INDUSTRY.co.id - JAKARTA – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) berhasil menjaga kinerja keuangan tetap solid pada semester I-2026 meski menghadapi tekanan biaya operasional dan penurunan produksi secara tahunan. Penguatan harga batubara global serta strategi penjualan yang lebih adaptif menjadi penopang utama kinerja emiten tambang pelat merah tersebut.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PTBA membukukan pendapatan usaha sebesar Rp22,03 triliun hingga 30 Juni 2026. Angka tersebut meningkat 8% secara tahunan atau year on year (YoY), meski volume penjualan justru turun 2% YoY.

Kenaikan pendapatan terutama ditopang oleh penguatan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) batubara yang naik 10% YoY. Penguatan tersebut sejalan dengan kenaikan Newcastle Index sebesar 25% YoY dan ICI-3 sebesar 15% YoY.

Dari sisi pasar, PTBA mencatat penjualan domestik masih mendominasi dengan porsi 51%, sedangkan 49% sisanya berasal dari pasar ekspor. Lima negara yang menjadi tujuan ekspor terbesar adalah Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand.

Kondisi tersebut ikut mengerek laba bersih PTBA. Hingga semester I-2026, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp2,65 triliun. Sementara itu, EBITDA tercatat Rp4,27 triliun, dengan net profit margin sebesar 12% dan EBITDA margin 19%.

Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan mengatakan perbaikan kinerja terutama terlihat pada kuartal II-2026. Produksi batubara meningkat 94% secara kuartalan, sementara penjualan tumbuh 8% dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada periode yang sama, ASP juga meningkat 14% secara kuartalan dan 10% secara tahunan.

“Memasuki periode dengan kondisi operasional yang lebih kondusif, Perseroan berhasil mendorong pemulihan kinerja produksi sekaligus memperkuat kinerja penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan,” kata Bambang dalam keterbukaan informasi, Selasa (1/9/2026).

Menurut dia, momentum penguatan harga batubara global dimanfaatkan perseroan melalui strategi penjualan yang adaptif. Pada saat yang sama, PTBA tetap menekan biaya melalui program efisiensi.

“Di tengah momentum penguatan harga batubara global, Perseroan mampu mengoptimalkan peluang pasar melalui strategi penjualan yang adaptif, yang didukung oleh pelaksanaan program efisiensi secara cermat dan tepat sasaran,” ujarnya.

Meski demikian, kinerja operasional PTBA belum sepenuhnya pulih jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Produksi batubara semester I-2026 tercatat turun 10% YoY, sementara volume angkutan turun 6% YoY.

Penurunan aktivitas tersebut turut menekan beban pokok pendapatan menjadi Rp17,78 triliun atau turun 2% YoY. Efisiensi juga terbantu oleh stripping ratio yang turun menjadi 5,26 kali dari sebelumnya 6,17 kali.

Namun, tekanan biaya energi masih menjadi tantangan. Konflik di Selat Hormuz yang terjadi sejak akhir Februari 2026 mendorong harga bahan bakar yang digunakan perseroan mencapai Rp19.503 per liter hingga 30 Juni 2026, naik 34% YoY. Kenaikan tersebut berdampak terhadap biaya bahan bakar untuk jasa penambangan maupun angkutan kereta api.

Tekanan biaya juga tercermin pada beban operasional yang meningkat Rp184,84 miliar atau 13% YoY, terutama akibat kenaikan beban umum dan administrasi.

Di sisi lain, PTBA mendapat tambahan kontribusi dari entitas asosiasi dan ventura bersama. Bagian atas laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama melonjak menjadi Rp438,30 miliar, dari Rp209,86 miliar pada semester I-2025.

Arus kas operasi pun menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan. Kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi mencapai Rp4,63 triliun, melonjak 108% dibandingkan Rp2,22 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama berasal dari meningkatnya penerimaan dari pelanggan.

Dengan posisi kas yang lebih kuat, PTBA terus menjalankan agenda ekspansi. Hingga akhir Juni 2026, belanja modal atau capital expenditure (capex) telah mencapai Rp1,09 triliun atau sekitar 30% dari target tahunan sebesar Rp3,64 triliun. Mayoritas capex dialokasikan untuk pengembangan angkutan batubara relasi Tanjung Enim-Kramasan.

Dari sisi neraca, total aset PTBA per 30 Juni 2026 mencapai Rp48,10 triliun, naik 10% dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp43,92 triliun. Liabilitas meningkat 7% menjadi Rp22,76 triliun, sedangkan ekuitas naik 12% menjadi Rp25,34 triliun.

Untuk sepanjang 2026, PTBA masih mempertahankan target produksi sebesar 49,55 juta ton dan volume penjualan 49,51 juta ton. Perusahaan juga menargetkan volume angkutan 41 juta ton dengan stripping ratio 5,63 kali dan capex Rp3,64 triliun.

Corporate Secretary Division Head PTBA Eko Prayitno mengatakan pemulihan operasional dan penguatan ekspor menjadi modal bagi perseroan untuk menjaga momentum kinerja hingga akhir tahun.

“Pemulihan kinerja operasional serta peningkatan penjualan ekspor menunjukkan kemampuan Perseroan dalam menjaga momentum pertumbuhan dan merespons dinamika pasar secara adaptif,” kata Eko.

Ia menambahkan, PTBA akan tetap mengandalkan efisiensi dan disiplin operasional untuk menjaga kinerja di tengah dinamika pasar komoditas.

“Dengan disiplin operasional dan pengelolaan bisnis yang prudent, Perseroan optimistis dapat menjaga kinerja yang sehat dan menciptakan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.