INDUSTRY.co.id - Jakarta - ​Pasar kopi global terus menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat pesat dengan proyeksi nilai mencapai 381,52 miliar dolar AS pada tahun 2034. Sebagai produsen kopi terbesar ke-4 di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolumbia, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk menangkap peluang tersebut. 

Advertisement

Kondisi ini mendorong Louis Dreyfus Company (LDC) untuk memperkuat kemitraan dengan petani kopi lokal di tanah air melalui penerapan praktik pertanian regeneratif yang berkelanjutan.

​Kemitraan tersebut diwujudkan melalui program bertajuk Stronger Coffee Initiative yang telah berjalan sejak tahun 2015 dengan fokus utama pada pemulihan kesehatan tanah dan penguatan ketahanan lahan pertanian dalam jangka panjang. Hingga akhir tahun 2025, program ini tercatat telah memberikan dampak luas bagi komunitas petani di berbagai wilayah penghasil kopi utama. 

Advertisement

Diva Tanzil selaku Regional Program Manager, Stronger Coffee Initiative LDC, menjelaskan bahwa inisiatif ini tidak hanya memberikan pelatihan agronomi, tetapi juga layanan pendampingan langsung di tingkat kebun.

​“Hingga akhir tahun 2025, program Stronger Coffee Initiative ini telah menjangkau lebih dari 20.000 petani kopi di Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan Aceh melalui kombinasi pelatihan agronomi, layanan pendampingan di tingkat kebun, serta kemitraan,” ujar Diva di Jakarta, Kamis (12/2/2026). 

Advertisement

Diva menambahkan bahwa jenis kopi yang dikembangkan meliputi Robusta di wilayah Lampung dan Sumatera, sementara jenis Arabika difokuskan pada petani di Aceh.

​Selain aspek produktivitas, kelestarian lingkungan menjadi pilar penting dalam kemitraan ini. LDC mencatat sebanyak 860.000 pohon telah ditanam untuk mendukung kegiatan agroforestri dan konservasi keanekaragaman hayati. 

Advertisement

Langkah ini juga dibarengi dengan upaya menekan emisi karbon melalui pengurangan penggunaan pestisida sintetis. Dalam mewujudkan visi tersebut, LDC berkolaborasi dengan Pandawa Agri Indonesia untuk mengganti bahan kimia dengan solusi alami yang lebih ramah lingkungan.

​Hasil dari kolaborasi tersebut mulai menunjukkan dampak nyata terhadap lingkungan. Menurut Kukuh Roxa, CEO Pandawa Asri Indonesia, penggunaan bahan alami untuk pemupukan dan pengendalian hama mampu mengurangi hingga 2.000 CO2-e sepanjang periode 2021-2025. “Yang dihasilkan petani adalah kopi rendah emisi,” jelas Kukuh. 

​Menghadapi risiko perubahan iklim yang kian tidak menentu, para petani juga dibekali dengan program asuransi perubahan iklim atau Parametric Climate Insurance hasil kerja sama dengan Blue Marble. 

Reinhard Marcellino, APAC Head Blue Marble, mengungkapkan bahwa skema pembayaran premi yang awalnya ditanggung sepenuhnya oleh LDC, kini mulai dipikul bersama dengan petani. Hal ini mencerminkan kesadaran yang meningkat di kalangan petani mengenai pentingnya mitigasi risiko gagal panen.

​Praktik pertanian regeneratif ini terbukti mampu meningkatkan hasil panen petani secara signifikan. Diva Tanzil menyebutkan bahwa potensi hasil panen meningkat menjadi rata-rata 1 kg per tanaman, naik dari sebelumnya yang hanya berkisar antara 700 hingga 800 gram. 

Kesejahteraan petani pun semakin terjamin dengan adanya jaminan pasar, di mana hasil panen akan ditampung oleh kolektor untuk kemudian diperdagangkan oleh LDC ke pembeli lokal maupun pasar global.

​Sebagai langkah inovatif untuk masa depan, LDC juga meluncurkan program Farmer Assistance and Support Team (FAST) yang melibatkan generasi muda. 

Program layanan teknis ini telah mendukung ratusan kebun kopi dengan komitmen besar dari para petani untuk menghentikan penggunaan herbisida kimia, demi menghasilkan biji kopi berkualitas premium yang selaras dengan prinsip keberlanjutan alam.