Industry.co.id-Jakarta-Forum Jurnalis Muslim (Forjim) menyatakan keprihatinannya yang sangat mendalam mendengar kabar lirih dan perih atas saudara muslim Rohingya di Myanmar. Mereka kaum muslimin, umat Nabi Muhammad Saw di Myanmar di bunuh secara sadis dan tidak berprikemanusiaan oleh rezim yang berkuasa.
"Mereka dikejar, diburu, ditembak, disembelih, mayat bergelimpangan, mengambang di sungai, anak-anak dan kaum wanita banyak menjadi korban," ungkap Ketua Divisi Advokasi Forjim, Jaka Setiawan, Rabu (30/8/2017).
Forjim mempertanyakan, kapan Dunia Islam bertindak? Makin hari nasib umat Islam Rohingya kian sengsara. Sampai sekarang tidak ada yang mampu untuk menghentikan kekejaman itu. Di mana persatuan umat Islam? Kapan penderitaan warga muslim Rohingya berakhir? Dunia Islam harus ikut berpikir dan bertindak. Apakah kita hanya berdiam diri? Tidak tergerak hati dan jiwa untuk membantu?
"Momentum 10 hari awal Dzulhijjah mari kita tunjukkan kepedulian dan mengaplikasikan nilai-nilai iman dengan membantu dan menolong para korban yang menderita," ungkap Jaka sedih.
Sementara itu Ketua Umum Forjim, Adhes Satria mengatakan kaum muslimin dimana pun berada, agar mendoakan saudara Muslim Rohingya yang terzalimi, terutama saat akan berbuka puasa, kepada para jamaah haji manfaat momentum doa mustajab , diantaranya saat wukuf di Padang Arafah, di Mina, di Multazam. Jangan lupakan mereka walaupun hanya dengan seuntai doa.
"Mereka yang ada kelebihan rizki, ayo infaqkan rizki terbaiknya untuk membantu dan meringankan beban muslim Myanmar yang masih selamat. Ya Allah, kasihilah dan lindungilah umat Nabi Muhammad. Ya Allah, lindungilah umat Nabi Muhammad. Biadab! Desa-Desa dan Ribuan Rumah Muslim Rohingya Dibakar.," ungkap dia dalam lantunan doa.
Melalui Program Forjim Solidarity, mengajak umat Islam dari berbagai profesi dan dimanapun berasa agar peduli dengan menyalurkan sebagian rezekinya untuk meringankan saudara Muslim Rohingnya.Salurkan donasi terbaik Anda ke Rekening 0584726208 BNI Syariah a.n Ibnu Syafaat. Perlu disampaikan, sejumlah kelompok aktivis hak asasi manusia melaporkan bahwa pembakaran terhadap desa-desa yang menjadi tempat tinggal bagi warga Muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar, Selasa (29/8) terus terjadi.
Pasukan militer negara itu disinyalir berada di balik peristiwa tersebut. Dalam sebulan terakhir ini, konflik memang kembali memanas di Negara Bagian Rakhine. Berbagai bentuk kekerasan terus menyasar Muslim Rohingya di beberapa desa yang tersebar di Maungdaw, Buthidaung, dan Rathedaung. Kekerasan paling parah dialami oleh sejumlah warga Rohingya yang bermukim di Kota Rathedaung, sekitar 77 km dari Maungdaw. Beberapa pekan belakangan, pasukan militer Myanmar dikerahkan secara masif di Rathedaung. Mereka menjaga pos-pos keamanan yang terus dibangun di sejumlah desa pelosok. Operasi keamanan secara sporadis dilakukan dengan dalih penahanan terhadap tersangka militan Rohingya.
Namun demikian, operasi keamanan tersebut kerap kali menindas warga sipil yang tidak bersalah. Beberapa desa di Rathedaung diblokade secara sepihak. Frekuensi aksi brutal terhadap warga Rohingya, seperti pemukulan, pembunuhan, pemerkosaan, hingga pembakaran rumah dan lahan pertanian kian meningkat. Dari tindak kekejaman ini, banyak dari warga Rohingya memilih melarikan diri dari kediaman mereka. Beberapa dari mereka bersembunyi di hutan-hutan sambil berharap adanya pertolongan.