Harga Bitcoin hari ini, Kamis (4/9/2026), bergerak di kisaran US$ 80.099 atau sekitar Rp 1,34 miliar per koin. Bitcoin mengalami reli signifikan 6,3% pada 3 September lalu, menembus level US$ 80.000 setelah komentar dovish dari Gubernur The Fed Chris Waller yang sinyalkan peluang pemangkasan suku bunga. Volume transaksi kripto di Indonesia juga terus meningkat, dengan INDODAX mencatat kenaikan 16% menjadi Rp 8,7 triliun di Agustus 2026.

Highlights

  • Bitcoin reli 6,3% tembus US$ 81.812 setelah komentar dovish The Fed soal peluang pemangkasan suku bunga
  • ETF Bitcoin catatkan arus keluar US$ 202 juta, akhiri streak masuk 9 hari berturut-turut
  • Bernstein prediksi Bitcoin kembali ke US$ 125.000 pada akhir 2026
  • Volume transaksi INDODAX naik 16% menjadi Rp 8,7 triliun di Agustus 2026
  • Transaksi kripto Indonesia tembus Rp 20,52 triliun, menunjukkan adopsi yang terus meningkat

Daftar Isi

  1. Harga Bitcoin Hari Ini
  2. Bitcoin Reli 6,3% Tembus US$ 80.000
  3. ETF Bitcoin Catatkan Arus Keluar US$ 202 Juta
  4. Bernstein Prediksi Bitcoin ke US$ 125.000
  5. SEC Dorong Aturan Baru Kustodi Kripto
  6. Volume Kripto Indonesia Melonjak
  7. Analisis Teknis Bitcoin

Harga Bitcoin Hari Ini

Berikut data harga Bitcoin (BTC) per Kamis 4 September 2026:

Metrik Nilai
Harga BTC/USDUS$ 80.099
Harga BTC/IDRRp 1.344.054.914
Perubahan 24 Jam+1,69%
Market CapUS$ 1,61 Triliun
Volume 24 JamUS$ 15,4 miliar
All-Time High (2026)~US$ 126.000
Pasokan Beredar~20,1 juta BTC

Sumber: Binance, CoinDesk, CoinGecko, per 4 September 2026

Bitcoin Reli 6,3% Tembus US$ 80.000

Harga Bitcoin melonjak lebih dari 6,3% dalam satu hari pada 3 September 2026, menembus level psikologis US$ 80.000 dan mencapai US$ 81.812. Katalis utama reli ini adalah pernyataan dovish dari Gubernur The Fed Chris Waller yang mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja AS masih lemah dan mendekati "kecepatan macet" (stall speed).

Pernyataan ini meningkatkan ekspektasi pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat, yang secara historis menjadi sentimen positif untuk aset berisiko termasuk Bitcoin. Pelemahan dolar AS yang mengikuti komentar Waller juga turut mendongkrak harga BTC.

Namun, reli ini belum sepenuhnya mengubah tren. Bitcoin masih diperdagangkan jauh di bawah rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) yang dicapai pada akhir 2025 di sekitar US$ 126.000. Level US$ 82.000 telah berulang kali ditolak sebagai resistance dalam beberapa pekan terakhir.

Sumber: Forbes, 3 September 2026

ETF Bitcoin Catatkan Arus Keluar US$ 202 Juta

Setelah sembilan hari berturut-turut mencatatkan arus masuk (inflow) yang mengumpulkan sekitar US$ 3 miliar, ETF Bitcoin spot di AS mencatatkan arus keluar bersih US$ 201,8 juta dalam satu hari. Pembalikan ini terjadi ketika BTC sempat turun di bawah US$ 78.000 awal pekan ini.

Meskipun demikian, gambaran lebih luas tetap positif. Total kepemilikan di seluruh 12 dana ETF Bitcoin spot berada di sekitar 1,244 juta BTC dengan total aset US$ 97,6 miliar. Secara mingguan, arus masuk bersih masih positif di US$ 946 juta, meskipun turun 50% dari minggu sebelumnya sebesar US$ 1,9 miliar.

Institusi tetap menunjukkan akumulasi berkelanjutan dengan penambahan bersih sekitar 2.300 BTC selama seminggu, menandakan bahwa permintaan institusional belum mereda meskipun ada fluktuasi jangka pendek.

Sumber: FinanceFeeds, FXStreet, September 2026

Bernstein Prediksi Bitcoin Kembali ke US$ 125.000

Firma riset Wall Street Bernstein mengeluarkan prediksi bullish untuk Bitcoin, memproyeksikan BTC akan kembali ke level US$ 125.000. Bernstein melihat penurunan saat ini bersifat sementara, dengan peningkatan utang global dan meningkatnya adopsi institusional sebagai katalis utama.

