INDUSTRY.co.id - Jakarta – Modernisasi pertanian terbukti bukan sekadar jargon. Penerapan teknologi pertanian modern mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan, seperti yang terjadi di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Daerah ini mencatat hasil panen padi mencapai 10,4 ton per hektare, jauh di atas rata-rata nasional.

Advertisement

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, capaian tersebut menjadi bukti nyata bahwa transformasi sistem pertanian berbasis teknologi adalah solusi strategis untuk menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan daya saing sektor pertanian Indonesia.

“Modernisasi pertanian bukan wacana. Ini solusi konkret untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujar Mentan Amran dalam keterangannya, Selasa (3/2).

Advertisement

Keberhasilan Soppeng merupakan bagian dari program besar Pertanian Modern Indonesia yang digagas Kementerian Pertanian. Konsep ini terinspirasi dari sistem pertanian modern di Arkansas, Amerika Serikat, yang dikunjungi Mentan Amran pada 2024 lalu.

Menurutnya, sentra padi di Arkansas mampu bersaing di pasar global karena konsisten mengadopsi teknologi modern di seluruh tahapan produksi.

Advertisement

“Model tersebut sangat relevan dan dapat diimplementasikan di Indonesia,” jelasnya.

Atas arahan Mentan Amran, Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) mengembangkan demplot pertanian modern Arkansas modifikasi Indonesia. Salah satu lokasi percontohan berada di Kabupaten Soppeng seluas 5 hektare dalam satu hamparan 60 hektare, yang juga diarahkan sebagai kawasan mandiri benih padi.

Advertisement

Panen bersama yang digelar pada Rabu (28/1/2026) menunjukkan hasil menggembirakan. Produktivitas ubinan mencapai 10,4 ton per hektare menggunakan varietas Inpago 12.

Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Tanaman Pangan BRMP, Haris Syahbuddin, menjelaskan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil penerapan teknologi pertanian secara menyeluruh dan terintegrasi.

“Mulai dari penggunaan soil test kit untuk mengetahui kesuburan tanah, pengolahan lahan dengan alsintan, varietas unggul bermalai lebat, aplikasi rekomendasi pemupukan, hingga sistem tanam benih langsung menggunakan drum seeder dengan pola jajar legowo 6:1,” paparnya.

Selain itu, petani juga memanfaatkan pupuk organik cair serta teknologi drone untuk aplikasi herbisida dan pestisida, sehingga budidaya menjadi lebih presisi, efisien, dan ramah lingkungan.

Wakil Bupati Soppeng Selle KS Dalle menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kementerian Pertanian atas pendampingan dan penerapan sistem pertanian modern di wilayahnya.

“Pengelolaan pertanian berbasis teknologi ke depan bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan,” tegasnya. 

Ia juga memastikan Pemerintah Kabupaten Soppeng akan terus mendukung program Kementan, termasuk penguatan Brigade Pangan dengan pengetahuan pertanian modern.

Sementara itu, Kepala BRMP Fadjry Djufry menegaskan bahwa pengembangan pertanian modern merupakan tindak lanjut langsung dari instruksi Menteri Pertanian agar modernisasi budidaya padi diterapkan secara konsisten di seluruh Indonesia.

“BRMP hadir untuk menjembatani inovasi dan teknologi agar benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani di lapangan,” ujarnya.

Menurut Fadjry, swasembada beras bukan sekadar target produksi semata, tetapi merupakan pilar penting kedaulatan pangan dan stabilitas nasional.