INDUSTRY.co.id - Jakarta - Dampak dari Silicon Valley Bank yang runtuh beberapa waktu lalu dan disusul oleh guncangannya beberapa bank-bank besar dunia membawa efek domino bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia, terutama perusahaan rintisan yang beberapa waktu lalu mencoba bertahan dengan memutus hubungan kerja dengan karyawannya.

Advertisement

Tidak sedikit juga banyak perusahaan yang tidak sanggup lagi bertahan sehingga terpaksa harus menutup usaha yang dirintisnya.
 
Dunia perbankan tanah air menurut beberapa pengamat masih memiliki ketahanan dan tidak akan terlalu terimbas oleh tutup nya bank terbesar bagi perusahaan rintisan di negeri Paman Sam tersebut. 

Walaupun perbankan di Indonesia telah memiliki perangkat institusional yang lebih baik dan ditunjang oleh kebijakan pemerintah yang banyak belajar dari beberapa Krisis yang mengguncang Indonesia.
 
Dari era Krisis moneter 1997 dan baru baru ini krisis ekonomi yang disebabkan pandemi Covid-19 kurang lebih 2 tahun lalu. Namun, bukan berarti efek domino ini tidak segera menjalar ke Asia bahkan Indonesia.

Advertisement

Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang analitik SAS mengemukakan beberapa hal yang menyebabkan Silicon Valley Bank terguncang sehingga terpaksa harus menutup operasinya pada Jumat 10 Maret 2023 lalu, salah satunya adalah karena kurangnya antisipasi dan persiapan yang matang dalam manajemen risikonya, khususnya ketidakmampuannya untuk menghadapi risiko pasar yang timbul dari kenaikan suku bunga. Meskipun ada beberapa keadaan yang tidak biasa di balik kegagalan SVB.
 
Menurut Febrianto Siboro, Direktur Utama SAS Institute Indonesia, efek domino dari runtuhnya bank terbesar di Silicon Valley ini masih memberikan sentimen bullish bagi perbankan di tanah air. 

Dikatakan Febrianto, dengan analisis data yang akurat dan canggih yang mendukung manajemen neraca masing-masing perbankkan akan meningkatkan kelincahan dalam menyikapi situasi dan ketahanan terhadap manajemen perbankan itu sendiri.
 
Selain itu menurutnya, bank-bank Indonesia juga harus memanfaatkan analisis skenario secara ekstensif yang menyatukan semua data dari angka risiko dan keuangan, serta seluruh siklus produksi uji stres  ke dalam satu tampilan panel tunggal, terlepas dari apakah ini wajib.
 
“Data memberikan wawasan yang lebih baik dengan memberikan perbankan data yang lebih baik. Runtuhnya SVB, diikuti oleh Signature Bank, menunjukkan bahwa meskipun ada perubahan untuk meningkatkan stabilitas sektor perbankan sejak 2008, bank masih perlu waspada terhadap potensi kecelakaan,” jelas Febrianto.

Advertisement

Dirinya menegaskan pentingnya sebuah analitik data di dunia perbankan yang menghadapi situasi ekonomi tidak menentu saat ini.
 
Sebuah Analisis data canggih akan membantu bank mengantisipasi volatilitas indeks pasar saham terutama di belakang grafik harga saham perbankan yang menukik tajam dalam rentang waktu singkat. 

Dengan pandangan ke depan ini, bank dapat mengelola risiko dengan lebih baik dan mempertahankan kondisi stabil untuk menghilangkan kekhawatiran investor, badan pengawas, pelanggan, dan eksekutif bank.
 
Febrianto juga menegaskan sebuah Analisa data yang akurat juga bisa memberikan prediksi dari efek domino yang disebabkan kegagalan dari bank sebelumnya. Maka dari itu diperlukan alat yang memiliki akurasi tinggi. Karena dengan alat analisis data yang komprehensif dapat memberi manajemen neraca bank yang lebih canggih, memungkinkan aliran dana keluar dan masuk  harian dan arus kas ditangani dengan lebih percaya diri.
 
Dalam sisi kinerja Febrianto menjelaskan, beberapa teknis dan cara kerja SAS perusahaan yang Dinahkodainya, Ia menyebutkan solusi Asset & Liability Management (ALM) SAS menggunakan pendekatan berbasis asumsi untuk mensimulasikan 'bagaimana-jika?' dan menghasilkan pandangan terperinci dan berwawasan ke depan tentang arus kas, likuiditas, dan risiko suku bunga berdasarkan posisi statis saat ini serta simulasi neraca dinamis.
 
“Dengan menggunakan fungsi stress testing, sehingga sistem ALM SAS dapat memasukkan faktor makro-ekonomi internasional sebagai asumsi dan melihat dampak dari stress testing tersebut," ungkap Febri.
 
Sementara itu pengujian melalui penekanan sebuah kondisi sebagai data yang berfungsi utama sebagai kendaraan untuk pengawasan bank, analisis data berbasis skenario adalah alat yang berharga untuk perencanaan modal dan manajemen bisnis strategis. 

Advertisement

Secara sederhana bisa disimpulkan bahwa sebuah lembaga keuangan harus menyiapkan modal dari saham dan dana yang disimpan sebagai ketahanan terhadap risiko sehingga mudah untuk dicairkan, dan juga bank harus mampu mengelolah margin mereka di saat kenaikan suku bunga dan kondisi yang kondusif. 

Dikarenakan bank yang gagal tidak memiliki kemudahan atau dana yang siap untuk di cairkan, maka yang terjadi adalah lebih banyak bank tertatih-tatih menuju Ketika kondisi yang tidak menentu semakin buruk, maka dari itu penting untuk mempelajari data dari bank yang telah gagal untuk mendapatkan wawasan tersebut.