INDUSTRY.co.id - Jakarta, Sepiring makanan bergizi di sekolah ternyata membawa cerita lebih panjang bagi anak-anak di Kabupaten Tojo Una-Una. Sejak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir, sejumlah siswa sekolah dasar mengaku tidak hanya merasa lebih kenyang, tetapi juga lebih berenergi dan siap mengikuti pelajaran.

Pengalaman itu diceritakan tiga siswa, yakni Gayatri Kalyani Taha, siswi kelas 6 SDN 1 Ratolindo, Andi Arkan Raffi dari SD IT Al-Wahdah Tojo Una-Una, serta Muhammad Rizat Wikaldi dari SDN 1 Ampana Kota.

Bagi Gayatri, manfaat MBG terasa bahkan sebelum makanan tersaji. Program tersebut membuat orang tuanya lebih tenang ketika ia berangkat sekolah tanpa membawa bekal maupun uang jajan.

"Orang tua saya sudah tidak perlu khawatir lagi kalau kami kelaparan di sekolah karena sudah ada program Makan Bergizi Gratis yang diberikan kepada kami," ujar Gayatri.

Raffi memiliki pengalaman serupa. Ia kini lebih jarang membawa uang jajan dan orang tuanya tidak selalu harus menyiapkan sarapan atau bekal. Namun, menurutnya, perubahan paling menarik justru terjadi pada cara ia memandang makanan.

Jika sebelumnya makanan sekadar dianggap sebagai penghilang rasa lapar, kini ia mulai mengenali fungsi gizi dari setiap bahan makanan. Nasi, misalnya, menjadi sumber karbohidrat, daging mengandung protein, sayuran menyediakan vitamin, sedangkan buah menjadi sumber serat.

"Dulu saya berpikir makan hanya untuk menghilangkan rasa lapar. Sekarang saya sudah paham bahwa makanan itu banyak manfaat gizinya. Saya mulai terbiasa menyantap sayur dan buah yang sebelumnya kurang suka," kata Raffi.

Sementara itu, Rizat melihat dampak MBG dari sisi kesiapan belajar. Sebelum program berjalan, ia kerap melihat teman-temannya kurang fokus mengikuti pelajaran karena belum sarapan.

Kondisi tersebut, kata dia, tidak selalu disebabkan oleh keengganan anak untuk makan. Sebagian orang tua harus berangkat bekerja lebih pagi sehingga tidak sempat menyiapkan makanan, sementara anak-anak lainnya memiliki alasan berbeda untuk melewatkan sarapan.

Setelah MBG hadir, Rizat melihat perubahan suasana di kelas.

"Setelah kami mendapatkan program ini, saya melihat teman-teman menjadi lebih berenergi dan lebih fokus," tutur Rizat.

Meski demikian, Rizat tidak menganggap makanan bergizi sebagai jalan pintas menuju prestasi. Menurutnya, asupan gizi membantu menyiapkan tubuh untuk belajar, tetapi hasil pendidikan tetap membutuhkan kemauan belajar dan dukungan orang tua.

Pandangan tersebut sejalan dengan pengalaman Gayatri dan Raffi. Keduanya merasakan tubuh yang lebih siap setelah makan sehingga lebih mudah berkonsentrasi dan mengikuti pelajaran.

Dengan kata lain, bagi mereka, MBG bukan pengganti proses belajar. Program itu lebih seperti bekal yang membantu anak datang ke ruang kelas dalam kondisi lebih siap.

Menu Diminta Lebih Variatif 

Di balik manfaat yang dirasakan, ketiga siswa juga menyampaikan sejumlah catatan. Mereka menilai menu MBG secara umum sudah baik dan enak, tetapi selera anak-anak berbeda-beda.

Ada yang lebih menyukai ayam dibandingkan ikan, memilih tempe daripada tahu, atau masih belum terbiasa dengan sayuran dan telur.

Raffi mengaku tetap berusaha menghabiskan makanan yang diberikan. Selain untuk memenuhi kebutuhan gizi, ia tidak ingin makanan yang sudah disiapkan berakhir sia-sia.

