INDUSTRY.co.id - Saat ini metode pembelajaran yang diterapkan di Indonesia sebagian besar adalah Deductive Learning Method (DLM). Dalam banyak kasus, peserta didik terjebak pada menghafal bahan pembelajaran daripada memahami substansi pembelajarannya. Akibatnya lulusan sekolah kebingungan ketika dihadapkan pada persoalan nyata yang membutuhkan solusi.

Advertisement

Pembelajaran induktif (Inductive Learning Method = ILM), juga dikenal sebagai pembelajaran penemuan, adalah proses di mana peserta didik menemukan aturan dengan mengamati contoh. Hal ini berbeda dengan pembelajaran deduktif, dimana peserta didik diberikan aturan-aturan yang kemudian perlu mereka terapkan. Pembelajaran induktif mengajak peserta didik untuk masuk dalam dunia visual yang mereka jalani secara nyata dan bukan hafalan.

Sebagai contoh, pembelajaran di bidang pertanian, peserta didik diajak untuk memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Dari pengamatan tersebut dia akan mendapatkan banyak pelajaran (rule) tentang tanaman, mulai dari bibit, tanah, air, pupuk, hama-penyakit, rusak, bahkan mati. Hasil observasi berulang (belajar) akan memungkinkan peserta didik memahami bahkan bisa mencari solusi nyata yang tidak ada dalam buku teks.

Advertisement

Pembelajaran induktif berimplikasi pada cara belajar dan bobot sksnya. Misalnya mata pelajaran/kuliah pertumbuhan tanaman dengan bobot 4 sks (1/3), yang terdiri dari 1 sks tatap muka dan 3 sks praktek.

Pembelajaran induktif adalah strategi pengajaran yang menekankan pentingnya mengembangkan keterampilan pengumpulan-bukti dan berpikir kritis peserta didik. Dengan terlebih dahulu menghadirkan peserta didik dengan contoh bagaimana konsep tertentu digunakan, pendidik memungkinkan peserta didik untuk sampai pada kesimpulan yang benar. Idenya adalah bahwa peserta didik pada akhirnya akan melihat pola dalam contoh yang diberikan. Pembelajaran induktif bergantung pada kemampuan peserta didik untuk memperhatikan pola yang muncul dalam contoh-contoh atau masalah nyata yang disajikan instruktur.

Advertisement

Saya mengusulkan supaya Pendidikan tinggi kita, terutama dimulai dari Pendidikan vokasi untuk menerapkan pendekatan ILM ini dalam proses pembelajarannya. Mahasiswa terlibat langsung dalam proses pengajaran, yaitu 3 hari bekerja di pabrik atau perusahaan dan 1 hari belajar di kampus untuk membahas permasalahan atau kondisi nyata di lapangan dan kemudian dosen sebagai tutor membahas dari kacamata keilmuan. Konsep ini juga bisa dilaksanakan misalnya pagi sampai dengan sore siswa bekerja di industri dan malamnya secara online membahas permasalahan yang ditemui dan kaitannya secara keilmuan dengan dosennya.

Hal ini jika diterapkan akan mengurangi tingkat pengangguran lulusan Pendidikan vokasi karena mereka “hands on” dan terampil. Bahkan sangat mungkin siswa yang bagus akan direkrut oleh perusahaan sebelum mereka lulus atau langsung ketika mereka lulus nanti. Jadi lulusan Pendidikan yang menggunakan metode ini bukan lagi lulusan yang siap latih tapi siap kerja.

Advertisement

Siswa yang memiliki jiwa kewirausahaan juga ketika lulus nanti langsung bisa menjadi wirausaha ketika lulus nanti karena sudah memiliki pengalaman nyata dan skills yang dibutuhkan. Dengan demikian tingkat pengangguran, terutama lulusan vokasi akan bisa ditekan.

Industri juga akan diuntungkan dengan adanya supply tenaga kerja yang masih bisa dibentuk sesuai dengan budaya dan kebutuhan industri.

 

Oleh: Jony Oktavian Haryanto

Staf Ahli Bidang Inovasi Kemdikbudristek