INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Indonesia terus memperkuat hubungan kerja sama ekonomi kreatif dengan Amerika Serikat (AS). Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menerima kunjungan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (Dubes LBBP) RI untuk AS Dwisuryo Indroyono Soesilo di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Selasa (8/9).
Pertemuan tersebut membahas tindak lanjut Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia-AS 2024–2028, sekaligus mematangkan peluang kolaborasi dalam penyelenggaraan World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026.
Teuku Riefky mengatakan, Kementerian Ekraf membuka ruang seluas-luasnya bagi penguatan kerja sama dengan berbagai pihak di Amerika Serikat.
Menurutnya, kolaborasi tersebut penting untuk memastikan implementasi konkret dari Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia-AS, khususnya di sektor ekonomi kreatif.
“Kami sangat membuka pintu bagi kerja sama Indonesia dengan AS di berbagai subsektor, berbagai direktorat di bawah Kementerian Ekraf siap untuk bekerja sama lebih lanjut dengan berbagai pihak di AS untuk memastikan tindak lanjut dari Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia-AS,” ujar Teuku Riefky.
Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia-AS merupakan kesepakatan yang ditandatangani pada 2023 dan berlaku untuk periode 2024–2028. Kesepakatan tersebut mencakup rencana aksi di berbagai bidang, termasuk ekonomi kreatif.
Potensi pasar Amerika Serikat juga tercermin dari kinerja ekspor ekonomi kreatif Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kementerian Ekraf untuk periode Januari–April 2026, AS menjadi negara tujuan utama ekspor produk ekonomi kreatif Indonesia dengan nilai mencapai US$3,31 miliar.
Ekspor tersebut terutama ditopang subsektor fesyen dengan nilai US$2,80 miliar. Subsektor kriya menyusul dengan US$480 juta, sementara subsektor kuliner mencatatkan nilai ekspor sebesar US$15,55 juta.
Teuku Riefky menilai capaian tersebut menunjukkan besarnya peluang untuk memperluas penetrasi produk dan subsektor ekonomi kreatif Indonesia di pasar AS.
“Melalui kolaborasi strategis dengan Amerika Serikat sebagai mitra kunci, kita tidak hanya membuka jalur ekspor bagi subsektor unggulan seperti fesyen dan kriya, tetapi juga memperluas penetrasi subsektor lainnya untuk memperkuat jangkauan produk kreatif lokal di pasar global,” ujarnya.
WCCE 2026 Jadi Ruang Kolaborasi
Selain penguatan kerja sama bilateral, pertemuan tersebut turut membahas persiapan WCCE 2026. Forum internasional yang mengusung tema “Inclusively Creative: Collective Continuity” itu dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada 21–23 Oktober 2026.
WCCE 2026 ditargetkan dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari lebih dari 50 negara. Forum tersebut diharapkan menghasilkan Jakarta Vision on Creative Economy 2026 sebagai salah satu keluaran strategis dalam pengembangan ekonomi kreatif global.
Pemerintah Indonesia juga tengah menjajaki kehadiran delegasi tingkat tinggi dari AS, pelaku industri kreatif, serta pemangku kepentingan swasta. Sejumlah pihak yang turut dijajaki antara lain Microsoft dan pelaku di sektor kecerdasan artifisial (AI).
Dalam kesempatan yang sama, Indonesia dan AS membahas rencana penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Hollywood Chamber of Commerce (HCC).
Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat kolaborasi ekonomi kreatif kedua negara melalui sembilan bidang strategis. Cakupannya antara lain pengembangan ekonomi kreatif, film, televisi dan produksi media, investasi dan perdagangan, perlindungan kekayaan intelektual dan merek, teknologi dan inovasi, signature events, serta kolaborasi global.
Penandatanganan MoU ditargetkan berlangsung di sela-sela WCCE 2026 atau melalui mekanisme lain yang disepakati kedua pihak.
Sebelumnya, Kerja sama Indonesia–AS dalam ekonomi kreatif terus berkembang melalui berbagai inisiatif, mulai dari Creative Economy Forum 2025 dan workshop perlindungan HKI, hingga Hackathon AI for Creative Economy bersama AWS, pengembangan talenta digital bersama Microsoft, serta dukungan terhadap ekosistem esports melalui ASIED bersama Kedubes AS di Indonesia.
Sementara itu, Dubes LBBP RI untuk AS Dwisuryo Indroyono Soesilo menyampaikan ketertarikannya terhadap pengembangan ekonomi kreatif Indonesia, khususnya 21 subsektor yang diampu oleh Kementerian Ekraf.
“Kami berharap dapat mengidentifikasi lebih banyak peluang kolaborasi dan mengembangkan kerja sama konkret untuk bersama-sama memajukan ekonomi kreatif kedua negara. Sektor ekonomi kreatif ini sangat menarik dan memiliki potensi besar. Untuk langkah selanjutnya, dokumen ini akan kami tinjau terlebih dahulu sebelum nantinya kita tindak lanjuti bersama,” ujar Dubes Indroyono.