Dunia Perketat BPA pada Kemasan Pangan-Air Minum, Indonesia Kapan?

Oleh : Hariyanto | Jumat, 15 September 2023 - 10:42 WIB

Ilustrasi BPA Free
Ilustrasi BPA Free

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Secara global, banyak negara di dunia makin memperketat regulasi dan penggunaan senyawa berbahaya Bisfenol A (BPA) untuk campuran dalam kemasan plastik makanan dan minuman. Kapan pemerintah, dalam hal ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), melakukan hal yang sama?

Sinyal positif bahwa Indonesia pada akhirnya akan mengikuti tren dunia, agaknya sudah ditunjukkan oleh perwakilan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam sebuah acara diskusi di stasiun televisi MetroTV di Jakarta, baru-baru ini.

“Isu BPA ini bukan lagi isu nasional, tapi sudah jadi isu global,”  kata Anisyah, Direktur Standardisasi Pangan Olahan BPOM, saat wawancara dialog bertema 'Urgensi Pelabelan BPA pada Galon Polikarbonat Bermerek',  pada sebuah acara di MetroTV Jakarta beberapa waktu lalu.

Lebih jauh lagi, Anisyah menyebut tren sejumlah negara telah merevisi regulasi yang sebelumnya dinilai masih kurang ketat. Hal ini dilakukan, sejalan dengan sejumlah temuan riset terbaru tentang BPA, yang menyebut  besarnya risiko bahaya BPA  terhadap kesehatan manusia.

Ia mencontohkan pengetatan regulasi di Uni Eropa (UE) yang pada 2011 menetapkan batas migrasi BPA sebesar 0,6 PPM, tetapi pada 2018 justru direvisi dan diperketat jadi semakin rendah di level 0,05 PPM. 

Pada 2022 dan 2021, Thailand dan Mercosur (negara-negara Amerika Selatan seperti Argentina, Brazil, Paraguay dan Uruguay) juga sudah mengubah  batas maksimum migrasi BPA  jadi makin rendah hingga sebesar 0,05 PPM. Artinya, risiko kontaminasi BPA dari kemasan pangan atau minuman ke produk yang diwadahinya, sudah dianggap sangat berbahaya dan harus dihindari.  

Bahkan, kata Anisyah, Eropa sudah bertindak lebih jauh. Bukan cuma memperkecil batas migrasi BPA, Eropa juga secara drastis menurunkan angka asupan harian (total daily intake/TDI) pada asupan tercemar BPA yang dikonsumsi manusia setiap hari.

“Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) sudah melakukan penilaian ulang terhadap TDI atau asupan harian yang bisa ditoleransi terhadap BPA,” kata Anisyah. 

“Semula pada 2015, EFSA menetapkan TDI untuk BPA sebesar 4 mikrogram per kilogram berat badan per hari. Namun, pada April 2023 lalu, sudah ada pemberitahuan dari EFSA bahwa TDI yang baru sudah ditetapkan dengan nilai 0,2 nanogram per kilogram berat badan per hari. Ini artinya, nilai TDI yang baru ini 20.000 kali lebih rendah,” katanya. 

“Jadi, asupan harian (BPA) yang bisa ditoleransi menjadi lebih ketat. Ini salah satu yang melatarbelakangi kenapa kami juga melakukan penilaian ulang terhadap regulasi yang ada,” kata Anisyah. 

Menurut Anisyah, BPOM bisa melakukan penilaian ulang terhadap regulasi sebelumnya, karena mempertimbangkan dampak kesehatan dan risiko terjadinya pelepasan BPA selama proses distribusi. Selain itu, juga diperkuat dengan hasil temuan BPOM pada 2021-2022, yang menunjukkan terjadinya peningkatan migrasi BPA pada kemasan galon isi ulang yang cukup signifikan. 

“Ini cenderung mengkhawatirkan. Karena hasil ujinya ini ada di kisaran 0,05 sampai 0,6 PPM, ini cukup tinggi. Ada juga yang sudah melebih ketentuan yang ada di atas 0,6 PPM. Ini menjadi dasar kami melakukan review,” katanya. 

Di Indonesia sendiri dalam Peraturan BPOM No. 20 tahun 2019 tentang Kemasan Pangan, batas migrasi BPA di dalam kemasan galon isi ulang polikarbonat belum direvisi, yakni masih di level 0,6 PPM. Di banyak negara lain, batas maksimum migrasi BPA sudah direvisi menjadi lebih rendah, yakni 0,05 PPM dari semula 0,6 PPM. 

