INDUSTRY.co.id - Jakarta, Tan Malaka, yang memiliki nama lahir Ibrahim Datuk Sutan Malaka, adalah salah satu tokoh paling kompleks dan kontroversial dalam sejarah Indonesia. Ia bukan hanya pejuang kemerdekaan, tetapi juga pemikir, filsuf, guru, revolusioner, dan arsitek awal gagasan Republik Indonesia.

Advertisement

1. Hafiz Qur’an yang Nakal di Masa Kecil

Tak banyak yang tahu bahwa Tan Malaka bukanlah nama kecilnya. Ia lahir dengan nama Ibrahim, sementara Tan Malaka adalah gelar adat Minangkabau (Datuk) yang diberikan kaumnya sebagai tanda kepemimpinan adat.

Advertisement

Sejak kecil, Ibrahim dikenal sebagai anak yang cerdas, rajin salat lima waktu, dan hafal Al-Qur’an. Namun di sisi lain, ia juga terkenal bandel, hingga kerap menerima hukuman jewer pusar dari ibunya.

2. Aktivis Buronan Dunia: 11 Negara, 23 Nama Samaran

Advertisement

Sebagai aktivis pergerakan kemerdekaan, Tan Malaka menjadi buronan intelijen internasional, termasuk Belanda, Inggris, Amerika Serikat, dan Jepang.

Ia menjalani hidup dalam pelarian dan penyamaran, berpindah-pindah di 11 negara Asia dan Eropa, menggunakan puluhan nama samaran. Beberapa yang terkenal antara lain: Elias Fuentes, Hasan Gozali, Ossari, Ramly Husein, Ilyas Hussein, dan lainnya.

Advertisement

3. Perintis Gagasan “Republik Indonesia”

Tan Malaka adalah orang pertama yang secara tertulis merumuskan konsep Republik Indonesia. Pada tahun 1925, ia menulis buku “Naar de Republiek Indonesia”, yang memuat gagasan tentang bentuk negara merdeka bernama Republik Indonesia.

Pemikiran dalam buku ini kemudian menjadi rujukan penting bagi tokoh-tokoh seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir.

4. Komunis sebagai Ideologi, Muslim di Hadapan Tuhan

Meski menganut Marxisme sebagai ideologi perjuangan, Tan Malaka bukan seorang ateis.

Ia dengan tegas menyatakan: “Di hadapan manusia aku adalah seorang komunis, namun di hadapan Tuhan aku adalah seorang Muslim.”

Baginya, ideologi adalah alat perjuangan sosial, bukan pengganti keyakinan spiritual.

5. Dimusuhi Tokoh Komunis Sendiri

Perbedaan pandangan membuat Tan Malaka berseteru dengan tokoh-tokoh komunis Indonesia, termasuk Musso dan D.N. Aidit. Konon, Musso pernah ingin menggantungnya, sementara Aidit menuduhnya sebagai pemecah-belah gerakan komunis Indonesia. Hal ini menunjukkan betapa independen dan kerasnya prinsip Tan Malaka.

6. Tiga Kali Jatuh Cinta, Tak Pernah Menikah

Di balik kehidupan revolusionernya, Tan Malaka juga pernah mengalami cinta.

Cinta pertamanya adalah Sjarifah Nawawi, anak dari gurunya, Engku Nawawi, tokoh pendidikan di Fort de Kock (kini Bukittinggi). Ia juga pernah jatuh cinta pada seorang gadis Eropa di masa mudanya. Namun semua kisah cintanya berakhir kandas, dan ia tak pernah menikah hingga akhir hayatnya.

7. Kematian Tragis di Tangan Bangsanya Sendiri

Akhir hidup Tan Malaka sungguh tragis. Ia dieksekusi oleh tentara Indonesia sendiri sekitar Februari 1949 di Selopanggung, Kediri.

Hingga kini, alasan pasti eksekusi tersebut masih kontroversial, namun konflik politik dan sikap radikal Tan Malaka diduga menjadi latar belakangnya.

8. Dua Makam, Satu Sejarah

Selama puluhan tahun, lokasi makam Tan Malaka tidak diketahui. Baru pada 2007, berkat penelitian sejarawan Belanda Harry A. Poeze, makamnya ditemukan di Selopanggung, Kediri.

Pada 2017, keluarga dari Sumatra Barat ingin memindahkan jasadnya ke kampung halaman di Suliki, Minangkabau, namun masyarakat Kediri menolaknya.

Sebagai jalan tengah, keluarga mengambil segenggam tanah makam untuk dibawa dan ditanam di depan rumah kelahirannya—sebuah simbol kembalinya anak yang lama hilang.

Tan Malaka pernah berkata:

“Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi.”

Dan sejarah membuktikan, suaranya memang tak pernah benar-benar padam. (Disadur dari berbagai sumber)