INDUSTRY.co.id - Bekasi - Rektor President University (PresUniv) Prof. Dr. Chairy menyambut baik kehadiran Prof. Ki-Chan Kim Sebagai visiting professor, selama enam bulan kedepan di President University.
"Hadirnya Prof. Kim tentu akan semakin memperkuat iklim internasional yang sudah terbentuk di Presuniv. Selain itu, saya juga berharap Prof. Kim dapat mendorong Presuniv meningkatkan kegiatan penelitian dalam bidang manajemen dan entrepreneurship,' kata Prof. Chairy beberapa waktu lalu.
"Selain itu, saya juga berharap Prof. Kim dapat mendorong Presuniv meningkatkan kegiatan penelitian dalam bidang manajemen dan entrepreneurship," tambahnya.
Chairy menambahkan, selain sebagai akademisi, Prof. Kim juga banyak memberikan saran dan masukkan bagi sejumlah perusahaan rintisan (startup), pebisnis skala kecil dan menengah, serta perusahaan-perusahaan multinasional, seperti Samsung Electronics dan Hyundai Motors.
"Prof. Kim banyak memberikan saran kepada perusahaan-perusahaan tersebut tentang bagaimana cara membangun model bisnis dan ekosistem yang berkelanjutan. Konsep semacam ini bukan hanya menarik untuk dipelajari, tetapi juga sangat bisa diterapkan,” kata Chairy.
Prof. Ki-Chan Kim adalah Professor of Management di Catholic University of Korea, Korea Selatan, dan Distinguished Professor di George Washington University, Amerika Serikat.
Saat ini Kim juga menjabat sebagai Chairman Innovation Economy Division di National Economic Advisory Council (NERC), lembaga yang langsung bernaung di bawah Presiden Korea Selatan. Selain itu Kim juga menjadi President International Council for Small Business (ICSB).
Selama menjadi visiting professor, Kim mencermati betul strategisnya lokasi kampus Presuniv yang berada di tengah-tengah kawasan industri Jababeka, yang tercatat sebagai kawasan industri terbesar se-Asia Tenggara.
Di kawasan ini ada sekitar 1.750 perusahaan dengan skala kecil, menengah dan besar. Dan, ada pula perusahaan berskala nasional dan multinasional. Di antaranya adalah chaebol asal Korea Selatan, seperti Hyundai, Samsung atau LG.
Di sisi lain, seiring dengan perkembangan teknologi, terutama teknologi digital, yang berperan penting dalam Revolusi Industri 4.0, Kim menilai kawasan industri Jababeka layak untuk menjadi Silicon Valley-nya Indonesia.
Kim juga melihat Presuniv dapat memainkan peran penting untuk mendukung hadirnya Silicon Valley-nya Indonesia tersebut di Jababeka.
“Presuniv dapat memberikan dukungan dalam bentuk riset dan memasok talenta-talenta yang sejalan dengan kebutuhan Revolusi Industri 4.0," katanya.
Langkah itu sudah dilakukan Presuniv dengan berkolaborasi dengan Jababeka mendirikan Fabrication Laboratory atau FabLab. Kelak, FabLab akan berperan membantu perusahaan-perusahaan yang ingin migrasi dari Revolusi Industri 3.0 ke Revolusi Industri 4.0.
Selain itu, FabLab juga menjadi tempat bagi civitas academica di lingkungan Presuniv untuk belajar dan mengembangkan ide-ide inovasi yang selaras dengan Revolusi Industri 4.0.
Lebih lanjut, Kim mengatakan, sebagai visiting professor, dirinya berharap bisa ikut mengambil peran untuk menjadikan Presuniv sebagai kampus yang dapat memimpin dalam penerapan Artificial Intelligence (AI).
Selain itu, Kim juga ingin ikut bisa berperan untuk semakin memperkuat internasionalisasi Presuniv. Apalagi selama ini Presuniv sudah banyak merekrut dosen asing dan menyelenggarakan sistem perkuliahannya dengan menggunakan bahasa Inggris.
“Saya akan mendorong Presuniv untuk aktif melakukan kerja sama pada tingkat global baik dengan sesama universitas di luar negeri maupun dengan perusahaan-perusahaan asing,” papar Kim.
Bicara soal Humane Entrepreneurship, Kim menekankan tentang pentingnya peran Chief Executive Officer atau CEO.
“Dalam bisnis, CEO memiliki peran lebih dari 80%. Jadi, sangat penting bagi seorang CEO untuk memahami konsep dan penerapan dari Humane Entrepreneurship,' terangnya.
"Jika CEO bisa menerapkan konsep Humane Entrepeneurship, karyawan akan mampu mengeluarkan ide-ide terbaiknya dan meningkatkan keterlibatan di perusahaan. Jika karyawan mampu memberikan ide dan kinerja terbaiknya, perusahaan tentu akan mendapatkan hasil yang terbaik pula," tambah Kim.
Kim menguraikan, bisnis haruslah mengerjakan sesuatu yang baru dan ditujukan untuk menyenangkan banyak orang. "Agar bisa melakukan itu, bisnis harus dikerjakan dengan hati, dengan kemanusiaan. Jika tanpa hati, tidak ada rasa kemanusiaan, bisnis ibarat senjata," katanya.
Jadi, bisnis tidak boleh menjadi senjata. Itu sebabnya, tegas Kim, sekarang ini dunia sangat membutuhkan entrepreneurship yang mempunyai hati dan humanity. "Entrepreneurship yang hanya mengandalkan teknologi, tetapi tanpa hati dan kemanusiaan, itu bisa membuat bisnis menjadi senjata yang membahayakan," ucap Kim.
Kim juga menyampaikan pandangannya soal Humane Entrepreneurship dan Marketing 5.0. Konsep ini, urai Kim, mencoba menyintesiskan antara kemanusiaan, bisnis, dan pemasaran.
Ia menegaskan, pemasaran menjadi arah dan tujuan dari bisnis. Jika tanpa arah, kata Kim, sebuah perusahaan akan terombang ambing ke sana ke mari.
"Jadi, perusahaan harus mempunyai tujuan yang jelas. Kalau tidak, itu sama saja dengan membuang-buang sumber daya,' tegasnya.
Di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat, pemasaran harus berjalan beriringan dengan teknologi. “Pada era sekarang, penggunaan teknologi harus untuk high-touch marketing,” kata Kim.
Menggagas soal peran teknologi dalam Marketing 5.0, Kim menyebut salah satu buku terbaik yang membahas mengenai hal tersebut, yakni Marketing 5.0: Technology for Humanity karya Philip Kotler.
Menurut Kim, buku ini memberikan arah baru pemasaran di era teknologi. Hanya Kim menegaskan bahwa pada Marketing 5.0, pemasaran tetap harus diarahkan menuju kemanusiaan.