INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan awal pekan, membuka ruang penguatan bagi sejumlah mata uang utama seperti poundsterling, euro, dolar Australia, hingga yen Jepang. Pelemahan Greenback terjadi seiring berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) serta rencana Departemen Keuangan AS meningkatkan pembelian kembali obligasi pemerintah berjangka panjang.
Tekanan terhadap dolar AS tercermin dari Indeks Dolar AS (DXY) yang bergerak di sekitar 98,80, mendekati level terendah dalam lebih dari tiga bulan. Rencana buyback obligasi pemerintah AS dinilai dapat meredam kenaikan imbal hasil surat utang, sekaligus mengurangi daya tarik dolar AS.
Poundsterling menjadi salah satu mata uang yang mencatat penguatan cukup solid. Pasangan GBPUSD bergerak ke area 1,3642 pada perdagangan Senin pagi, sekaligus berada di dekat level tertinggi sejak Februari. Penguatan tersebut memperpanjang tren bullish yang telah berlangsung hampir sebulan.
“Dolar AS masih berada di bawah tekanan dan bergerak di sekitar level terendah dalam lebih dari tiga bulan,” demikian sentimen pasar yang tercermin dalam pergerakan GBPUSD. Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat juga menurun seiring tanda-tanda meredanya tekanan harga di AS.
Meski demikian, reli poundsterling belum sepenuhnya aman. Eskalasi hubungan AS dan Iran menjadi risiko utama bagi mata uang Inggris tersebut. Rencana sanksi ekonomi AS terhadap Iran serta ancaman penghentian ekspor minyak melalui Selat Hormuz berpotensi meningkatkan permintaan dolar AS sebagai aset safe haven.
Kenaikan harga minyak juga menjadi faktor yang perlu dicermati. Lonjakan harga energi dapat kembali mendorong tekanan inflasi global dan pada akhirnya mempersempit ruang bagi pelemahan dolar AS.
Pasar kini menanti sejumlah agenda penting dari AS. Rilis Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index pada Rabu serta pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam Jackson Hole Symposium akan menjadi katalis penting untuk membaca arah kebijakan moneter bank sentral AS. Secara teknikal, GBPUSD memiliki level support di 1,3580 dan resistance di 1,3700.
Penguatan juga terjadi pada euro. EURUSD naik untuk hari keempat berturut-turut dan bergerak di sekitar 1,1678. Selain tekanan terhadap dolar AS, euro memperoleh dukungan dari inflasi kawasan Eropa yang masih berada di atas target European Central Bank (ECB), sehingga ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat tetap terjaga.
Pasar juga mencermati berkurangnya likuiditas berlebih di sistem keuangan Eropa yang berpotensi memengaruhi prospek kebijakan ECB. Namun, euro masih menghadapi risiko dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang dapat kembali mengangkat permintaan terhadap dolar AS. EURUSD memiliki support 1,1620 dan resistance 1,1720.
Sementara itu, dolar Australia menguat ke sekitar 0,7166 terhadap dolar AS. AUDUSD ikut mendapatkan tenaga dari pelemahan Greenback setelah rencana peningkatan pembelian kembali obligasi pemerintah AS berjangka panjang diumumkan.
Perhatian pasar Australia selanjutnya tertuju pada risalah rapat Reserve Bank of Australia (RBA) yang akan dirilis Selasa. Data pasar tenaga kerja juga menjadi sorotan setelah jumlah pekerjaan pada Juli justru turun 15.800, berlawanan dengan ekspektasi kenaikan 12.000. Kondisi tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga RBA, terutama menjelang rilis data inflasi Juli.
Secara teknikal, AUDUSD memiliki support di 0,7120 dan resistance di 0,7200.
Dari Selandia Baru, NZDUSD bergerak menguat ke sekitar 0,5975 dan mendekati level tertinggi dalam tiga bulan. Penguatan kiwi terutama ditopang pelemahan dolar AS. Namun, prospek NZD masih dibayangi tekanan dari perekonomian domestik setelah penjualan ritel kuartal II turun 0,5%, berlawanan dengan ekspektasi pertumbuhan 0,1% dan berbalik dari kenaikan 1% pada kuartal sebelumnya.
Pelemahan konsumsi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap pemulihan ekonomi Selandia Baru. Kendati demikian, ekspektasi kenaikan suku bunga Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) pada September, di tengah inflasi yang masih tinggi, berpotensi menjadi penopang bagi NZD. Level support NZDUSD berada di 0,5940, sedangkan resistance di 0,6000.
Berbeda dengan mata uang komoditas dan Eropa, yen Jepang justru mendapatkan dukungan dari prospek perubahan kebijakan Bank of Japan (BoJ). USDJPY melemah untuk hari kedua berturut-turut ke sekitar 158,93 setelah data inflasi Jepang yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa BoJ dapat menaikkan suku bunga lebih awal, termasuk pada pertemuan September.
Prospek tersebut sejalan dengan arah kebijakan BoJ yang semakin mengarah pada normalisasi moneter. Di saat yang sama, tekanan terhadap dolar AS akibat rencana buyback obligasi pemerintah AS turut menekan USDJPY. Namun, risiko geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi penahan pelemahan dolar AS karena berpotensi meningkatkan permintaan terhadap Greenback sebagai aset safe haven.
USDJPY memiliki support di 158,50 dan resistance di 159,10.
Franc Swiss juga menguat di tengah tekanan terhadap dolar AS. USDCHF bergerak melemah ke sekitar 0,8005, sementara DXY berada di sekitar 98,80. Pelemahan dolar AS didorong oleh meredanya tekanan inflasi dan berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Di sisi lain, franc Swiss turut memperoleh dukungan dari statusnya sebagai aset aman. Ketidakpastian geopolitik yang meningkat membuat permintaan terhadap mata uang safe haven berpotensi tetap tinggi. Secara teknikal, USDCHF memiliki support di 0,7980 dan resistance di 0,8040.
Sementara itu, USDCAD melemah ke sekitar 1,3797 setelah sebelumnya menguat. Dolar Kanada mendapatkan dukungan dari pelemahan dolar AS serta potensi kenaikan harga minyak akibat risiko gangguan pasokan di tengah ketegangan AS-Iran.
Namun, prospek CAD masih dibayangi ketegangan perdagangan antara AS dan Kanada. AS telah menerapkan tarif 50% terhadap sejumlah produk Kanada, sementara Kanada merespons dengan rencana pemberlakuan tarif balasan mulai September.
Dengan demikian, arah pasar valuta asing pada awal pekan ini masih sangat ditentukan oleh kombinasi kebijakan moneter, perkembangan pasar obligasi AS dan risiko geopolitik. Pelemahan dolar AS memberikan ruang bagi mata uang utama untuk melanjutkan penguatan, tetapi eskalasi konflik AS-Iran dan potensi lonjakan harga minyak dapat sewaktu-waktu mengubah arus dana kembali menuju Greenback sebagai aset safe haven.