INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Popularitas pejabat publik tidak selalu berbanding lurus dengan kinerja. Temuan tersebut menjadi salah satu kesimpulan utama Lembaga riset independen Evident Institute Indonesia dalam kajian terhadap popularitas dan sorotan publik terhadap Wakil Menteri (Wamen) serta Wakil Kepala (Waka) Badan Kabinet Merah Putih.

Dalam kajian bertajuk “Analisis Popularitas dan Sorotan Publik terhadap Wakil Menteri (Wamen) dan Wakil Kepala (Waka) Badan Kabinet Merah Putih Periode 3 September 2025–3 September 2026”, Evident menganalisis 63 tokoh dan menemukan sejumlah nama yang dinilai memiliki citra positif sekaligus memberikan kontribusi terhadap citra lembaganya.

Head of Research Evident Institute Antonius Ivan Sudibyo mengatakan, penilaian publik terhadap para Wamen dan Waka Badan terbentuk secara organik melalui pemberitaan media maupun percakapan masyarakat di ruang digital.

“Dalam negara demokrasi yang menempatkan kebebasan berpendapat, publik secara langsung memberikan penilaian mereka pada para Wamen dan Waka Badan secara organik. Media massa memberikan porsi pemberitaan yang diproses melalui proses redaksi, sementara masyarakat melalui unggahan maupun tanggapan aktif di media sosial,” ujar Ivan, Rabu (7/10).

Namun, sorotan tersebut tidak selalu menghasilkan citra positif. Menurut Ivan, tindakan negatif seorang pejabat dapat berdampak langsung terhadap persepsi publik terhadap institusi yang diwakilinya.

Situasi tersebut menjadi semakin kompleks karena jumlah Wamen dan Waka Badan dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka cukup besar. Akibatnya, capaian positif sebagian pejabat berpotensi tertutup oleh derasnya pemberitaan negatif yang secara alamiah lebih mudah menarik perhatian publik.

Dari 63 tokoh yang dianalisis, Evident menyoroti dua figur dengan portofolio yang dianggap sangat strategis, yakni Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu serta Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Angga Raka Prabowo.

Keduanya merepresentasikan dua urusan pemerintahan yang memiliki dampak langsung terhadap masyarakat: penciptaan lapangan kerja melalui investasi dan komunikasi kebijakan pemerintah kepada publik.

“Keduanya menjadi sampel yang relevan untuk menilai sejauh mana sorotan media berkorelasi dengan kinerja nyata pada dua urusan pemerintahan yang berdampak langsung ke masyarakat,” kata Ivan.

Todotua dinilai menjadi salah satu contoh perpaduan antara popularitas organik dan legitimasi yang bersumber dari capaian institusional.

Realisasi investasi nasional sepanjang 2025 disebut mencapai Rp1.931 triliun, melampaui target Presiden. Sementara realisasi investasi hilirisasi tumbuh 43,3 persen.

Tren tersebut berlanjut pada semester I 2026. Di bidang reformasi birokrasi, Todotua juga memimpin penerapan skema “fiktif positif” berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 yang ditujukan untuk mempercepat proses perizinan usaha.

Dari sisi ketenagakerjaan, pemerintah menargetkan penciptaan sekitar 2,5 juta lapangan kerja baru. Hingga semester I 2026, realisasinya disebut telah mencapai sekitar 1,456 juta tenaga kerja baru.

Evident menilai capaian tersebut memiliki basis data institusional yang dapat ditelusuri melalui sumber resmi kementerian. Hal itu membedakannya dari sebagian besar tokoh lain dalam populasi penelitian yang indikatornya lebih banyak bertumpu pada volume pemberitaan.

Sementara itu, Angga Raka Prabowo ditempatkan sebagai figur yang memainkan peran penting dalam komunikasi kebijakan pemerintah.

Angga pernah memimpin Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) sejak dibentuk pada 17 September 2025 hingga digantikan pada 27 April 2026, sembari tetap menjalankan tugasnya sebagai Wamen Komdigi.

Dalam kapasitasnya di Kementerian Komunikasi dan Digital, Angga turut terlibat dalam agenda perlindungan data pribadi, pemberantasan judi daring, pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pelayanan publik, percepatan regulasi turunan dan kelembagaan, hingga transformasi digital infrastruktur layanan.

Menurut Evident, keunggulan Angga lebih banyak bertumpu pada aspek tata kelola komunikasi publik—wilayah yang tidak sepenuhnya dapat diukur hanya dengan menghitung jumlah pemberitaan.

