INDUSTRY.co.id - Jakarta - Dalam kaitan antara peningkatan IKI dengan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) industri, Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan tantangan yang saat ini masih dihadapi di bidang SDM antara lain tingkat pendidikan usia produktif di Indonesia masih didominasi oleh lulusan pendidikan menengah ke bawah. Selanjutnya, terdapat sekitar 4,45 juta pencari kerja baru setiap tahun dari berbagai sektor. 

“Kemudian, data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2022 menunjukkan terdapat 8,42 juta pengangguran, sedangkan sektor industri manufaktur membutuhkan setidaknya 682 ribu orang pertahun yang belum seluruhnya terpenuhi, akibat adanya mismatch antara kompetensi lulusan pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha industri,” kata Menperin Agus dalam kunjungan dan kuliah umum di Universitas Andalas, Padang (4/9/2023).

Rendahnya daya saing SDM industri juga menjadi isu utama pembangunan industri nasional. Hal ini disebabkan oleh rendahnya tingkat produktivitas tenaga kerja industri. Terlebih, disrupsi di sektor industri menuntut adaptasi yang cepat. Di samping itu, agenda sustainability yang melibatkan green technology, green industry, dan green economy, juga memberikan tantangan baru dalam penguasaan keahlian pada bidang-bidang yang dinamakan sebagai green jobs.

Karenanya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) membuka diri untuk menjalin kerja sama lebih lanjut, baik dengan akademisi maupun pemerintah daerah. Kerja sama tersebut bertujuan meningkatkan peran stakeholder dalam kolaborasi yang efektif untuk percepatan pembangunan industri nasional. 

“Banyak sekali yang dapat dikerja samakan, baik dalam hal pengembangan SDM melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI), penguatan mesin dan peralatan untuk mendukung hilirisasi di IKM, maupun melalui Badan Standardisasi Kebijakan dan Jasa Industri (BSKJI) untuk pengembangan teknologi, dan lain-lain,” terang Menperin Agus.

Juru Bicara Kemenperin sekaligus Staf Khusus Menteri Bidang Hukum dan Pengawasan Febri Hendri Antoni Arif mengungkapkan, IKI merupakan referensi untuk mengetahui kinerja industri manufaktur Indonesia. Akademisi dan para mahasiswa dapat menggunakannya sebagai referensi dan menyandingkannya dengan data PDB dari Badan Pusat Statistik. Dengan adanya data dari 23 subsektor, performa industri manufaktor dapat terlihat dengan lebih detail. 

“Sebelumnya, para investor memantau kinerja sektor manufaktur dengan menggunakan indikator lain, seperti Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur. Kemenperin membangun IKI agar mendapatkan indikator yang lebih detail,” terang Febri.

IKI terdiri dari tiga variabel penyusun, yaitu pesanan baru, produksi, dan persediaan produk. Febri menjelaskan, IKI dapat menjadi referensi terkait kondisi sektor industri, termasuk mengenai SDM industri. “Misalnya, bila salah satu subsektor sedang ekspansi maupun kontraksi, hal ini berhubungan dengan peningkatan serapan tenaga kerja,” jelasnya.

Kepala BPSDMI Kemenperin Masrokhan menjelaskan, Kemenperin menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam rangka menciptakan SDM industri yang terampil dan kompeten dalam rangka mendukung hilirisasi industri serta dapat membantu meningkatkan Indeks Kepercayaan Industri. 

Keunggulan sekolah dan politeknik vokasi industri Kemenperin dalam mencetak SDM kompeten adalah melalui penyelenggaraan pendidikan dual system dengan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) learning model berstandar global yang disesuaikan dengan kebutuhan industri sehingga siap kerja.