INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Emiten perkebunan kelapa sawit PT Teladan Prima Agro Tbk mencatatkan pertumbuhan pendapatan pada kuartal I/2026 di tengah dinamika harga komoditas dan tantangan produksi. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp1,37 triliun atau tumbuh 6,8% secara tahunan (year on year/yoy), ditopang oleh kenaikan volume penjualan crude palm oil (CPO) serta penguatan harga jual palm kernel (PK) dan crude palm kernel oil (CPKO).
Kontributor utama pendapatan masih berasal dari penjualan CPO yang mencapai Rp1,21 triliun, naik 8,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini terutama didorong oleh peningkatan volume penjualan, meskipun harga jual rata-rata CPO tercatat turun 2%.
Sementara itu, pendapatan dari penjualan PK tercatat sebesar Rp96,92 miliar. Kinerja segmen ini relatif stabil dengan dukungan kenaikan harga jual rata-rata sebesar 5,3%, meski volume penjualan mengalami penurunan.
Adapun pendapatan dari CPKO tercatat sebesar Rp54,56 miliar atau turun 6,1% secara tahunan akibat penurunan volume penjualan. Namun demikian, harga jual rata-rata CPKO masih menunjukkan kenaikan sebesar 5%.
Di sisi profitabilitas, TLDN mencatat laba kotor sebesar Rp348,22 miliar pada kuartal pertama 2026, turun 11,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski margin tertekan, perseroan masih mampu membukukan EBITDA sebesar Rp322,31 miliar dan laba bersih sebesar Rp181,77 miliar.
Direktur Utama TLDN, Wishnu Wardhana, mengatakan perseroan tetap fokus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan penguatan fondasi operasional untuk menopang kinerja jangka panjang.
“Perseroan terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pendapatan dan penguatan operasional jangka panjang. Meskipun terdapat dinamika pada produksi di beberapa segmen, kinerja kuartal pertama ini menunjukkan bahwa strategi kami dalam menjaga produktivitas kebun dan mengoptimalkan kinerja pabrik tetap berjalan dengan baik di tengah kondisi pasar yang dinamis,” ujar Wishnu dalam keterangan resminya.
Secara operasional, produksi tandan buah segar (TBS) inti TLDN tercatat sebesar 253.459 ton pada kuartal I/2026, turun tipis 0,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 255.775 ton. Namun, produksi TBS plasma meningkat signifikan 14,4% menjadi 40.378 ton dari sebelumnya 35.294 ton.
Peningkatan pasokan dari kebun plasma dan tambahan buah dari pihak ketiga turut mendorong total volume TBS yang diolah perseroan menjadi 346.609 ton, naik 5,9% secara tahunan.
Dari sisi hilir, produksi CPO naik 6,3% menjadi 78.997 ton dari 74.340 ton pada kuartal I/2025. Kinerja ini turut diikuti peningkatan tingkat ekstraksi minyak sawit (oil extraction rate/OER) menjadi 22,79%, mencerminkan efisiensi pengolahan yang lebih baik.
Produksi inti sawit juga meningkat 6,4% menjadi 12.791 ton, sedangkan produksi CPKO mencapai 3.215 ton dengan tingkat ekstraksi 40,25%, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Wishnu, konsistensi efisiensi dan produktivitas menjadi kunci perusahaan dalam menjaga kinerja di tengah fluktuasi produksi dan tantangan operasional.
“Hal ini didukung oleh penerapan praktik perkebunan terbaik, optimalisasi pemupukan, serta pemeliharaan infrastruktur kebun secara berkelanjutan, serta implementasi teknologi dalam kegiatan operasional,” katanya.
TLDN juga menempatkan transformasi teknologi sebagai salah satu pilar utama penguatan operasional melalui implementasi program Teladan Productivity Technology Science (TPTS). Program ini mengedepankan pendekatan berbasis data dan sains untuk mengoptimalkan pengelolaan kebun dan pabrik.
Selain itu, perseroan terus memperkuat agenda keberlanjutan melalui inisiatif Teladan Green Metrics (TGM), yang menjadi bagian dari strategi environmental, social, and governance (ESG) perusahaan.
Ke depan, TLDN menargetkan penguatan fundamental operasional dan disiplin strategi bisnis untuk menjaga daya saing di tengah volatilitas industri sawit, sekaligus menopang pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan dalam jangka panjang.