INDUSTRY.co.id - Banyumas, Jawa Tengah – Isu stunting masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan kesehatan masyarakat, khususnya pada anak usia dini yang berada dalam masa pertumbuhan emas. Salah satu penyebab utama adalah kurangnya asupan protein hewani yang sangat dibutuhkan untuk mendukung perkembangan anak secara optimal.
Menanggapi hal ini, Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa Wilayah Jawa Tengah bekerja sama dengan Matahari Department Store melalui Program Kawasan Sehat di Kabupaten Banyumas menghadirkan inovasi berbasis masyarakat, yaitu RT MAPAN GIZI (Rumah Tangga Mandiri Pangan dan Gizi). Inisiatif ini memanfaatkan sumber daya lokal secara berkelanjutan untuk menjawab tantangan gizi di tingkat rumah tangga.
Sejak Maret hingga September, kader lokal di Desa Suro, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, berhasil mengembangkan peternakan ayam kampung yang dimulai hanya dengan 10 ekor ayam. Kini, produksi telur telah meningkat signifikan hingga mencapai 150–170 butir per bulan. Telur-telur tersebut kemudian disalurkan ke posyandu sebagai bagian dari program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk balita.
Saat ini terdapat 90 balita binaan di Posyandu Mugi Rahayu 1, 2, dan 8 di Desa Suro. Dalam setiap kegiatan PMT, setiap balita menerima 3 butir telur ayam kampung. “Dukungan ini memastikan adanya tambahan protein hewani yang langsung bersumber dari produksi lokal,” ungkap Intan Khoerunnisa, selaku Officer Program. Ia menambahkan bahwa kebutuhan gizi balita kini bisa dipenuhi secara mandiri, tanpa harus bergantung pada bantuan luar seperti donor atau dana desa. Dari total produksi yang ada, RT MAPAN GIZI telah mampu menyuplai sekitar 50% kebutuhan PMT lokal. Ke depan, pengelolaan sumber protein lokal ini akan dikembangkan sebagai usaha komunal yang produktif bagi kelompok binaan.
Titi Ngudiati, Kepala LKC Dompet Dhuafa Wilayah Jawa Tengah, juga menegaskan bahwa inisiatif ini lebih dari sekadar penyediaan pangan. “Inisiatif ini juga menumbuhkan kemandirian dan keberlanjutan dalam pemenuhan PMT. Masyarakat membuktikan bahwa melalui pengelolaan sumber daya lokal, mereka mampu memberikan solusi nyata terhadap isu stunting. RT MAPAN GIZI menjadi bukti nyata partisipasi masyarakat dalam pencegahan stunting dengan mengoptimalkan pemenuhan gizi melalui pendekatan kearifan lokal,” katanya.
Keberhasilan RT MAPAN GIZI yang lahir dari kolaborasi Program Kawasan Sehat Desa Suro dengan Matahari Department Store memberikan inspirasi bahwa pencegahan stunting bisa dilakukan secara mandiri, berbasis komunitas, dan memanfaatkan potensi lokal. Dengan mengembangkan kemandirian pangan, desa mampu menjalankan program PMT secara berkelanjutan tanpa ketergantungan penuh pada intervensi eksternal.
Inisiatif ini diharapkan dapat terus berkembang, baik dalam hal kapasitas produksi maupun replikasi model di wilayah lain. Masyarakat yang mengembangkan sumber protein hewani berbasis lokal berarti telah menanam investasi penting untuk menciptakan generasi masa depan yang sehat, cerdas, dan bebas dari stunting.
Tak hanya itu, Program Kawasan Sehat Desa Suro juga memperkenalkan inovasi pengelolaan limbah ternak sapi menjadi biogas serta pupuk organik cair dan padat. “Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya belajar mengelola limbah, tetapi juga memproduksi pupuk untuk kebutuhan pertanian lokal maupun skala rumah tangga,” tambah Titi.
Saat ini, dapur warga di RW 1 sudah menggunakan biogas untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk saat pertemuan warga untuk menyeduh kopi dan memasak. Ke depan, program ini akan diperluas agar biogas dapat dimanfaatkan oleh rumah tangga miskin yang memiliki anggota keluarga dengan masalah gizi. Dengan begitu, upaya ini tidak hanya mengurangi beban biaya energi rumah tangga, tetapi juga mendukung pemenuhan gizi keluarga rentan secara berkelanjutan.