INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Harga emas kembali menguat pada pembukaan perdagangan Senin (24/8/2026), terdorong pelemahan dolar AS, meningkatnya ketidakpastian kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS), serta permintaan aset safe haven di tengah kembali meningkatnya risiko geopolitik.

Harga emas dibuka di level US$4.608 per troy ons. Penguatan tersebut terjadi ketika perhatian pasar kembali tertuju pada hubungan AS-Iran dan risiko terhadap akses perdagangan melalui Selat Hormuz.

Dari sisi moneter, ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Federal Reserve (The Fed) mulai bergeser. Pasar kini mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga, meski peluang pengetatan kebijakan moneter pada September masih terbuka.

Saat ini, pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September berada di sekitar 40%. Investor juga mulai mencermati pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam Jackson Hole pada Jumat (28/8), yang berpotensi memberikan petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter AS.

Selain pidato Warsh, data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini menjadi katalis penting bagi pergerakan harga emas. Konsensus pasar memperkirakan inflasi inti atau core inflation Juli berada di sekitar 3,3% secara tahunan.

Inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi berpotensi kembali menekan dolar AS dan imbal hasil obligasi sehingga memberikan ruang bagi harga emas untuk melanjutkan penguatan. Sebaliknya, data inflasi yang lebih tinggi dapat mendorong penguatan dolar dan yield sehingga memicu aksi ambil untung pada emas.

Dalam jangka menengah, prospek emas masih ditopang sejumlah faktor struktural. Pelemahan dolar AS, ketidakpastian fiskal AS, peningkatan permintaan dari bank sentral, serta risiko geopolitik menjadi katalis yang menjaga daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Secara teknikal, harga emas memiliki level support terdekat pada kisaran US$4.533 hingga US$4.459 per troy ons. Sementara itu, area resistance terdekat berada di US$4.657 hingga US$4.707.

Jika tekanan jual meningkat, harga emas berpotensi menguji support lebih dalam di sekitar US$4.335. Adapun untuk jangka menengah, resistance berikutnya berada di area US$4.831 per troy ons.

Dengan demikian, arah harga emas dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada kombinasi pergerakan dolar AS, yield obligasi, data inflasi AS, serta sinyal kebijakan The Fed. Di tengah ketidakpastian tersebut, emas masih memiliki fondasi kuat sebagai aset safe haven.