Sebelumnya, Bernstein juga telah memproyeksikan target US$ 200.000 pada akhir tahun dan US$ 300.000 pada 2029. Prediksi ini sejalan dengan sentimen bullish dari berbagai analis yang melihat siklus Bitcoin saat ini belum mencapai puncaknya.

Sementara itu, kapitalisasi pasar gabungan perusahaan treasury aset digital (DAT) — perusahaan yang menyimpan kripto sebagai strategi neraca utama — telah mencapai sekitar US$ 340 miliar, naik 10% sejak pertengahan Agustus. Namun angka ini masih jauh di bawah puncak US$ 490 miliar saat Bitcoin mencapai rekor tertinggi.

Sumber: Cointelegraph, The Block, September 2026

SEC Dorong Aturan Baru Kustodi Kripto

Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) terus mendorong reformasi besar terhadap aturan kustodi aset kripto yang menargetkan penasihat investasi dan dana. Rancangan "Amendments to the Custody Rules" telah dikirim ke Kantor Manajemen dan Anggaran Gedung Putih untuk ditinjau.

SEC juga mengeluarkan agenda untuk meja bundar perdagangan 24 jam dan mengusulkan aturan agen transfer baru dengan implikasi blockchain yang signifikan. Langkah-langkah ini berpotensi menjembatani aset digital dengan infrastruktur sekuritas tradisional, membuka jalan bagi integrasi kripto yang lebih dalam ke sistem keuangan konvensional.

Perkembangan regulasi ini menunjukkan bahwa pemerintah AS semakin serius dalam menciptakan kerangka kerja yang jelas untuk aset digital, yang secara historis menjadi sentimen positif untuk pasar kripto jangka panjang.

Sumber: Cointelegraph, CoinDesk, September 2026

Volume Kripto Indonesia Melonjak

Pasar kripto di Indonesia menunjukkan tren penguatan yang signifikan. Volume transaksi di INDODAX, bursa kripto terbesar di Indonesia, naik 16% menjadi Rp 8,7 triliun selama Agustus 2026, dengan Bitcoin menjadi pemicu utama kenaikan.

Secara keseluruhan, total transaksi kripto di Indonesia telah menembus Rp 20,52 triliun. Menariknya, investor Indonesia tidak hanya melirik Bitcoin tetapi juga mulai mendiversifikasi ke aset kripto lainnya.

Meningkatnya literasi kripto melalui berbagai acara seperti Coinfest Asia 2026 dan dukungan regulasi dari OJK memberikan fondasi yang kuat untuk pertumbuhan adopsi kripto di Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.

Sumber: Kompas.com, Pasardana.id, RCTI+, September 2026

Analisis Teknis Bitcoin

Dari perspektif teknis, Bitcoin saat ini berada di zona krusial. Berikut beberapa level penting yang perlu diperhatikan:

  • Resistance utama: US$ 82.000 — level ini telah berulang kali ditolak dalam beberapa pekan terakhir
  • Support terdekat: US$ 78.000 — level yang diuji awal pekan ini sebelum reli
  • Support kuat: US$ 75.000 — zona akumulasi institusional
  • Target bullish: US$ 85.000 jika berhasil menembus US$ 82.000 dengan volume tinggi

Secara historis, September dikenal sebagai bulan yang bearish untuk Bitcoin (fenomena "September Effect"). Namun, beberapa analis berpendapat bahwa siklus 2026 bisa berbeda mengingat katalis fundamental yang kuat seperti adopsi institusional melalui ETF dan pelonggaran kebijakan moneter.

Indikator on-chain menunjukkan bahwa whale (pemegang BTC dalam jumlah besar) terus melakukan akumulasi, sementara pasokan Bitcoin di bursa terus menurun — dua sinyal yang secara historis mendahului pergerakan harga ke atas.

Key Takeaways

  • Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$ 80.099 (Rp 1,34 miliar), naik 1,69% dalam 24 jam terakhir
  • ETF Bitcoin spot masih menarik minat institusional meskipun ada arus keluar sesaat sebesar US$ 202 juta
  • Bernstein memproyeksikan BTC kembali ke US$ 125.000, dengan target jangka panjang US$ 300.000
  • Volume transaksi kripto di Indonesia naik 16%, menunjukkan adopsi yang terus meningkat
  • SEC mendorong aturan baru kustodi kripto yang bisa integrasikan aset digital ke sistem keuangan konvensional

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual aset kripto. Harga Bitcoin sangat fluktuatif dan investasi kripto memiliki risiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum berinvestasi.

Sumber data: Forbes, Cointelegraph, CoinDesk, Kompas.com, Binance, CoinGecko | Penulis: Dana Putra