INDUSTRY.co.id - Jakarta, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) membukukan kinerja keuangan yang solid sepanjang enam bulan pertama 2026 di tengah masih tingginya ketidakpastian ekonomi global akibat dinamika geopolitik. 

Perseroan mencatat pendapatan bersih konsolidasi sebesar US$5,686 miliar, EBITDA sebesar US$1,084 miliar, serta laba bersih setelah pajak sebesar US$518 juta, mencerminkan ketahanan model bisnis terintegrasi yang bertumpu pada sektor energi, kimia, dan infrastruktur.

Direktur Utama PT Barito Pacific Tbk., Agus Pangestu, mengatakan kondisi global yang masih bergejolak tidak menghalangi Perseroan mempertahankan momentum pertumbuhan melalui strategi diversifikasi usaha dan disiplin operasional.

"Semester satu 2026 masih diwarnai oleh situasi global yang bergejolak, dengan ketidakpastian dinamika geopolitik yang masih membayangi pasar. Di tengah kondisi tersebut, platform terintegrasi Barito Pacific di sektor energi, kimia, dan infrastruktur kembali menunjukkan ketangguhannya, didukung oleh eksekusi yang disiplin serta meningkatnya kontribusi dari bisnis infrastruktur dan energi terbarukan," ujar Agus Pangestu.

Menurutnya, portofolio usaha yang terdiversifikasi memberikan fleksibilitas bagi Perseroan dalam merespons perubahan pasar sekaligus menjaga penciptaan nilai jangka panjang.

Kinerja semester pertama turut ditopang oleh kontribusi kuat dari Chandra Asri Group, khususnya pada segmen kilang yang memperoleh manfaat dari integrasi aset Shell di Singapura dan tingginya margin pengolahan di tengah dislokasi pasar energi global. 

Di sisi lain, bisnis petrokimia standalone di Indonesia masih menghadapi tekanan akibat kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih.

"Keberhasilan integrasi aset Shell di Singapura menghasilkan kinerja segmen refinery yang sangat kuat di tengah dislokasi pasar akibat dinamika di Timur Tengah. Kekuatan portofolio usaha kami memungkinkan Perseroan menangkap peluang di sepanjang rantai nilai sekaligus mengurangi dampak pelemahan pada segmen tertentu," kata Agus.

Selain menopang profitabilitas, jaringan manufaktur yang terintegrasi di Indonesia dan Singapura juga dinilai meningkatkan keandalan pasokan serta fleksibilitas operasional, sehingga mampu membantu memenuhi kebutuhan pasar domestik di tengah gangguan rantai pasok global.

Dari sisi operasional, segmen energi terbarukan mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 11,5% secara tahunan (YoY) menjadi US$334 juta. 

Pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan produksi listrik panas bumi setelah penyelesaian proyek retrofit serta membaiknya kinerja pembangkit listrik tenaga angin.

Perseroan juga melanjutkan ekspansi investasi strategis di Indonesia. Proyek Chlor Alkali–Ethylene Dichloride (CA-EDC) senilai sekitar US$1 miliar telah mencapai 72% progres konstruksi dan dijadwalkan mulai beroperasi pada 2027. 

Sementara itu, pengembangan pembangkit listrik panas bumi terus berjalan dengan target kapasitas terpasang melampaui 1 gigawatt (GW) pada akhir tahun 2026.

"Investasi-investasi tersebut menegaskan komitmen jangka panjang Perseroan dalam memperkuat infrastruktur industri dan energi Indonesia, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ujar Agus.

Secara keuangan, EBITDA Perseroan mencapai US$1,084 miliar, ditopang oleh kuatnya margin kilang, integrasi bisnis ritel bahan bakar, serta efisiensi biaya yang terus dilakukan pada segmen energi terbarukan. 

Sejalan dengan capaian operasional tersebut, laba bersih setelah pajak konsolidasi tercatat sebesar US$518 juta.

Hingga akhir Juni 2026, total aset Barito Pacific mencapai US$18,952 miliar. 

Perseroan juga mempertahankan struktur permodalan yang sehat dengan rasio net debt to equity stabil di level 0,76 kali, mencerminkan profil likuiditas yang tetap kuat di tengah meningkatnya volatilitas pasar.

Ke depan, Barito Pacific menegaskan akan terus menjalankan strategi transformasi sebagai grup energi dan industri terintegrasi berskala regional, dengan tetap menjadikan Indonesia sebagai basis utama pertumbuhan sekaligus membuka peluang ekspansi anorganik yang memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan.