Membangun Industri atau Pabrik

Oleh : Redaksi | Kamis, 08 September 2016 - 16:38 WIB

Membangun Industri atau Pabrik
Membangun Industri atau Pabrik

Oleh: Adhi S Lukman, Ketua Umum GAPMMI

Dalam suatu acara dialog beberapa waktu lalu, pernyataan tokoh pengusaha Rachmat Gobel yang juga mantan Menteri Perdagangan menyadarkan peserta dialog. Pernyataan sederhana namun maknanya sangat dalam,  “Membangun Industri tidak sama dengan membangun Pabrik”.  Dijelaskan bahwa Pabrik dan Industri sama-sama terdiri dari  fisik lahan, bangunan, mesin dan peralatan, pekerja dan sarana lainnya, namun keduanya sangat berbeda. Apa bedanya?

Apabila direnungkan secara mendalam,  pernyataan diatas bisa menjadi dasar yang kuat dalam membangun konsep industri di Indonesia, yang mana ditengarai kontribusi sektor industri non-migas dalam PDB belum bisa melesat seperti yang diharapkan, yaitu masih bergerak disekitar 18 persen.  Padahal Indonesia telah mencanangkan peningkatan industri dan hilirisasi dalam rangka memperkuat struktur ekonomi. Pada tahun 2014 berhasil dilahirkan UU Perindustrian No. 3/2014 yang merupakan tonggak bersejarah dan modal dasar dalam pembangunan industri nasional. Sesuai UU tersebut, telah disusun Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035 yang disahkan melalui Peraturan Pemerintah RI No. 14/2015,  dimana  dirinci rencana induk dan aksi pembangunan industri nasional yang ditargetkan Indonesia menjadi Negara Industri tangguh pada tahun 2035 dengan tolok ukur kontribusi industri non-migas 30 persen terhadap PDB.
Konsep Industri

Perlu direnungkan, bagaimana melaksanakan RIPIN dan mencapai sasarannya, tentu ada kaitannya dengan pola berpikir antara membangun Pabrik atau Industri. Dalam membangun Pabrik, yang penting secara fisik ada input dan output dan proses pabrikasi bisa berjalan dan menghasilkan produk yang diinginkan.  Sedangkan Konsep Industri, semua input dan outputharus dipikirkan ketersediaannya secara berkelanjutan, berwawasan lingkungan hidup yang baik disertai adanya inovasi dan perbaikan secara berkelanjutan. Tidak hanya sekedar ada, dan bisa berproduksi saat ini. Demikian juga output produk juga harus direncanakan agar bisa diterima oleh konsumen berorientasi kepuasan pelanggan, aman, terjangkau, sesuai  regulasi yang berlaku, serta berdaya saing di pasar global.

Konsep Industri tersebut sebenarnya telah dirancang dalam RIPIN, dimana “Bangun Industri Nasional” harus mempunyai modal dasar yaitu Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, Teknologi, Inovasi dan Kreativitas. Menjadi penting bagaimana seharusnya modal dasar itu dipikirkan ketersediaannya, terkoordinasi serta keberlanjutannya agar tidak sekedar membangun pabrik saja.

Di sinilah peran semua pemangku kepentingan menjadi penting dalam membangun konsep industri, mulai dari Pemerintah , Pelaku Usaha, Akademisi bahkan sampai Konsumen. Mulai dari bahan baku, disiapkan konsep ketersediaan secara berkelanjutan dan tidak merusak lingkungan serta bisa diandalkan. Sumber daya manusia menjadi faktor produksi penting yang terus menerus harus dikembangkan kompetensinya, tidak hanya sekedar bekerja, namun memahami apa yang dikerjakan dan bahkan sampai tingkat menikmati  apa yang dikerjakan.

Proses produksi, mesin dan peralatan semua dikembangkan berbasis teknologi secara berkelanjutan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitasnya. Demikian juga selalu dipikirkan efisiensi pergerakan barang dan proses melalui “motion study“. Inovasi produk dilakukan secara terencana dan terus menerus untuk memenuhi permintaan pasar, demikian juga inovasi di semua lini mulai bahan baku, proses, sampai sistem pemasarannya.

