INDUSTRY.co.id - Jakarta -  Menurut laporan terbaru Kaspersky ICS CERT, ancaman siber terhadap sistem kontrol industri (industrial control systems/ICS) masih tinggi pada awal 2026. Secara global, sebanyak 19,6% komputer ICS tercatat menghadapi objek berbahaya yang berhasil diblokir selama kuartal I-2026. Solusi keamanan Kaspersky juga mendeteksi dan memblokir 10.052 keluarga malware dari berbagai kategori yang menyerang sistem otomatisasi industri.

Advertisement

Secara regional, tingkat serangan terhadap komputer ICS bervariasi, mulai dari 27,4% di Afrika hingga 9,1% di Eropa Utara. Dibandingkan kuartal sebelumnya, serangan terhadap sektor manufaktur meningkat di sejumlah wilayah, termasuk Eropa dan Asia. Secara keseluruhan, lima kawasan mencatat kenaikan persentase komputer ICS yang diserang, yakni Eropa Selatan, Rusia, Eropa Utara, Kanada, dan Afrika.

Di Indonesia, tekanan ancaman siber terhadap lingkungan operasional industri juga masih tinggi. Data Kaspersky ICS CERT menunjukkan sebanyak 21,81% objek berbahaya berhasil diblokir pada komputer ICS di Indonesia sepanjang kuartal pertama 2026. Artinya, lebih dari satu dari lima sistem industri di dalam negeri menjadi sasaran ancaman siber selama periode tersebut.

Advertisement

Temuan itu menunjukkan bahwa organisasi industri masih terus menghadapi serangan malware dan berbagai ancaman digital lainnya yang menyasar lingkungan operasional. Di tengah percepatan transformasi digital, perlindungan dan visibilitas menyeluruh terhadap jaringan ICS dinilai semakin penting untuk menjaga kesinambungan operasional.

Jika dilihat berdasarkan sektor industri, sektor minyak dan gas menjadi yang paling rentan dengan persentase objek berbahaya yang diblokir mencapai 28%. Posisi berikutnya ditempati sektor tenaga listrik dan otomasi gedung dengan masing-masing 24,5%. Sementara itu, sektor teknik dan integrasi ICS mencatat 21,2%, konstruksi 20,5%, manufaktur 19,4%, dan biometrik 19,3%.

Advertisement

Tingginya ancaman pada sektor energi mencerminkan besarnya daya tarik infrastruktur kritikal bagi pelaku kejahatan siber. Selain memiliki nilai strategis, gangguan terhadap sektor tersebut berpotensi memicu dampak operasional yang signifikan.

Country Manager Indonesia Kaspersky, Defi Nofitra, mengatakan ancaman terhadap lingkungan operasional industri semakin kompleks seiring meluasnya transformasi digital di berbagai sektor penting.

Advertisement

“Data Q1 2026 menunjukkan bahwa ancaman siber terus menargetkan lingkungan operasional, khususnya di industri yang menopang infrastruktur nasional dan pertumbuhan ekonomi. Organisasi harus memprioritaskan strategi keamanan siber komprehensif yang menggabungkan pemantauan berkelanjutan, intelijen ancaman, kesadaran karyawan, dan perlindungan khusus untuk sistem ICS dan OT guna memperkuat ketahanan mereka terhadap risiko siber yang terus berkembang,” ujar Defi.

Senada, Kepala Kaspersky ICS CERT, Evgeny Goncharov, menilai keberadaan sistem teknologi operasional lama masih menjadi titik lemah yang dimanfaatkan pelaku serangan.

“Sistem teknologi operasional lama tetap tertanam kuat di lingkungan manufaktur, yang membuatnya rentan. Kompleksitas rantai pasokan dan percabangan jaringan mitra tepercaya memperluas permukaan serangan di luar perimeter jaringan. Penyerang menyadari bahwa menargetkan aset OT dari perusahaan industri bukanlah hal yang sulit, itulah sebabnya penutupan pabrik menyebabkan kerugian finansial yang besar,” kata Evgeny.

Untuk memperkuat ketahanan siber, Kaspersky merekomendasikan perusahaan industri melakukan penilaian keamanan sistem teknologi operasional secara berkala, membangun manajemen kerentanan berkelanjutan, mempercepat pembaruan dan pemasangan patch keamanan, serta memanfaatkan solusi deteksi dan respons ancaman tingkat lanjut.

Selain itu, peningkatan kemampuan sumber daya manusia melalui pelatihan keamanan khusus serta pemanfaatan intelijen ancaman dinilai menjadi kunci dalam membangun pertahanan siber yang lebih proaktif di tengah meningkatnya risiko serangan terhadap infrastruktur industri.