Gayatri juga memilih bersyukur atas makanan yang diterimanya meski mengakui ada beberapa menu yang belum sesuai dengan selera. Karena itu, ia berharap rasa dan variasi makanan terus ditingkatkan agar siswa tidak mudah bosan.

Rizat memiliki pandangan yang sedikit berbeda. Menurutnya, MBG memang tidak semestinya hanya mengikuti makanan yang paling disukai anak. Tujuan utamanya tetap memastikan kebutuhan gizi terpenuhi.

Namun, bukan berarti variasi menu tidak diperlukan. Ia mengusulkan bahan makanan seperti telur, ayam, dan nasi diolah dengan cara berbeda sehingga menu tidak terasa monoton dari hari ke hari.

Ketepatan waktu distribusi juga menjadi perhatian. Menurut Rizat, makanan yang sampai tepat waktu akan lebih terjaga kehangatan dan kesegarannya ketika disantap siswa.

Ia juga berharap anak-anak memperoleh edukasi sederhana mengenai kandungan makanan di dalam piring mereka. Dengan begitu, siswa tidak hanya menerima makanan, tetapi memahami alasan mengapa makanan tersebut penting bagi tubuh.

Di sisi lain, pemerintah dan sekolah dinilai perlu membuka ruang masukan dari guru, orang tua, serta siswa sebagai penerima manfaat langsung program.

Jangan Sampai Makanan Terbuang

Sisa makanan menjadi persoalan lain yang menarik perhatian ketiga siswa.

Gayatri mengaku sedih ketika melihat makanan dibuang. Baginya, setiap porsi makanan bukan sekadar hidangan yang datang ke sekolah, tetapi juga hasil kerja para petugas dapur yang telah menyiapkannya.

Raffi pun masih melihat beberapa teman tidak menghabiskan makanan karena persoalan selera. Karena itu, menurutnya, perbaikan variasi menu perlu berjalan bersama pembiasaan agar siswa belajar menghargai makanan.

Cerita Rizat menunjukkan bahwa arti satu porsi MBG bahkan dapat melampaui jam sekolah. Ia mengetahui ada siswa yang menyisakan sebagian makanan untuk dibawa pulang dan disantap kembali di rumah.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa bagi sebagian keluarga, makanan sekolah dapat memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar menu makan siang. Satu porsi makanan dapat menjadi tambahan asupan bagi anak dan keluarganya.

Karena itu, ketiganya menilai MBG layak diteruskan dengan perbaikan secara berkelanjutan.

Pemerintah, menurut mereka, memiliki peran dalam memastikan anggaran, kualitas makanan, serta pengawasan. Sekolah dan guru bertugas mengawal pelaksanaan sekaligus memberikan edukasi. Orang tua memberikan dukungan, sementara siswa memiliki tanggung jawab untuk menghargai dan menghabiskan makanan yang diterima.

Harapan dari Anak-anak

Bagi Rizat, keberlanjutan MBG juga harus diikuti pemerataan akses. Ia berharap pembangunan dapur pelayanan diperluas hingga wilayah terpencil sehingga manfaat program tidak hanya dirasakan anak-anak yang berada di pusat kota.

Gayatri berharap kualitas rasa dan kandungan gizi tetap menjadi perhatian. Raffi berharap MBG dapat terus membantu memenuhi kebutuhan gizi anak-anak Indonesia.

Di antara berbagai evaluasi tersebut, pesan Rizat terdengar sederhana, tetapi menyentuh persoalan pemerataan.

"Saya ingin MBG ini berkembang lebih baik setiap harinya, menunya lebih bervariasi, dan pemerintah mau menerima masukan. Bangun juga dapur-dapur di daerah terpencil agar anak-anak di sana dapat merasakan manfaat Makan Bergizi Gratis," ujar Rizat.

Bagi ketiga siswa itu, MBG pada akhirnya bukan hanya tentang makanan yang dibagikan di sekolah. Program tersebut juga menjadi pengalaman belajar tentang gizi, kebiasaan makan, kepedulian terhadap makanan, dan pentingnya bekerja bersama agar setiap anak memperoleh kesempatan belajar dalam kondisi yang lebih baik.