INDUSTRY.co.id - Dulu, di pinggiran Serpong, hanya ada hamparan kebun karet tua dan semak belukar. Tidak ada jalan besar, tidak ada listrik, tidak ada pusat belanja, apalagi perkantoran. Saking terpencil dan minimnya akses, tidak banyak alasan bagi orang untuk datang ke sana.
Warga setempat bahkan punya sebutan sendiri untuk menggambarkan kondisi ekstrem tersebut: “tempat jin buang anak.” Sebuah seloroh yang mengisyaratkan bahwa jin pun akan berpikir dua kali sebelum membuang anaknya ke wilayah itu.
Namun, di tengah hamparan tanah sepi itu, ada satu orang yang melihat sesuatu yang sama sekali berbeda. Namanya Ciputra.
Ketika kebanyakan orang hanya melihat tanah kosong tak berharga, ia justru melihat sebuah masa depan.
Visi Ciputra bukan sekadar mendirikan kompleks perumahan biasa, melainkan membangun sebuah kota mandiri terintegrasi—tempat di mana rumah, sekolah, pusat belanja, kawasan bisnis, hingga ruang hidup dan kerja melebur jadi satu. Gagasan itu terdengar terlalu utopis untuk lahan terpencil di Serpong, tetapi bagi Ciputra, di situlah letak tantangannya.
Mimpi yang Dimulai dari Tanah Kosong
Pada 16 Januari 1984, mimpi di atas tanah kosong itu mulai menampakkan wujudnya melalui PT Bumi Serpong Damai. Di belakang proyek raksasa ini, berdiri konsorsium kuat yang terdiri dari 11 perusahaan besar, termasuk Sinar Mas dan Salim Group. Skalanya pun tidak main-main. Lahan seluas sekitar 6.000 hektare disiapkan dengan nilai investasi awal yang fantastis pada masanya, mencapai Rp3,2 triliun.
Namun, membangun kota jauh berbeda dengan membangun rumah. Jika membangun rumah Anda bisa langsung menyelesaikannya setelah bangunan fisik berdiri dan terjual, kota membutuhkan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang: waktu dan populasi.
Jalan harus dibangun sebelum ada kendaraan yang melewatinya, dan pusat komersial harus didirikan sebelum ada orang yang datang berbelanja. Kantor membutuhkan pekerja, sekolah membutuhkan murid, dan seluruh ekosistem tersebut membutuhkan populasi yang tidak bisa diciptakan dalam semalam.
Lima tahun setelah proyek dimulai, tepatnya pada 16 Januari 1989, Menteri Dalam Negeri Rudini meresmikan proyek kota mandiri tersebut. Rumah-rumah pertama mulai berdiri di klaster Puspita Loka, Giri Loka, dan Kencana Loka.
Secara administratif, sebuah kota telah lahir, tetapi secara ekonomi ia masih tertatih mencari napas. Akses menuju kawasan lain masih sangat terbatas dan penjualan belum bergerak secepat yang dibutuhkan oleh proyek sebesar itu. Modal, tanah, dan visi memang tersedia, namun waktu belum sepenuhnya berpihak.
1998: Ketika Dunia Berubah
Dalam dunia bisnis, ada mimpi yang gagal karena perencanannya yang buruk. Namun, ada pula mimpi yang sebenarnya sudah direncanakan dengan matang, tetapi tiba-tiba dunia berubah di luar kendali. BSD harus menghadapi skenario kedua ketika Krisis Moneter 1998 menghantam Indonesia.
Seketika, kredit mengetat, daya beli masyarakat jatuh bebas, pembeli menghilang, dan proyek-proyek properti tersendat. Ciputra sedang membangun masa depan, sayangnya masa depan itu dibangun pada waktu yang salah.
Krisis hebat tersebut akhirnya menyeret BSD ke dalam restrukturisasi aset. Sebagian saham perusahaan terpaksa masuk ke tangan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) untuk menangani persoalan kredit bermasalah.
Di titik itulah ironi terbesar terjadi: orang pertama yang melihat potensi kota di tengah kebun karet itu harus melepaskan kendalinya.
Sinar Mas, yang sejak awal merupakan bagian dari konsorsium, kemudian mengambil alih saham tersebut dan resmi menjadi pemegang saham mayoritas. Mimpi BSD tidak mati, tetapi orang yang memulainya tidak lagi memegang kemudi. Di atas kertas, Ciputra kalah.
Kota yang Akhirnya Menemukan Napasnya
Di bawah kendali Sinar Mas, BSD memasuki babak baru. Pembangunan kembali bergerak masif dan infrastruktur mulai mengejar pertumbuhan kawasan. Titik balik konektivitas terjadi saat Tol Jakarta-Serpong mulai beroperasi pada tahun 2003. Langkah ini disusul dengan kehadiran Ocean Park pada 2006, serta berbagai pusat komersial raksasa seperti ITC BSD, AEON Mall, hingga QBig.
Perlahan tapi pasti, sesuatu yang selama bertahun-tahun dianggap mustahil mulai terwujud. Kota ini mulai menciptakan siklus hidupnya sendiri: rumah menciptakan populasi, populasi menciptakan bisnis, bisnis menciptakan lapangan kerja, dan pekerjaan menarik lebih banyak orang.
Semakin ramai kawasan tersebut, semakin tinggi pula daya tariknya bagi investor. Pada tahun 2008, Bumi Serpong Damai resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), mengubah keraguan publik menjadi sebuah kepercayaan pasar yang bernilai mahal.
Kini, gambaran Serpong telah berubah total. Berdasarkan data Sinar Mas Land, BSD City telah berkembang menjadi kawasan metropolitan dengan populasi sekitar 500 ribu jiwa, menampung lebih dari 40 ribu rumah, 9 universitas, serta lebih dari 250 sekolah.
Setiap hari, jalan-jalannya dipenuhi aktivitas manusia, pusat perbelanjaan hidup, dan roda ekonomi berputar hingga malam hari. Tempat yang dahulu dijuluki "tempat jin buang anak" kini telah menjelma sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi paling ramai di Indonesia.
Ketika Visi Lebih Penting daripada Kepemilikan
Di balik megahnya gedung dan gemerlapnya BSD City hari ini, ada satu nama yang kerap terlupakan. Nama seseorang yang datang ketika jalan belum membentang, listrik belum mengalir, dan belum ada satu pun alasan bagi orang lain untuk percaya. Seseorang itu adalah Ciputra.
Ia memang kehilangan kendali atas BSD, tetapi ia tidak benar-benar kalah. Ciputra pernah berkata, “Visi ada pada urutan pertama dan utama dalam bisnis. Karena visi adalah pedoman.”
Meskipun sahamnya berpindah tangan dan kendalinya berakhir, visi Ciputra tidak ikut hilang. Empat puluh tahun lalu, ketika orang lain hanya melihat kebun karet dan semak belukar, Ciputra melihat sebuah kota—dan kota itu kini benar-benar nyata ada.
Inilah warisan terbesar seorang Ciputra. Bukan sekadar materi, perusahaan, atau deretan gedung bertingkat, melainkan sebuah keberanian untuk melihat sesuatu yang belum ada, lalu bekerja keras cukup lama sampai suatu hari orang lain akhirnya bisa melihat dan menikmatinya juga.
Dari sehamparan kebun karet tua, lahirlah salah satu mahakarya tata kota terbesar di Indonesia, BSD City.
*Artikel ini ditulis ulang dengan menyadur informasi dari berbagai sumber