INDUSTRY.co.id - Jakarta- Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyoroti kinerja pertumbuhan ritel di semester I-2017 yang sebesar 3,7 persen menurut data Nielsen, sementara rata-rata pertumbuhan ritel di tahun-tahun sebelumnya tercatat mencapai 11 persen.
"Pertumbuhan konsumsi produk sehari-hari setiap tahun adalah kurang lebih 11 persen, tapi di semester I-2017 hanya 3,7 persen," kata Wakil Ketua Umum Aprindo Tutum Rahanta ditemui usai diskusi "Anomali Perekonomian Indonesia" di Jakarta, Rabu (9/8/2017)
Tutum mengatakan pertumbuhan realisasi penjualan ritel di semester II-2017 sulit untuk melebihi kinerja di semester I-2017 yang telah mengalami momen puasa, Lebaran, dan liburan sekolah.
Menurut dia, terdapat tiga momen dalam satu tahun yang menjadi puncak konsumsi atau belanja masyarakat, yaitu Lebaran, Natal-Tahun Baru, dan liburan sekolah.
"Puncak orang belanja ada di semester yang ada di puasa dan Lebaran. Jadi menurut saya, semester II tidak bisa lebih bagus dari yang ada puasa dan Lebaran. Kecuali ada 'miracle'," kata dia.
Tutum sendiri memperkirakan pertumbuhan realisasi penjualan di sektor ritel sepanjang 2017 mampu mencapai 7-8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Ia berpendapat promo yang diberikan menjelang peringatan Hari Kemerdekaan serta momen Natal dan Tahun Baru di akhir tahun dapat menjadi faktor pendorong pertumbuhan sektor ritel di semester II-2017.
"Kami hanya memberikan informasi apa yang terjadi setelah Lebaran. Kami ingin memberikan 'alert' kepada pemerintah," kata Tutum. (Ant)