INDUSTRY.co.id - Batam- Bank Indonesia mencatat, perlambatan ekonomi yang cukup signifikandi Kepulauan Riau pada triwulan II/2017 memicu angka kredit bermasalah atau non performing loan hingga mencapai 3,15 persen.
"Perlambatan ekonomi pada triwulan laporan memicu kenaikan kredit bermasalah sebesar 3,15 persen dibanding triwulan sebelumnya 2,35 persen," kata Kepala Perwakilan BI Kepri Gusti Raizal Eka Putra di Batam, Jumat (11/8/2-17) Meski naik, tingkat NPL masih pada batas aman 5 persen.
BI juga mencatat Loan to Deposit Ratio Kepri sebesar 78,21 persen, menurun dibanding triwulan sebelumnya 78,87 persen.
Selain NPL, perlambatan ekonomi juga mempengaruhi pertumbuhan tahunan transaksi tunai dan non tunai yang menurun. Total outflow aliran ke luar bi Rp3.768 miliar, menurun 0,44 persen (yoy), demikian pula inflow Rp518 miliar, menurun 30,52 persen (yoy).
"Secara total, Kepri mencatatkan net outflow Rp3.343 miliar," kata dia.
Transaksi kliring juga melambat lebih dalam ada triwulan II 2017. Nominal transaksi kliring sebesar Rp3.529 miliar, menurun 36,18 persen (yoy) dengan jumlah warkat sebanyak 109.104 lembar, menurun 24,14 persen (yoy).
Sementara itu, di tengah perlambatan ekonomi, BI mencatat kinerja perbankan Kepri, bank umum dan BPR, tetap kuat, tercermin penguatan aset, DPK dan kredit.
"Total kredit tumbuh 3,87 persen (yoy) dibanding pertumbuhan triwulan sebelumnya 2,93 persen (yoy)," kata Gusti.
Penguatan kredit khususnya pada kredit investasi, sejalan aktivitas non bangunan yang relatif tetap kuat.
DPK menguat 7,6 persen (yoy) dibanding pertumbungan triwulan sebelumnya 6,93 persen (yoy).
Penguatan DPK khususnya pada jenis giro dan deposito, mengidikasikan di tengah surplus pendapatan pada masa Lebaran, pembagian THR dan gaji ke-13, masyarakat cenderung menghemat pengeluaran belanja dan menahan dananya di bank. Sedangkan total aset menguat 6,93 persen dianding triwulan sebelunya 6,11 persen.(Ant)