Bercermin pada EFSA yang telah mengambil kebijakan sangat ketat, panel ahli mereka menyimpulkan bahwa orang dari semua kelompok usia, termasuk anak-anak kecil, berisiko terhadap kesehatan akibat BPA dari makanan atau minuman. BPA, yang diketahui meniru hormon estrogen dapat bocor dari kemasannya, sehinggga berdampak serius terhadap kesehatan dan lingkungan.

Setiap hari, jutaan orang terpapar BPA melalui produk konsumen yang lazim digunakan. Zat ini diproduksi dalam jumlah besar dan banyak digunakan untuk memproduksi barang seperti dispenser air, wadah penyimpanan makanan plastik, dan galon/botol air minum plastik yang dapat digunakan berulang-ulang. 

Namun, mirip dengan di Indonesia, produsen BPA di Eropa juga melakukan perlawananan. PlasticsEurope, misalnya, telah mengajukan lima prosedur hukum untuk menantang keputusan Badan Kimia Eropa (ECHA) dalam mengklasifikasikan BPA sebagai SVHC (zat kimia berisiko tinggi) karena sifat pengganggu endokrinnya. Tetapi perlawanan ini selalu kandas di Pengadilan Eropa.

Bagusnya, opini yang muncul  kemudian memukul para pengusaha itu sendiri, karena mereka bisa dituding sebagai penghambat regulasi pemerintah, bahkan sebagai pelanggar hak asasi manusia (HAM). 

Dengan kata lain, seperti dikutip dari EDC Free Europe Org, mereka menghambat regulasi, atau sengaja melakukan pembiaran karena menyebabkan  manusia dan lingkungan terpapar zat pengganggu endokrin berbahaya seperti BPA. 

“Mereka bisa disamakan dengan  melanggar hak asasi manusia inti, seperti hak atas kehidupan dan kesejahteraan, hak setiap anak untuk memiliki awal yang terbaik dalam kehidupan, tumbuh dengan sehat, dan berkembang secara penuh sebagaimana diakui dalam Konvensi Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa Pasal 6 dan 24,” papar lembaga beranggotakan 70 organisasi yang peduli pada bahaya zat kimia pengganggu endokrin, dan kesehatan konsumen di seluruh Eropa tersebut.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) secara resmi membuka Pameran Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau Jakarta Fair Kemayoran (JFK) tahun 2024, Rabu (12/06/2024). (Foto: Humas Setkab/Rahmat)

Kamis, 13 Juni 2024 - 11:35 WIB

Buka PRJ 2024, Jokowi: Event Ini Ditunggu Masyarakat

Jakarta-Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) secara resmi membuka Pameran Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau Jakarta Fair Kemayoran (JFK) tahun 2024, Rabu (12/06/2024), di Arena JI-Expo Kemayoran, Jakarta.

PT Metropolitand Land Tbk. (Metland)

Kamis, 13 Juni 2024 - 11:34 WIB

Naik 5,64%, Metland Sukses Bukukan Laba Bersih Sebesar Rp418 Miliar Sepanjang Tahun 2023

PT Metropolitan Land Tbk (Metland) sukses mencatat laba bersih sebesar sebesar Rp418 miliar sepanjang tahun 2023. Angka tersebut meningkat 5,64% dari periode yang sama tahun lalu.

Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto

Kamis, 13 Juni 2024 - 11:31 WIB

Panglima TNI Tegaskan Prajurit Main Judi Online, Siap-Siap Dapat Sanksi

tubuh TNI sudah ada aturan atau mekanisme penghargaan (reward) dan hukuman (punishment) bagi prajurit. Jika bertindak di luar aturan, prajurit akan diberikan hukuman yakni hukum, sedangkan berprestasi…

Konferensi pers, “Percepatan Pembangunan Perumahan Rakyat melalui Operasionalisasi Badan Percepatan Penyelenggaraan Perumahan (BP3)

Kamis, 13 Juni 2024 - 11:25 WIB

The HUD Institute Desak Pemerintahan Prabowo-Gibran Segera Eksekusi Kelembagaan BP3

Ketua Majelis Tinggi The HUD Institute, Andrinof A. Chaniago menyebut bahwa kelembagaan Badan Percepatan Penyelenggaraan Perumahan (BP3) harus segera dieksekusi. Dan keberadaannya menjadi …

BASF Indonesia gelar 'Construction Sustainability Day'

Kamis, 13 Juni 2024 - 11:17 WIB

BASF Gelar ‘Construction Sustainability Day’: Dorong Kolaborasi untuk Masa Depan Konstruksi Berkelanjutan di Indonesia

BASF menyelenggarakan ‘Construction Sustainability Day’, sejalan dengan misi BASF, yaitu “we create chemistry for a sustainable future” atau "kami menciptakan kimia untuk masa depan…