INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Harga minyak mentah bergerak bearish pada awal perdagangan Senin (24/8/2026), tertekan oleh harapan pulihnya kembali aliran minyak Irak melalui Selat Hormuz. Namun, pasar masih dibayangi risiko geopolitik setelah Amerika Serikat (AS) menyiapkan sanksi ekonomi besar terhadap Iran dan Teheran mengancam menghentikan seluruh aliran minyak dari kawasan Teluk Persia.

Sentimen positif dari sisi pasokan datang setelah pejabat Irak Nizar Amidi menyatakan Iran telah memberikan izin kepada sejumlah kapal tanker minyak Irak untuk melintasi Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir. Baghdad juga disebut telah membahas ekspor minyak Irak melalui jalur strategis tersebut dengan pejabat Iran.

Amidi mengatakan pemerintah Irak tidak akan membiarkan wilayahnya digunakan untuk melancarkan serangan terhadap negara lain. Pernyataan tersebut turut memberikan sinyal meredanya sebagian ketegangan di kawasan Timur Tengah yang sebelumnya menjadi salah satu penopang harga minyak.

Upaya de-eskalasi juga terlihat dari pertemuan delegasi tingkat tinggi Suriah dan Israel di Yordania pada Minggu. Dengan mediasi AS, pembicaraan tersebut berfokus pada upaya meredakan ketegangan sekaligus menghidupkan kembali negosiasi menuju kesepakatan keamanan, menurut kantor berita negara Suriah, SANA, yang mengutip sumber diplomatik.

Meski demikian, tekanan terhadap harga minyak berpotensi kembali berbalik menjadi bullish apabila AS benar-benar memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan menggelar konferensi pers pada Senin pukul 14.00 EDT atau 18.00 GMT untuk mengumumkan sanksi finansial terbesar yang akan dikenakan terhadap Iran.

Bessent juga mengisyaratkan bahwa kebijakan tersebut tidak hanya menyasar Iran, tetapi juga negara-negara yang masih mempertahankan hubungan ekonomi dan keterkaitan dengan sistem keuangan Iran. Langkah ini berpotensi meningkatkan risiko gangguan terhadap perdagangan minyak Iran dan memperbesar ketidakpastian pasokan global.

Risiko tersebut semakin besar setelah Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei memberikan peringatan keras. Dia mengisyaratkan bahwa jika perang ekonomi berlanjut, Teheran dapat menghentikan aliran minyak secara total, baik melalui Selat Hormuz maupun dari titik mana pun di Teluk Persia.

Rezaei juga memperingatkan bahwa Iran akan menganggap partisipasi atau dukungan negara mana pun terhadap perang ekonomi AS terhadap rakyat Iran sebagai tindakan perang. Ancaman tersebut menjadi faktor yang perlu dicermati pasar karena Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global.

Dengan demikian, pasar minyak kini menghadapi tarik-menarik antara prospek membaiknya aliran pasokan Irak dan meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat eskalasi konflik AS-Iran. Jika ketegangan meningkat, sentimen geopolitik berpotensi kembali menjadi penggerak utama harga minyak dalam jangka pendek.

Dari sisi teknikal, harga minyak berpotensi menguji level resistance terdekat di US$88 per barel. Namun, apabila tekanan bearish kembali menguat akibat katalis negatif, harga berpeluang bergerak turun menuju level support terdekat di US$83 per barel.

Pergerakan harga selanjutnya akan sangat bergantung pada realisasi sanksi AS terhadap Iran serta respons Teheran terhadap tekanan ekonomi tersebut. Pasar akan mencermati apakah ancaman Iran untuk menghentikan aliran minyak hanya menjadi retorika geopolitik atau benar-benar berujung pada gangguan pasokan di kawasan Teluk Persia.