INDUSTRY.co.id - Bali - Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julyanto membagikan kisah perjalanan karier yang penuh risiko kepada mahasiswa Universitas Udayana, Bali.
Di hadapan para calon lulusan tersebut, ia menegaskan bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh besarnya gaji pertama, melainkan keberanian mengambil keputusan, kemauan terus belajar, dan sikap pantang menyerah.
Nandi mengungkapkan, salah satu keputusan terbesar dalam hidupnya terjadi pada awal karier. Pada 1990, ia bekerja di sebuah perusahaan besar di Surabaya dengan penghasilan sekitar US$1.000 per bulan, jumlah yang tergolong sangat besar pada masa itu.
Namun, hanya setahun kemudian, ia memilih bergabung dengan Toyota meski harus menerima gaji yang jauh lebih kecil, sekitar Rp400 ribu per bulan.
Keputusan tersebut sempat dianggap berisiko. Namun, langkah itu justru menjadi titik balik yang mengantarkannya meniti karier hingga dipercaya memimpin PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia sebagai Presiden Direktur.
"Kesuksesan bukan ditentukan oleh besarnya gaji saat memulai karier, tetapi oleh keberanian mengambil keputusan, membangun kompetensi, dan terus berkembang," ujar Nandi.
Dalam sesi motivasi tersebut, Nandi juga mengajak mahasiswa untuk memiliki mimpi besar sekaligus disiplin dalam mewujudkannya. Menurutnya, mimpi harus dibarengi dengan disiplin, rutinitas, pendidikan, tindakan nyata, dan mentalitas yang kuat.
Ia menekankan bahwa perjalanan menuju kesuksesan tidak pernah mudah sehingga dibutuhkan semangat untuk terus bangkit menghadapi berbagai tantangan.
"Jangan pernah berhenti bermimpi setinggi mungkin. Jangan pernah menyerah, never give up," katanya.
Filosofi Angka 7
Dalam paparannya, Nandi turut menjelaskan filosofi di balik tujuh nilai utama kepemimpinan yang diterapkan Toyota Indonesia. Menurutnya, angka 7 dipilih karena memiliki makna bahwa manusia harus selalu berusaha memberikan yang terbaik tanpa mengklaim diri sebagai sosok yang sempurna.
"Kenapa angka 7? Karena 7 merupakan penilaian yang sempurna bagi manusia. Sementara angka 8, 9, dan 10 hanya milik Yang Maha Kuasa," ujarnya.
Tujuh nilai utama tersebut meliputi integritas, visioner, rasa hormat, rasa memiliki (ownership), inovasi, kerja sama tim, serta budaya menyampaikan kabar buruk lebih dahulu (bad news first).
Selain nilai kepemimpinan, Nandi juga membagikan tiga prinsip sederhana yang menurutnya menjadi fondasi keberhasilan seseorang.
Pertama, melakukan hal-hal kecil dengan penuh ketulusan karena karakter dibangun dari kebiasaan sehari-hari. Kedua, selalu rendah hati agar terus mau belajar dan membangun jejaring. Ketiga, memiliki semangat pantang menyerah melalui passion, ketekunan, dan kegigihan.
Dalam kesempatan itu, Nandi juga mengibaratkan dunia industri sebagai refleksi kehidupan sehari-hari. Menurutnya, industri lahir karena adanya kebutuhan yang kemudian dipenuhi melalui proses, sumber daya, dan kolaborasi.
"Industri itu gambaran dari kehidupan kita. Kita punya kebutuhan dan tujuan, kemudian kita olah menjadi proses. Kalau ada permintaan (demand), ada pasokan (supply), ada sumber daya (resources), maka lahirlah sebuah industri," jelasnya.
Melalui kisah perjalanan karier dan nilai-nilai kepemimpinan tersebut, Nandi berharap mahasiswa tidak hanya mengejar pekerjaan dengan gaji tinggi, tetapi juga membangun kompetensi, karakter, dan keberanian mengambil peluang yang mampu membuka jalan menuju kesuksesan jangka panjang.