Peran Pemerintah sangat penting dalam mendukung konsep Industri tersebut. Meskipun fungsi Pemerintah sebagai regulator dan pengawas, perannya dalam kebijakan sangat strategis. Misalnya dalam penyediaan bahan baku, pengembangan industri tidak bisa dipisahkan dengan pengembangan bahan baku di hulu seperti pertanian,kehutanan, kelautan, pertambangan dll. Bagaimana penyediaan lahan dan pembangunan di hulu disesuaikan dengan kepentingan industrinya, melalui upaya klusterisasi industri.

Konsep Ketahanan Industri (termasuk Ketahanan Pangan) harus mulai bergeser dari sekedar pembahasan swasembada; impor atau tidak impor, dll. Saat ini dunia mulai memikirkan konsep Global Value Chain (GVC) untuk mendukung industrinya, dimana semaksimal mungkin diupayakan bahan baku dari dalam negeri, namun tidak diharamkan impor. Yang penting bagaimana mendapatkan nilai tambah semaksimal mungkin di dalam negeri dengan memanfaatkan sumber daya  global  untuk memenuhi permintaan produk jadi di pasar global. Seperti dilaporkan oleh UNCTAD (2013), Indonesia termasuk Negara yang belum banyak memanfaatkan sumber daya global untuk memenuhi permintaan produk global bernilai tambah. Data tahun 2010, GVC participation rate Indonesia dibawah Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam. Malaysia dan Thailand sangat memanfaatkan GVC sehingga daya saing industrinya cukup kuat dan menikmati nilai tambahnya di dalam negeri .

Kolaborasi dengan Akademisi sangat penting dalam menjawab tantangan inovasi berbasis teknologi tepat guna dan sasaran. Inovasi berbasis kebutuhan sehingga hasil inovasi tidak mubazir. Dan tak kalah pentingnya, peran Konsumen dalam mendukung konsep industri dan tidak sekedar mencari barang murah namun kurang bernilai dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Peran Konsumen menjadi kekuatan dalam mendorong industri dalam negeri berkembang.

Ternyata, membangun Industri tidak sesederhana membangun Pabrik. Semoga pernyataan sederhana “Pabrik atau Industri” menyadarkan kita semua agar target Indonesia menjadi Negara Industri yang tangguh menjadi kenyataan.

 

Adhi S Lukman

  • Ketua Umum GAPMMI (Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia)
  • Anggota Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan (DKP) Indonesia
  • Ketua Komite Tetap Pengembangan Industri Pangan, KADIN Indonesia
  • Praktisi Industri Pangan

Source: Kompas

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Veolia

Senin, 24 Juni 2019 - 21:05 WIB

Veolia Water Technologies Establishes Asia Pacific Headquarters in Kuala Lumpur

Veolia Water Technologies, a leading solutions provider for both water and wastewater treatment, is pleased to announce the formation of its regional headquarters in Kuala Lumpur. The move from…

Suasana Konferensi Pers menyambut Harkopnas 2019 yang bakal diselenggarakan pada 12-14 Juli

Senin, 24 Juni 2019 - 20:59 WIB

Ini Alasan Harkopnas 2019 Diadakan di Purwokerto

Penetapan Purwokerto sebagai kota penyelenggara acara puncak Harkopnas 2019 adalah keputusan bernilai sejarah yang menarik.

Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde (Foto Dok Industry.co.id)

Senin, 24 Juni 2019 - 20:00 WIB

IMF: Perang Dagang AS-Tiongkok Tak Ada Pihak yang Diuntungkan

Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok tidak akan menguntungkan pihak mana pun dalam jangka panjang, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde…

Ilustrasi Ekspor (ist)

Senin, 24 Juni 2019 - 19:45 WIB

Pemerinah Bakal 'Nendang' Ekspor Lewat Insentif Fiskal

Pemerintah terus melakukan terobosan kebijakan yang dapat menggairahkan iklim usaha di dalam negeri sehingga turut memacu pertumbuhan ekonomi. Salah satu langkah strategisnya, yang dalam waktu…

LinkedIn

Senin, 24 Juni 2019 - 18:10 WIB

LinkedIn: Tiga Rising Skills Ini Pengaruhi Inovasi dan Transformasi Perusahaan di Indonesia

LinkedIn, jaringan profesional terbesar di dunia, meluncurkan Laporan Future of Skills 2019, yang mengidentifikasi 10 rising skills (peningkatan keterampilan) yang paling tinggi di antara…