INDUSTRY.co.id - Jakarta, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih menjadi perbincangan publik. Di tengah kritik dan dukungan yang terus bermunculan, program prioritas pemerintah tersebut dinilai telah memberikan dampak nyata, bukan hanya dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi anak, tetapi juga terhadap kondisi ekonomi masyarakat lapisan bawah.

Pengamat Kebijakan Publik sekaligus pendiri Dipantara Institute dan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, R. Saddam Al Jihad, menilai pro dan kontra yang muncul di masyarakat merupakan bagian penting dari mekanisme pengawasan terhadap kebijakan pemerintah.

Menurut Saddam, kritik publik tidak semestinya dipandang sebagai ancaman. Sebaliknya, suara masyarakat dapat menjadi instrumen check and balance untuk memastikan pelaksanaan kebijakan tetap berada di jalur yang tepat.

“Saya kira yang paling pertama adalah check and balance system itu harus ada ya. Jadi keseimbangan antara pro dan kontra itu adalah bagian dari aksi dan reaksi dalam suasana public policy,” ujar Saddam.

Ia mengatakan ruang kritik perlu tetap terbuka, baik di media sosial maupun ruang publik. Menurutnya, komentar dan evaluasi masyarakat merupakan bentuk kepedulian yang dapat membantu pemerintah menemukan berbagai persoalan sekaligus memperbaiki kualitas implementasi program.

Saddam menambahkan, dinamika berupa aksi dan reaksi merupakan hal yang wajar dalam penyelenggaraan kebijakan publik. Karena itu, pemerintah perlu merespons kritik bukan dengan sikap defensif, melainkan melalui kerja nyata serta data faktual yang dapat diverifikasi di lapangan.

Dorong Pengawasan Partisipatif

Untuk memperkuat mekanisme check and balance, Saddam mendorong adanya pengawasan partisipatif dengan melibatkan elemen masyarakat secara langsung.

Ia mengusulkan agar Badan Gizi Nasional (BGN) membuka ruang bagi organisasi kemasyarakatan yang independen untuk ikut memantau operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), termasuk hingga tingkat desa.

Menurut Saddam, keterlibatan masyarakat dapat menjadi lapisan kontrol tambahan yang melengkapi mekanisme pengawasan formal yang telah dilakukan negara, baik melalui internal BGN, Inspektorat, maupun Kejaksaan.

Tidak hanya organisasi masyarakat, partisipasi netizen secara individu juga dinilai memiliki peran penting. Kritik yang disampaikan masyarakat, apabila dikelola secara konstruktif, dapat menjadi masukan untuk memperbaiki pelaksanaan MBG sekaligus meningkatkan kepercayaan publik.

“Jadi ruang kritik itu dibuka oleh negara untuk kemudian diadopsi dan negara mengevaluasi SPPG-nya. Makanya tadi saya bilang ada aksi dan reaksi. Jadi akhirnya di situ seimbang. Akhirnya masyarakat semuanya saya yakin dan percaya terus program ini,” tegasnya.

Riset RISED Jawab Keraguan Publik 

Di sisi lain, efektivitas MBG juga mulai terlihat melalui temuan riset di lapangan. Hasil penelitian Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) pada Februari 2026 menunjukkan mayoritas orang tua penerima manfaat memberikan penilaian positif terhadap program tersebut.

Survei yang melibatkan 1.800 orang tua itu menemukan bahwa 80 persen responden melihat anak mereka menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi setelah mengikuti program MBG.

Direktur RISED, M. Fajar Rachmadi, mengatakan perubahan juga terlihat pada kebiasaan makan anak. Sebanyak 55 persen orang tua menyatakan anak mereka menjadi lebih tidak pilih-pilih makanan setelah mendapatkan makanan melalui program MBG.

“Kehadiran MBG ini justru memberikan rasa tenang kepada keluarga ketika anak-anak mereka di sekolah dan survei kami menunjukkan, 55% orang tua setuju bahwa kebiasaan anaknya berubah menjadi tidak pilih-pilih makanan, setelah adanya program MBG,” terang Fajar.

Dukungan bahkan disebut lebih kuat di kalangan keluarga prasejahtera. Sebanyak 81 persen responden dari kelompok tersebut mendukung keberlanjutan MBG karena program dinilai memberikan jaminan pemenuhan makanan bergizi bagi anak secara rutin.

“Menariknya lagi, ketika anak-anaknya bisa mendapatkan makanan di sekolah, orang tua juga merasa aman. Rasa aman ini timbul karena para orang tua yang kami survei yakin bahwa anak-anaknya mendapatkan makanan bergizi rutin melalui program MBG,” tegas Fajar.

Temuan tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara riuhnya narasi negatif di ruang digital dengan pengalaman mayoritas penerima manfaat di lapangan. Karena itu, kritik publik dan hasil riset dinilai tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang berseberangan.

Justru, kritik yang konstruktif dapat menjadi mekanisme check and balance, sementara data lapangan menjadi pijakan untuk mengukur efektivitas sekaligus memperbaiki kekurangan program.

Dengan kombinasi pengawasan publik dan evaluasi berbasis data, MBG diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan kualitas konsumsi pangan anak, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempersiapkan generasi penerus menuju Indonesia Emas 2045.