INDUSTRY.co.id - Jakarta, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pemulihan kuat pada perdagangan Jumat (12/6) dengan kembali menembus level psikologis 6.000. Penguatan indeks berlangsung di tengah derasnya arus akumulasi pada saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN), terutama sektor pertambangan, perbankan anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), serta emiten telekomunikasi nasional.

Advertisement

Sejak pembukaan perdagangan, saham-saham BUMN menjadi motor utama pergerakan pasar. Sejumlah emiten pertambangan bahkan mencatatkan kenaikan hingga sekitar 7 persen, mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap fundamental dan prospek kinerja perusahaan-perusahaan negara.

Sentimen positif tersebut berhasil mengangkat IHSG kembali ke zona hijau setelah beberapa waktu menghadapi tekanan, sekaligus memperkuat optimisme pelaku pasar terhadap arah perekonomian nasional.

Advertisement

Chief Operating Officer Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menyambut baik capaian tersebut. Menurutnya, penguatan pasar menjadi sinyal bahwa transformasi dan penguatan fundamental yang dijalankan BUMN mulai memperoleh pengakuan dari investor.

“Kami mengapresiasi kepercayaan yang terus diberikan investor kepada pasar modal Indonesia, khususnya kepada saham-saham BUMN. Penguatan IHSG hari ini menjadi refleksi optimisme terhadap daya tahan dan prospek pertumbuhan perusahaan-perusahaan negara,” ujar Dony di Jakarta, Jumat (12/6).

Advertisement

Ia menegaskan bahwa kontribusi dominan saham BUMN terhadap penguatan indeks bukanlah fenomena sesaat, melainkan hasil dari upaya berkelanjutan dalam meningkatkan tata kelola, efisiensi, dan daya saing bisnis.

Menurut Dony, stabilitas pasar dan iklim investasi yang kondusif akan menjadi fondasi penting dalam menarik kemitraan strategis serta mendorong masuknya investasi baru ke Indonesia.

Advertisement

“Momentum ini menunjukkan bahwa arah kebijakan yang ditempuh berada pada jalur yang tepat. Stabilitas ekonomi dan pasar akan memberikan manfaat luas, mulai dari terjaganya daya beli masyarakat hingga terbukanya peluang penciptaan lapangan kerja baru,” katanya.

Penguatan IHSG dan nilai tukar rupiah juga tidak terlepas dari koordinasi pemerintah bersama otoritas ekonomi. Salah satu faktor yang mendapat perhatian pelaku pasar adalah langkah Bank Indonesia yang pada 9 Juni 2026 menyesuaikan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen, sehingga membantu meningkatkan sentimen positif dan kepercayaan investor.

Di sisi lain, berbagai upaya konsolidasi lintas lembaga turut dilakukan guna menjaga stabilitas ekonomi nasional. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad dalam sepekan terakhir memfasilitasi sejumlah pertemuan strategis yang mempertemukan pemangku kepentingan sektor fiskal, moneter, serta industri jasa keuangan.

Rangkaian koordinasi tersebut melibatkan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, DPR, Danantara, Himbara, BPJS, hingga sejumlah institusi investasi dan asuransi BUMN guna memastikan respons kebijakan berjalan selaras menghadapi dinamika ekonomi global.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menilai sinergi antar-lembaga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar. Ia menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia, khususnya sektor perbankan, tetap berada dalam kondisi yang kuat.

“Fundamental ekonomi kita tetap terjaga dengan baik. Koordinasi yang terus dilakukan antar pemangku kepentingan menjadi modal penting untuk menghadapi berbagai tantangan ekonomi ke depan,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan.

Prasetyo juga mengapresiasi kolaborasi yang terus dibangun antara pemerintah, BUMN, dan lembaga keuangan negara dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

Ke depan, BP BUMN bersama Danantara menyatakan akan terus mengawal kinerja portofolio perusahaan-perusahaan negara agar tetap adaptif terhadap perubahan ekonomi global, sekaligus memastikan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.