INDUSTRY.co.id - BANGKOK – Transisi energi yang mengandalkan biofuel dan biomassa turut membawa dampak tersembunyi bagi hutan dan masyarakat di Asia Tenggara. Isu ini diangkat dalam dua film dokumenter yang tayang perdana di rangkaian Bangkok Climate Action Week, Rabu (7/10/2026).

Dokumenter produksi Solutions for Our Climate (SFOC) menelusuri rantai pasok biofuel, dari perkebunan kelapa sawit di Indonesia hingga meningkatnya permintaan di Korea Selatan. Film tersebut ditayangkan bersama dokumenter Global Environment Forum (GEF) dari Jepang yang membahas ekspansi biomassa hutan dan perkebunan energi di Indonesia.

Kedua film menggambarkan hubungan antara permintaan bioenergi dari negara konsumen seperti Korea Selatan dan Jepang dengan perubahan penggunaan lahan serta tekanan terhadap lingkungan di Asia Tenggara.

Pemutaran film dilanjutkan dengan diskusi panel yang menghadirkan perwakilan Trend Asia/Koalisi Transisi Bersih, SFOC, dan GEF. Mereka membahas dampak perluasan bioenergi di negara produsen maupun konsumen, serta cara mewujudkan transisi energi yang berkelanjutan dan berkeadilan.

Film SFOC disusun berdasarkan riset lembaga tersebut tentang rantai pasok biodiesel berbasis kelapa sawit antara Indonesia dan Korea Selatan. 

Dalam laporan berjudul Behind Korea’s Biofuels: Sustainability Risks in Indonesia–Korea Palm Oil Supply Chains, minyak sawit dan turunannya tercatat menyumbang 72 persen bahan baku biodiesel Korea Selatan pada 2024.

Angka tersebut empat kali lipat dibandingkan saat kebijakan pencampuran biodiesel Korea Selatan mulai diterapkan pada 2015. Sebagian besar bahan bakunya berasal dari Indonesia.

Riset itu juga menemukan bahwa lebih dari 90 persen volume ekspor yang diteliti dan ditujukan ke Korea Selatan berkaitan dengan kasus terdokumentasi mengenai degradasi ekosistem, konflik hak atas tanah, atau persoalan tata kelola di Indonesia.

SFOC memperingatkan, tanpa perlindungan lingkungan dan sosial yang lebih kuat, Korea Selatan berisiko menjadi pasar bagi bahan baku biofuel berisiko tinggi, terutama ketika pasar lain mulai menerapkan persyaratan keberlanjutan yang lebih ketat.

Marihel Parda Winda, Forest and Land Use Program Officer SFOC sekaligus tokoh utama dalam film, mengatakan perubahan hutan menjadi perkebunan monokultur berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.

“Sungguh memilukan melihat kerusakan yang terjadi di sekitar tempat tinggal saya. Ketika hutan digantikan oleh perkebunan monokultur, masyarakat kehilangan begitu banyak hal yang disediakan oleh hutan, mulai dari keanekaragaman hayati dan sumber penghidupan hingga berbagai fungsi yang menopang kehidupan mereka,” ujarnya.

Ia menambahkan, permintaan dari negara lain turut mendorong kerusakan tersebut. Menurutnya, transisi energi tidak semestinya mengorbankan hutan dan sumber penghidupan masyarakat.

Program Manager Trend Asia sekaligus anggota Koalisi Transisi Bersih, Amalya Oktaviani, mengatakan kelapa sawit serta industri pulp dan kertas masih menjadi pendorong utama deforestasi di Indonesia. Peningkatan permintaan bioenergi, menurutnya, menambah tekanan terhadap hutan.

“Ketika transisi energi terus bergantung pada perkebunan skala besar untuk suplai feedstock bioenergi, kita menciptakan solusi semu—sesuatu yang dipromosikan sebagai energi terbarukan, tetapi pada saat yang sama menyebabkan hilangnya hutan dan tetap meletakkan beban eksternalitas pada masyarakat,” kata Amalya.

Ia mendorong perubahan cara pandang terhadap transisi energi, termasuk dalam penanganan sektor transportasi dan persoalan persaingan antara pangan dan bahan bakar. Amalya juga menilai perluasan perkebunan perlu dipertimbangkan kembali di tengah meningkatnya ketimpangan dan tekanan terhadap lingkungan.

Menurutnya, pengembangan biodiesel lebih banyak memberi manfaat dan insentif kepada korporasi besar, sementara petani kecil dan masyarakat kerap menanggung dampak lingkungan maupun sosial. Karena itu, masyarakat perlu diperkuat agar dapat menjaga hutan sekaligus mengembangkan alternatif ekonomi yang memulihkan ekosistem.