah transportasi.

Untuk tiket masuk, Museum Angkut menerapkan tarif yang relatif sederhana dengan harga Rp110.000, baik pada hari biasa maupun akhir pekan. Tiket tersebut sudah mencakup akses ke berbagai zona dan pertunjukan reguler, sementara sejumlah wahana tambahan tersedia dengan sistem add-on.

Ke depan, pengelola juga menyiapkan sejumlah pengembangan. Di antaranya wahana simulator, seperti flight simulator dan simulator kendaraan.

Fiki mengatakan pembaruan koleksi dan pertunjukan dilakukan secara berkala agar pengalaman wisatawan tidak monoton.

 “Setiap tahunnya kita ada wahana baru, show baru, dan koleksi baru,” ujarnya.

Dengan perpaduan koleksi kendaraan bersejarah, zona tematik, pertunjukan, serta wahana interaktif, Museum Angkut menempatkan diri bukan sekadar sebagai museum, melainkan destinasi wisata yang menawarkan pengalaman belajar sekaligus hiburan bagi pengunjung.