INDUSTRY.co.id , Jakarta - Penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) Non-subsidi Bank Tabungan Negara (BTN) tumbuh 11,09% yoy dari Rp57,15 triliun pada kuartal II/2016 menjadi Rp63,49 triliun di periode yang sama tahun ini.
Sementara, per Juni 2017 KPR Subsidi Bank BTN naik 28,34% yoy dari Rp49,86 triliun menjadi Rp63,99 triliun. Pertumbuhan KPR non subsidi paling tinggi terjadi pada kredit rumah dengan kisaran harga Rp300 juta - Rp350 juta.
Managing Director Consumer Banking Bank Tabungan Negara (BTN), Handayani menyebut, debitur KPR non subsidi tersebut jumlahnya paling besar, dan memiliki market yang lebih 'suistanable'.
Handayani menambahkan, dari sebesar 51% debitur KPR subsidi dan 49% KPR non subsidi, ada 45% KPR non subsidi dengan nilai Rp300 juta - Rp350 juta.
"Kalau kita lihat KPR subsidi dan nonsubsidi 51% berbanding 49% nah 45% dari non subsidi itu yang KPR Rp350 juta," ungkapnya di Kantor Pusat Bank BTN, Jakarta, Senin (24/7/2017).
Ia menuturkan, penyebabnya adalah debitur merupakan 'first owner' dengan penghasilan antara Rp7 juta hingga Rp15 juta.
"Mereka first owner, biasanya pasangan yang baru menikah dan pengembang juga sangat agresif bangun yang harganya segitu," ungkapnya.