INDUSTRY co.id - Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut bahwa industri manufaktur masih konsisten menjadi sumber utama bagi pembentuk struktur PDB nasional. 

Advertisement

"Pengalaman negara lain menunjukkan bahwa industri memegang peranan penting untuk peningkatan PDB per kapita, contohnya Korea Selatan dan Singapura masih menunjukkan peningkatan share industri ketika sudah menjadi negara maju. Sementara share industri Indonesia mengalami tren penurunan setelah booming di tahun 2002," kata Menperin Agus dalam acara rapat kerja (Raker) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang digelar di Ritz-Carlton, Pacific Place Jakarta pada Jumat (16/6).

"Oleh karena itu, diperlukan peningkatan share industri melalui perbaikan struktur ekonomi dalam agenda transformasi ekonomi," tambahnya.

Advertisement

Dirinya mengatakan, dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035, Indonesia diharapkan menjadi negara industri tangguh. 

Adapun ciri-cirinya yakni memiliki struktur industri nasional yang kuat, berdaya saing global, serta berbasis inovasi dan teknologi.

Advertisement

"Hal ini yang akan diterjemahkan ke dalam program kerja serta target-target yang harus dicapai baik dalam jangka menengah maupun panjang," ungkapnya.

Menperin Agus menargetkan sektor industri pengolahan nonmigas mampu tumbuh sebesar 6,4% pada tahun 2025. 

Advertisement

Selanjutnya, kontribusi industri pengolahan nonmigas terhadap PDB juga ditargetkan sebesar 19,2% pada tahun itu. Sedangkan, kontribusi ekspor produk industri pengolahan nonmigas terhadap total ekspor sebesar 78% pada tahun 2025.

Meski demikian, dirinya memahami untuk mencapai target-target tersebut bukanlah hal yang mudah untuk dicapai. 

"Harapan saya, salah satunya yaitu kontribusi sektor industri terhadap PDB bisa kembali mencapai mendekati 20%, dan mimpi kita untuk menjadi negara industri tangguh dapat tercapai," tutur Menperin.

Dalam rapat kerja (Raker) tersebut, Menperin Agus menekankan bahwa kondisi industri dewasa ini perlu dijadikan perhatian bersama.

Resesi global diikuti dengan peningkatan inflasi, kebijakan moneter (suku bunga, Quantitative Easing dan Tappering) yang diambil The Fed untuk menyelamatkan perekonomian Amerika Serikat sebagai dampak perang Rusia-Ukraina menyebabkan terganggunya rantai pasok.

Meski demikian, kinerja industri manufaktur masih menunjukkan geliat ekspansi. Hal ini ditunjukkan melalui penilaian Purchasing Manager's Index (PMI) Indonesia yang selama 17 bulan berturut-turut menunjukkan ekspansi.

Begitu pula dengan Indeks Kepercayaan Industri (IKI), dari Januari hingga Mei 2023 masih dalam kondisi ekspansif, namun cenderung melambat.

"Di awal tahun 2023, PMI pun sebenarnya pada kondisi ekspansif, namun tidak se ekspansif tahun sebelumnya dan ada kecenderungan tumbuh melambat. Kondisi ini juga terjadi di negara-negara lain di ASEAN dan negara ekonomi besar dunia. Baik PMI maupun IKI, bisa menjadi alert kita bersama," tutup Menperin Agus.