INDUSTRY.co.id-Jawa Barat-Bandung mempunyai destinasi yang sangat luar biasa. Dia menjadi kota dari provinsi Jawa Barat. Panorama, wisata sejarah dan kuliner menjadi buruan para wisatawan.
Kali ini, Fujifilm mengadakan field trip menjelajahi Kota Bandung. Diawali menaiki Kereta Panoramic yang merupakan kereta api wisata dengan fasilitas jendela berukuran besar dan atap kaca (sunroof) yang memungkinkan penumpang menikmati pemandangan alam secara lebih luas.
Sepanjang perjalanan dari Stasiun Gambir hingga Stasiun Bandung, dipenuhi pemandangan persawahan dan perumahan. Namun ada dua icon unik dari rute tersebut, Pertama, Jembatan kereta api tertinggi di Indonesia yaitu Jembatan Cisomang. Jembatan ini terletak di jalur antara Stasiun Cisomang dan Stasiun Cikadongdong, dengan ketinggian hampir 100 meter di atas lembah Sungai Cisomang. Kedua, Terowongan Sasaksaat merupakan terowongan jalur kereta api yang dibangun oleh SS (Staatsspoorwegen) antara tahun 1902-1903, dengan panjang 959 Meter.
Di Bandung, nuansa Bangunan Tua, nampak berjejer di Jl Braga. Ragam wisata kuliner disuguhkan bagi para pelancong.
Untuk keliling seputar Kota Bandung, traveler dapat menaiki Bandung Tour on The Bus (Bandros). Ada pemandu di dalam Bus, menerangkan sejarah setiap tempat yang dilalui.
Pada sesi pemotretan menggunakan tipe X-E5, para peserta, sebut saja Indra begitu ia dipanggil, seorang konten kreator yang sering membahas fotografi. Ia salah satu dari sekian banyak konten kreator terpilih untuk ikut perjalanan ke Bandung, Selasa (19/8/2025).
Ia menjelaskan penggunaan Kamera ini cukup simpel karena tombol-tombolnya sedikit. Ada satu tombol namanya control lever yang meringkas pengaturan untuk pemotretan.
"Pengalaman, dengan jumlah tombol yang simpel. Kita sudah mencoba hunting spot-spotnya," jelas dia.
Selain itu, Nadira, konten kreator lainnya sangat happy menggunakan kamera tersebut. Ia nampak akrab dengan kamera yang dibilang enteng ketika dikalungkan ke leher.
Gantungan kamera nampak estetik, tebal dan lembut. Tidak membuat gatal di kulit leher.
Dengan bobot hanya sekitar 445 gram, kamera ini dilengkapi sensor X-Trans CMOS 5 HR beresolusi 40,2 megapiksel dengan pencahayaan belakang (back-illuminated) dan prosesor gambar X-Processor 5 berkecepatan tinggi. Untuk pertama kalinya di lini X-E series, X-E5 hadir dengan InBody Image Stabilization (IBIS) 5-axis, yang mampu memberikan kompensasi hingga 7,0 stop di tengah frame dan 6,0 stop di tepi frame, memudahkan pengambilan gambar tajam bahkan dalam kondisi minim cahaya atau saat memotret tanpa tripod.
Desain X-E5 juga menonjolkan kualitas material, dengan top plate berbahan aluminium yang diproduksi secara presisi, memberikan tekstur metalik halus dan rasa kokoh di genggaman.
Fitur Classic Display pada viewfinder menampilkan informasi kunci secara minimalis di bagian bawah bingkai, dikombinasikan dengan pengaturan dial yang intuitif dan pengoperasian satu tangan, sehingga fotografer dapat lebih fokus pada proses kreatif.
Fujifilm X-E5 resmi dijual di Indonesia dan dapat dipesan melalui sistem pre-order. Kamera ini dibanderol dengan harga Rp24,888,000 untuk varian body only, dan Rp28,888,000 untuk paket Kit dan Lensa XF23mm.
"Bagi Fujifilm, inovasi bukan sekedar menghadirkan teknologi baru, tetapi menciptakan alat yang menginspirasi para kreator visual untuk bercerita. X-E5 dirancang untuk memberi kebebasan berekspresi, memadukan portabilitias dengan performa tinggi agar setiap fotografer dapat mengabadikan momen dengan kualitas terbaik," ujar Masato Yamamoto, President Director Fujifilm Indonesia.
Ya, begitulah sekelumit menjajal kamera besutan Fujifilm teranyar.