INDUSTRY.co.id - Jakarta, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa masa depan industri manufaktur Indonesia akan sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang menggerakkannya.
Menurutnya, sektor manufaktur membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga menjunjung tinggi integritas, mampu beradaptasi, serta siap menjadi penggerak utama industrialisasi nasional.
Karena itu, pendidikan vokasi industri diharapkan mampu melahirkan analis, teknisi, dan tenaga profesional yang menjadi fondasi bagi terwujudnya Indonesia sebagai pusat manufaktur dunia.
Pesan tersebut disampaikan Agus saat memberikan Studium Generale dalam rangka Pelepasan Lulusan Serentak Siswa SMK-SMAK dan SMK-SMTI di lingkungan Kementerian Perindustrian Tahun 2026 yang berlangsung di SMK-SMAK Bogor, Kamis (16/7).
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 27 ribu peserta secara luring maupun daring yang terdiri atas siswa, mahasiswa seluruh unit pendidikan vokasi Kemenperin, serta pegawai Kemenperin dari berbagai satuan kerja di daerah.
"Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki karakter dan integritas. Kalian adalah bagian dari generasi yang akan menentukan masa depan industrialisasi nasional. Indonesia Emas 2045 bukan proyek generasi saya, melainkan proyek kalian," kata Agus.
Ia menilai Studium Generale tersebut bukan sekadar kuliah umum, tetapi menjadi momentum untuk membangun optimisme sekaligus memperlihatkan besarnya peluang yang dimiliki sektor industri manufaktur nasional.
Kompetensi yang dimiliki lulusan vokasi, menurutnya, akan menjadi modal penting dalam memperkuat daya saing industri Indonesia.
Pada kesempatan yang sama, Menperin melepas secara serentak 2.361 lulusan dari sembilan SMK-SMAK dan SMK-SMTI yang berada di bawah pembinaan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin.
Para lulusan dipersiapkan memasuki dunia kerja sebagai analis kimia, teknisi, maupun tenaga profesional yang siap memenuhi kebutuhan sektor manufaktur.
"Kalian tidak menempuh pendidikan selama bertahun-tahun hanya untuk mendengarkan basa-basi. Hari ini kalian berhenti menjadi siswa dan mulai menjadi tenaga industri Indonesia. Selamat kepada kalian dan para orang tua yang telah mengantarkan hingga titik ini," tutur Agus.
Menurut Agus, lulusan SMK-SMAK dan SMK-SMTI memiliki posisi strategis dalam menjaga kualitas industri nasional. Seorang analis berperan memastikan mutu produk sebelum dipasarkan, sementara teknisi bertanggung jawab menjaga kelancaran proses produksi.
"Jangan pernah merasa kecil. Kalian bukan pelengkap. Kalian adalah salah satu syarat berdirinya industri modern. Seorang analis menentukan apakah suatu produk layak keluar dari pabrik, sedangkan teknisi menjaga agar mesin dan proses produksi tetap berjalan dengan baik. Kalian adalah orang-orang di balik kualitas industri Indonesia," tegasnya.
Dalam kuliah umum tersebut, Agus juga memaparkan perkembangan positif industri manufaktur nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan pada triwulan I 2026 tumbuh 5,04 persen, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 4,55 persen.
Kontribusi sektor industri pengolahan terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional tercatat sebesar 19,07 persen.
Selain menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja, sektor ini juga memberikan kontribusi sekitar 82 persen terhadap total ekspor nasional dengan nilai hampir USD95 miliar selama periode Januari–Mei 2026.
"Artinya sederhana. Bidang yang baru saja memanggil kalian bukan bidang yang sedang menurun. Industri manufaktur hidup, terus tumbuh, dan membutuhkan tangan-tangan baru. Tangan-tangan itu adalah tangan kalian," umgkapnya.
Agus menambahkan bahwa arah pembangunan industri nasional sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menjadikan industrialisasi dan hilirisasi sebagai strategi utama untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperkuat perekonomian nasional.
"Kita tidak boleh hanya menjadi pasar bagi bangsa lain. Kita harus mengolah kekayaan alam kita sendiri, menghasilkan nilai tambah di dalam negeri, dan menciptakan lapangan kerja berkualitas bagi masyarakat Indonesia," ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa target Indonesia menjadi negara maju pada 2045 hanya dapat dicapai melalui dukungan sumber daya manusia industri yang unggul.
Menurutnya, cita-cita tersebut dibangun melalui laboratorium, bengkel, dan lantai produksi, tempat para lulusan vokasi berkarya.
"Tidak ada hilirisasi tanpa laboratorium. Tidak ada laboratorium tanpa analis. Tidak ada pabrik yang berjalan dengan baik tanpa teknisi yang terampil. Indonesia Emas 2045 akan diwujudkan melalui karya kalian di laboratorium dan di lantai produksi," tegasnya.
Data Kementerian Perindustrian menunjukkan, dari 5.472 lulusan sekolah vokasi Kemenperin pada 2025, sebanyak 4.009 orang telah bekerja, 156 orang memilih menjadi wirausaha, 704 orang melanjutkan pendidikan, sedangkan 603 lainnya masih menjalani proses rekrutmen di industri.
Alumni sekolah vokasi Kemenperin juga telah berkiprah di 21 negara dan bekerja pada berbagai perusahaan berskala global.
Agus menilai capaian tersebut menjadi bukti bahwa kualitas pendidikan vokasi industri Kemenperin telah memperoleh pengakuan dari dunia usaha dan dunia industri, baik di dalam maupun luar negeri.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kompetensi harus selalu berjalan seiring dengan integritas. Menurutnya, kepercayaan merupakan modal utama yang harus dijaga oleh setiap lulusan vokasi industri.
"Bagi para analis, angka tidak bisa dinegosiasikan. Jangan pernah menandatangani hasil yang tidak kalian yakini kebenarannya. Menjaga integritas bukan hanya soal moral, tetapi juga melindungi konsumen, menjaga keselamatan pekerja, serta mempertahankan nama baik produk Indonesia di mata dunia," tuturnya.
Menutup kuliah umumnya, Agus menyampaikan apresiasi kepada orang tua, guru, tenaga pendidik, serta mitra industri yang telah mendampingi para lulusan selama menempuh pendidikan.
Ia berharap seluruh lulusan mampu mengabdikan ilmu dan keterampilannya untuk memperkuat daya saing industri nasional.
"Dengan segala rasa bangga, saya nyatakan lulusan SMK-SMAK dan SMK-SMTI Tahun 2026 di lingkungan Kementerian Perindustrian resmi dilepas untuk mengabdi kepada industri dan bangsa Indonesia. Bawalah keterampilan kalian dengan bangga, bawa kejujuran tanpa kompromi, dan jadilah generasi yang membangun Indonesia melalui industri manufaktur," pungkas Agus.