Meski demikian, pekerjaan rumah masih terbentang, terutama dalam menghadapi sentimen publik terhadap pemerintah yang berkembang melalui ruang publik dan media sosial.

Dibutuhkan pola komunikasi yang lebih setara dan deliberatif agar pemerintah tidak hanya berbicara kepada masyarakat, tetapi juga mampu membangun ruang dialog dengan publik.

Nama lain yang dinilai layak diperhatikan adalah Giring Ganesha, Wakil Menteri Kebudayaan yang mendampingi Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

Dengan latar belakang sebagai musisi, Giring memiliki posisi yang relatif unik dalam pemerintahan karena bersinggungan langsung dengan ekosistem industri musik dan budaya populer.

Di bawah kepemimpinan Menteri Kebudayaan dan wakilnya, Indeks Pembangunan Kebudayaan 2025 tercatat mencapai 59,98 atau melampaui target 58,39. Kenaikan tertinggi terjadi pada dimensi ketahanan sosial budaya.

Giring juga aktif mengikuti perkembangan industri musik nasional. Ia menyampaikan data evaluasi Spotify yang menunjukkan musik Indonesia menguasai 80 persen tangga lagu teratas. Data tersebut kemudian dibawa ke Konferensi Musik Indonesia di Makassar sebagai salah satu bahan pembahasan kebijakan.

Ia juga mendorong perubahan cara pandang terhadap kebudayaan. Budaya, menurutnya, tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai warisan yang harus dilestarikan, tetapi juga sebagai sumber inspirasi bagi kreativitas dan inovasi generasi muda.

Platform digital pun dinilai dapat menjadi sarana memperluas jangkauan ekosistem budaya sekaligus ekonomi kreatif nasional.

Evident menegaskan bahwa tingginya volume pemberitaan tidak otomatis menghasilkan citra publik yang positif.

Sejumlah kasus bahkan menunjukkan bagaimana sorotan media yang tinggi justru dapat berujung pada citra negatif. Evident mencontohkan Immanuel Ebenezer Gerungan dari Kementerian Ketenagakerjaan, Silmy Karim dari Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, serta Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung dari Badan Gizi Nasional.

Keempatnya telah diberhentikan dari jabatan setelah berstatus sebagai tersangka maupun terpidana dalam perkara yang disebut dalam kajian.

Temuan tersebut memperkuat argumen Evident bahwa popularitas dan kinerja merupakan dua variabel berbeda.

Sebagai pembanding, Evident merujuk laporan Reportica yang mengukur popularitas para wakil menteri di media sosial selama Agustus 2026. Periode tersebut jauh lebih pendek dibandingkan cakupan kajian Evident yang berlangsung selama satu tahun.

Dalam laporan tersebut, Ossy Dermawan, Wamen ATR/Wakil Kepala BPN, mencatat volume penyebutan tertinggi dengan 6.108 sebutan. Namun, seluruhnya berasal dari kanal kementerian sendiri. Pola tersebut disebut sebagai “Ilusi Megafon”.

Sebaliknya, Taufik Hidayat, Wamen Pemuda dan Olahraga, tercatat sebagai figur dengan popularitas organik tertinggi, yakni 1.677 sebutan tanpa dukungan kanal pribadi. Todotua Pasaribu menyusul dengan 1.048 sebutan organik.

Ada pula figur yang memiliki volume percakapan tinggi tetapi sentimennya cenderung negatif. Dahnil Anzar Simanjuntak, Wamen Haji dan Umrah, misalnya, tercatat mendapat 1.810 sebutan, dengan 57,2 persen di antaranya bernada negatif.

Dari hasil kajian tersebut, Evident Institute mengajukan tiga rekomendasi.

Pertama, pemerintah perlu memperkuat pengawasan internal, khususnya pada lembaga baru yang mengelola program prioritas nasional dengan skala anggaran besar. Hal ini dinilai penting dengan melihat pola risiko tata kelola yang muncul dalam kasus di Badan Gizi Nasional.

Kedua, basis data pemantauan perlu diperbarui secara berkala mengikuti dinamika reshuffle kabinet maupun perkembangan proses hukum yang melibatkan pejabat publik.

Ketiga, pemerintah dan publik perlu memahami bahwa volume pemberitaan hanyalah indikator popularitas, bukan ukuran kinerja.

“Jumlah atau volume pemberitaan bukan indikator kinerja pejabat publik, karena kajian ini menunjukkan bahwa keduanya adalah sumbu yang berbeda dan tidak berbanding lurus,” pungkas Ivan.