INDUSTRY.co.id - Surakarta – Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia bersama para duta besar negara anggota Uni Eropa menjalin kerja sama erat dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui program SWITCH-Asia Low Carbon Rice Project. 

Advertisement

Kolaborasi ini sebagai bagian upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus menanggulangi kiris iklim dengan mendorong produksi beras yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Pertemuan bilateral antara Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia H.E. Denis Chaibi dan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi digelar di Kantor Wali Kota Surakarta, Senin (1/7/2025). 

Advertisement

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Wali Kota Surakarta Respati Ardi dan menjadi bagian dari kunjungan rombongan Uni Eropa ke berbagai daerah penghasil beras seperti Surakarta, Madiun, dan Surabaya.

SWITCH-Asia merupakan program unggulan Uni Eropa dalam mempromosikan konsumsi dan produksi berkelanjutan (SCP) di kawasan Asia, Timur Tengah, dan Pasifik. Di Indonesia, fokus proyek ini adalah transisi penggilingan padi dari mesin diesel ke energi listrik yang lebih ramah lingkungan, serta pendampingan terhadap 150 penggilingan padi di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Advertisement

“Proyek ini adalah bukti bahwa aksi iklim dan pembangunan ekonomi bisa berjalan beriringan. Di Jawa Tengah, kami melihat langsung dampak positif dari praktik berkelanjutan: emisi yang menurun, ekonomi desa yang lebih kuat, dan kerja sama yang semakin erat antara Indonesia dan Eropa,” ujar Duta Besar Denis Chaibi.

Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa Jawa Tengah memiliki peran penting dalam produksi beras nasional, dengan kontribusi sebesar 18% dari kebutuhan beras Indonesia. Provinsi ini juga menjadi rumah bagi berbagai proyek strategis nasional.

Advertisement

“Kami membuka pintu bagi investasi di sektor swasembada pangan, ekonomi hijau, dan pariwisata. Pemerintah Provinsi siap mengawal perizinan serta memberikan insentif pajak untuk proyek-proyek ekonomi hijau,” tegasnya.

Beberapa kabupaten seperti Klaten, Sragen, dan Boyolali menjadi lokasi percontohan proyek, di mana penggilingan-penggilingan padi mulai beralih ke praktik hemat energi dan meningkatkan rantai nilai pertanian setempat.

Sebagai tuan rumah pertemuan, Pemerintah Kota Surakarta menunjukkan komitmennya dalam mendorong pertanian rendah karbon yang sejalan dengan visi pembangunan kota yang inklusif dan berkelanjutan.

“Kami yakin proyek ini mendukung transformasi sistem pangan yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Melalui pendekatan berbasis teknologi dan pemberdayaan masyarakat, Solo ingin memperkuat posisi dalam jejaring kerja sama global,” kata Wali Kota Respati Ardi.

Setelah kunjungan di Surakarta, rombongan Uni Eropa melanjutkan perjalanan ke Madiun untuk melihat langsung implementasi proyek di lapangan dan berdialog dengan kelompok petani lokal. Agenda ini akan ditutup dengan pertemuan bersama Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, guna membahas ketahanan dan keberlanjutan pangan pokok nasional.

Sejak diluncurkan, SWITCH-Asia telah mendanai lebih dari 150 proyek di 42 negara dengan melibatkan lebih dari 500 mitra dan mendukung 80.000 UMKM. Di Indonesia, program ini diimplementasikan oleh Preferred by Nature bekerja sama dengan PERPADI dan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP).