INDUSTRY.co.id - Cikarang - President University dan University of Southern Queensland (UniSQ), Australia, menerima hibah kerja sama Indonesia-Australia senilai sekitar AUD 42.000 yang didukung oleh Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT). Hibah ini mendukung kolaborasi President University, UniSQ, dan Jababeka untuk meningkatkan pemahaman mengenai keberlanjutan di kalangan mahasiswa dan dunia industri.

Upaya ini menjadi semakin relevan karena perubahan menuju dunia yang lebih berkelanjutan tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga mulai memengaruhi kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja, cara perusahaan menjalankan bisnis, serta standar yang digunakan dalam pelaporan perusahaan.

Mempersiapkan Mahasiswa Menghadapi Perubahan Dunia Kerja

Melalui International Young Essay Competition, para peserta didorong untuk memahami berbagai persoalan keberlanjutan dan mengembangkan gagasan untuk menjawab tantangan tersebut. Kompetisi ini mendapat pendaftaran dari 200 tim yang berasal dari 14 negara, menunjukkan tingginya perhatian generasi muda terhadap isu yang akan semakin memengaruhi masa depan mereka.

Rangkaian kegiatan ini kemudian berlanjut melalui workshop pada 4 September yang dibarengi dengan pengumuman pemenang International Young Essay Competition. Kegiatan tersebut mengajak mahasiswa melihat bagaimana tren keberlanjutan dan perubahan regulasi mulai menciptakan kebutuhan serta peluang baru di berbagai profesi. 

Ketua Program Studi Akuntansi President University, Dr. Supeni Mapuasari, mengajak mahasiswa mempersiapkan diri sejak sekarang melalui pertanyaan, “Pada 2027, apakah Anda hanya akan membaca laporan keberlanjutan, atau ikut membuat dan memastikan keandalannya?” Memahami perubahan ini sejak bangku kuliah diharapkan membantu mahasiswa mengenali peluang, membangun kompetensi yang relevan, dan lebih siap mengambil peran ketika memasuki dunia kerja.

Hal ini sejalan dengan pernyataan Dekan Fakultas Bisnis President University, Prof. Dr. Anton Wachidin Widjaja, S.E., M.M., “Hal ini menjadi bagian dari upaya President University untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi lulusan yang mampu beradaptasi dengan perubahan, memahami kebutuhan dunia kerja, dan memiliki daya saing sebagai sarjana siap kerja.”

Mendorong Industri Menghadapi Perubahan Standar Keberlanjutan

Perubahan menuju dunia yang lebih berkelanjutan juga membawa kebutuhan baru bagi dunia industri. Berbagai perkembangan regulasi dan standar internasional mendorong perusahaan untuk semakin memperhatikan hubungan antara kegiatan bisnis dan lingkungan, termasuk bagaimana aktivitas perusahaan berdampak terhadap lingkungan dan bagaimana kondisi lingkungan dapat memengaruhi keberlangsungan bisnis.

Pada 3 September 2026, President University menggelar workshop bagi pelaku industri yang membahas perkembangan pelaporan keberlanjutan serta pemanfaatan teknologi untuk mendukung pengelolaan lingkungan. Salah satu pembahasan berfokus pada PSPK 1 dan PSPK 2, standar pelaporan keberlanjutan di Indonesia yang mengadopsi IFRS S1 dan IFRS S2. Melalui kegiatan ini, pelaku industri diajak memahami hubungan antara kegiatan perusahaan dan lingkungan, termasuk bagaimana aktivitas perusahaan berdampak terhadap lingkungan serta bagaimana perubahan lingkungan dapat memengaruhi keberlangsungan bisnis.

Prof. Syed Shams dari University of Southern Queensland menekankan pentingnya keterbukaan informasi lingkungan dan keberlanjutan bagi dunia usaha. “Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pengungkapan lingkungan dan keberlanjutan yang kredibel berkaitan dengan nilai perusahaan yang lebih tinggi, biaya pendanaan yang lebih rendah, dan ekspektasi kinerja masa depan yang lebih kuat,” jelasnya.

Sementara itu, Prof. Zahra Gharineiat dari University of Southern Queensland menyoroti pentingnya data lingkungan yang terukur bagi kesehatan, kepatuhan, dan reputasi perusahaan. “Data yang terukur dan dapat dilakukan secara berulang mengubah anggapan bahwa kualitas udara baik menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mengambil tindakan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan lingkungan,” ujarnya.

Seiring berkembangnya ketentuan pengelolaan lingkungan, kesiapan industri dalam memahami dan menerapkan regulasi menjadi semakin penting. Salah satunya adalah Peraturan Menteri Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2026 yang dibahas dalam workshop tersebut. Istringani, S.T., M.Si., Kepala Kepatuhan Regulasi Kawasan (ERC) serta Manajer Senior Bidang Air dan Lingkungan di PT Jababeka Infrastruktur, menyoroti penerapan regulasi tersebut dalam operasional industri dan pentingnya memastikan kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan.

Menghubungkan Pendidikan, Industri, dan Keberlanjutan

Kolaborasi President University, University of Southern Queensland, dan Jababeka dalam program ini mempertemukan pendidikan, keahlian akademik, teknologi, dan dunia industri untuk mendorong pemahaman serta praktik keberlanjutan. Berlangsung dari Juli hingga September 2026, program ini diharapkan membantu mahasiswa dan pelaku industri lebih siap menghadapi perubahan yang semakin memengaruhi dunia kerja dan dunia usaha. Melalui kolaborasi ini, President University turut mendorong kesiapan generasi muda sekaligus memperkuat peran dunia usaha dalam menjaga lingkungan.